Ketika Posisi Kita Berjarak

Catatan Oase 44 :

MEPNews.id —– Membangun Indonesia itu tidak bisa hanya Jawa saja, Kalimantan saja, atau Paua saja. Indonesia pernah memanjakan Timor timur dan melupakan yang lainnya. Apa yang terjadi? Papua bergolak teriak merdeka, begitu juga Aceh saat itu. Kini semua berada dipangkuan Indonesia, Kecuali Timor Timur.

Indonesia itu berada diantara Sabang sampai Merauke. Rakyat adil dan makmur yaitu rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Keadilan dan kemakmuran akan terwujud kalau diikat oleh nasionalisme. Gotong royong sebagai sebangsa dan setanah air.

Pada 17 Agustus 1962 presiden Soekarno pada pidato kepresidenan menyerukan tentang membangun karakter atau Character Building. Bung karno menjelaskan pembangunan karakter pada masyarakat Indonesia akan pentignya rasa nasionalisme. Pancasila sudah menjadi dasar negara indonesia sudah sepatutya kita menjalani nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila. Tidak boleh ada keganjilan, semua harus merata. Semua harus mendapatkan keadilannya. Keadilan tidak melihat jabatan tidak melihat uang tidak melihat saudara ataupun keluarga. Keadilan hanya melihat kebenaran.

Kekayaan dan kemakmuran berbeda, kemakmuran bersifat kolektif sedangkan kekayaan bersifat individulistik. Kemakmuran merupakan prospek dari keadilan. Kemakmuran pada masyarakat Indonesia pada saat ini sangatlah tidak ada karena keadilan di Indonesia masih belum bisa ditegakkan. Masih banyaknya kasus – kasus yang diselesaikan dengan tidak adil atau tidak menguntungkan. Aparat bersenggama dengan pemilik kuasa dan harta. Hukum tak lagi bisa merangkum kosa kata kebenaran dan keadilan.

Hari ini kudengar sesenggukan Soekarno… Menangis lirih sambil bersenandung :

Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersuasah hati
Airmatanya berlinang, Mas intan yang terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan…
Simpanan kekayaan ..
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa…

Kuberanikan bertanya : Ada apakah gerangan bapak ? Kenapa kelihatan bersedih? Dengan sedikit tersenyum beliau bergumam getir…. Bumi yang aku perjuangkan bersama para pejuang ini ternyata tak mampu memberi kemakmuran dan kebahagiaan… Lihatlah Papua yang kaya raya, tapi tak bisa menikmati, Asmat kurang gizi. Kemerdekaan yang aku perjuangkan bersama pendiri bangsa ini tak mampu mengantarkan kalian kepada kesejahteraan dan keadilan serta kemakmuran.

Betapa kalian lihat, kemerdekaan yang sejatinya memberi ketenangan, tapi teror dan pembunuhan terjadi dimana mana, ulama dan guru ngaji serta kyai dibantai, pendeta disengsara. Papua membara, rakyat hidup melarat, banyak anak tak sekolah, murid tak lagi menghormati gurunya, pelajar saling kejar dan hajar, korupsi merajalela, kebutuhan pokok serasa menohok, rakyat tak punya harapan, mereka saling cerca dan fitnah, rumah ibadah mereka jarah, tanah tanah Indonesia kalian jual ke para investor pembual. Lihatlah Jakarta, para pribumi tak lagi bisa bermimpi, Meikarta menggurita, ditopang penguasa serakah. Bukanlah seperti ini Indonesia yang merdeka itu. Kemerdekaan bukanlah sikap hidup bar bar dan tak berbudaya..

Kalian ini sejatinya bersaudara, kalian terikat oleh darah merah dan semangat putih, semangat merah putih. Tak ada jarak diantara kalian, kalian satu, satu tubuh, satu Indonesia. Kalian berjarak karena keadilan hanya kata kata, kemakmuran hanya slogan. Jarak dibuat karena mereka ingin menjarah, kalian lebih suka dengan kata aku dan kamu.

Kalau kalian Indonesia, semestinya tak adalagi posisi aku dan kamu, yang ada adalah kita. Indonesia adalah kita. Rasakanlah kalian adalah tubuh, seperti satu tubuh, ketika bagian yang satu sakit, maka yang lainnya juga akan terasa sakit. Kalian berjarak karena kalian tak lagi merasakan aliran merah putih. Jiwa dan raga kalian tak lagi merasakan nikmatnya ber Indonesia.

Sambil menatap tajam kedepan dan menengadah ke langit, Sang Proklamator bergumam lalu mengajak menyanyikan satu bait lagu :

Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama

Diakhir perjumpaan itu Sang Proklamator mengatakan : Kalau kalian ingin tidak berjarak, kalian lihat bagaimana itu Nabi dan sahabatnya, Nabi menjalankan prinsip keadilan yang terwarnai dengan nilai nilai Ketuhanan… Kalian punya itu…. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa… Kemudian beliau menutup dengan menyitir satu bait ayat :

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujurat [49]: 13)

Lalu beliau lanjutkan dengan menggambarkan kehidupan mukmin di zaman Rasulullah SAW : ” Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Assallammu’alaikum wr wb… Selamat pagi, selamat menjalani hidup tanpa prasangka dan menyatu sebagai saudara….. Semoga Allah selalu memberi jiwa kasih dan sayang kepada sesama… Aamiien

Surabaya, 13 Pebruari 2018

M. Isa Ansori

Pengajar di STT Malang, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.