Saya Ingin Anak Saya Menjadi Ahli Syariah

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —- Judul di atas, adalah kata kata seorang wali santri putri, alumni pesantren kita Pondok Pesantren Darul Istiqomah Bondowoso saat memasrahkan putrinya untuk dididik. Atau persisnya beliau mengatakan kepada saya, pak kyai, pekerjaan saya ini kepala sekolah dasar di daerah saya, dan anak saya ini juga sekolah di tempat saya, sehingga saya tahu bahwa anak saya ini di SDnya pintar dan selalu menduduki rangking pertama sampai lulus, sekarang saya serahkan kepada pak kyai, saya ingin anak saya menjadi ahli syari’ah.

Mendengar kata kata wali santri putri seperti itu, langsung deg dalam hati saya, dalam pikiran saya seakan wali santri itu menuntut kepada saya bahwa anaknya pintar dan saya harus menjadikannya pintar ahli syareat, kalau tidak pintar berarti saya yg tidak becus.

Saya menanggapi perkataan wali santri itu dengan tidak menampakkan emosi saya, saya menanggapinya dengan mengatakan bahwa yg diserahkan ini manusia bukan barang yg bisa dibentuk sesuka kita, sementara kalau manusia kita tidak bisa membentuk sesuka kita, semuanya masih ada kuasa dan tangan Alloh swt, maka orang tua harus selalu membantu dengan banyak berdoa dan yg tak kalah penting beaya untuk putrinya harus yg bersih dari harta yg halalan thoyyiban.

Saya dan Darul Istiqomah akan berusaha untuk mendidik dan mengajarnya agar menjadi yg diinginkan, namun sekali lagi semuanya masih tergantung pada perkenan Allah swt, maka doakan kita kuat menerima dan menjalankan amanat.

Alhamdulillah, ternyata dia benar benar seorang santriwati yg cerdas, tekun dan rajin, banyak membaca dan belajar, tidak pernah melanggar peraturan dan disiplin pondok, sopan, tidak macam macam, tidak neko neko kalau bahasa jawanya, sehingga dia bisa menyelesaikan pendidikannya di TMaI (setingkat sltp dan slta) Darul Istiqomah dengan lancar dan baik, dengan taqdir (predikat) mumtaz.

Setelah pengabdian setahun, dia masuk ke LIPIA, cabang Universitas Islam Imam Ibnu Saud Riyadl di Jakarta, langsung ke program takmili tanpa melewati i’dad lugowi, persiapan bahasa, loncat dua tahun.

Dia menyelesaikan strata satunya di fakultas Syari’ah LIPIA tepat waktu dan dengan taqdir (predikat) mumtaz, untuk kemudian menuntaskan hafalan qur’annya 30 juz setelah itu di sebuah ma’had tahfidz qur’an di Bogor.

Mungkin berkah dari hafalan qur’an setelah itu dia menemukan jodohnya dengan putra seorang kaya di kampungnya yg suka berinfaq dan wakaf termasuk wakaf kepada pesantren tahfidz yg didirikan oleh orang tuanya.

Saat ini selain menjadi ibu rumah tangga, dia aktif dalam dakwah dan mengasuh pesantren tahfidz yg didirikan oleh orang tuanya.

Semoga istiqomah.

Daris, 28 J Ula 1439

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.