Ternyata, Semut Bisa Rawat Teman Terluka

MEPNews.id – Bisa dipahami mengapa Nabi Sulaiman AS menghargai semut. Selain punya kekuatan fisik dahsyat, semut juga punya sistem sosial dan jaringan kerja yang sangat rapi. Belakangan, para ilmuwan pun terkesima saat mengetahui semut juga bisa memberi perawatan medis kepada teman yang terluka. Sejumlah semut bahkan mengoperasikan sistem triase untuk menentukan mana yang terlalu parah untuk diselamatkan.

Lewis Smith di i-News edisi 14 Februari 2018 mengabarkan, periset dari Universitas Würzburg, Jerman,  melakukan pengamatan terhadap semut Matabele sang pemburu-rayap. Hasil pengamatan ini mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa serangga bisa melakukan perawatan luka yang sangat efektif terorganisir secara sosial.

Semut yang sehat bertindak sebagai pembawa tandu untuk temannya yang cedera ke tempat aman untuk mendapatkan perawatan yang menyelamatkan nyawa. Mereka bahkan mematuhi aturan modern ‘waktu emas‘ pengobatan di mana pasien memiliki peluang pulih lebih baik dari cedera traumatis jika pengobatan dimulai dalam 60 menit pertama. Dengan mendapatkan perawatan medis, semut yang terluka punya peluang 70 persen lebih mungkin bertahan hidup daripada yang tidak mendapat pertolongan.

Semut dari spesies Megaponera analis ini bisa ditemukan di kawasan sub-Sahara sisi utara benua Afrika. Dalam kolom-kolom yang terdiri atas 200 – 600 individu, mereka biasa melakukan penggerebekan pada sarang rayap untuk mendapatkan makanan. Dalam penyerangan, tentu banyak semut Matabele terluka akibat perlawanan rayap tentara sehingga kehilangan satu atau lebih anggota badan.

Semut yang terluka ringan akan meminta bantuan dengan cara melepaskan feromon sebagai sinyal marabahaya. Semut-semut yang sehat segera mencari mereka yang terluka. Seperti tim tandu militer, semut-semut sehat membawa semut yang cedera kembali ke sarang. Setiba di sarang, luka mereka seperti dijilati berkepanjangan. Erik Frank, salah satu peneliti, mengatakan, “Kami rasa mereka melakukan ini untuk membersihkan luka. Bahkan mungkin mereka menerapkan zat antimikroba dengan air liur untuk mengurangi risiko infeksi bakteri atau jamur.”

Dalam kertas kerja laporan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B, para peneliti mengungkapkan, “Semut yang terluka sering dirawat secara langsung pada luka mereka dalam satu jam pertama hingga sembuh.”

Sementara itu, semut yang terluka parah misalnya kehilangan lima atau lebih anggota badan, ditinggalkan di medan perang untuk dibiarkan mati. Semut yang terluka parah ini mendiagnosa diri sendiri karena sudah tidak perlu lagi mendapat bantuan. Para periset menggambarkan ini sebagai bentuk triase, dan dengan sengaja mencegah teman-teman membawa mereka ke tempat yang aman. (*)

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.