Jangan Lupa Bahagia

By: M.Yazid Mar’i

MEPNews.id —-Konotasi yang ahir~ahir ini menjafi viral di medsos, dan di kaos – kaos dengan kental bahasa jenegoroan “ojo lali bahagia”. Dalam perspektif tasawuf memiliki beberapa konotasi; khasanah, sa’adah, sakinah, yaitu suatu kondisi kejiwaan yang tentram, tenang, dan lapang. Kondisi ini dapat didapatkan dari “qolbun salim”, hati yang lurus ~ terselamatkan, menyelamatkan, yaitu yang jauh dari sifat hasad, kabir, ujub, dan ananiyah.

Terkait hasad, Nabi menyatakan: jauhilah hasad, karena sesungguhnya hasad dapat melahap kebaikan, bagai api melahap kayu bakar. Mengapa? Karena hasad melahirkan kebencian, dan kebencian, melahirkan rasa demdam, dan dendam melahirkan permusuhan, dan permusuhan melahirkan kehancuran, bagai abu pembakaran kayu.

Terhafap sifat kabir, Allah menyebut dalam bentuk “nahi” larangan, janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan kepongahan dan kesombongan. Mengapa?karena kepongahan melahirkan kekuasaan yang menguasai tanpa kontrol kekuasaan tanpa kontrol, melahirkan sikap menginjak, membasmi, dan membunuh tanpa sisa.

Terkait ujub, Nabi melarang, mengapa? karena akan melahirkan sikap merasa bisa, merasa baik, merasa paling berjasa, dst. Lalu terkait ananiyah, ahli tasawuf membaginya menjadi: dholimun minallah, dholimun minan naas, dholimun min nafsih, aniaya pada Allah, aniaya pada manusia, dam aniaya pada diri sendiri.

Keempat Sifat turunan dari hati yang sakit inilah yang dalam konteks kekuasaan sering kali bergeser dari tugas manusia sebagai “kholifatullah”, wakil Allah dimuka muka, untuk melahirkan keseimbangan kosmos yang bernama keadilan.

Maka pancaran hati bahagia itulah, yang kemudian lahir motivasi kuat untuk membahagiakan orang lain. Inilah sesungguhnya tugas utama seorang pemimpin. Memberikan cinta kasih terhadap yang dipimpinnya.

Jika kondisi demikian terbentuk, maka sinergitas antara pemimpin dan yang dipimpin akan terjadi, dan inilah yang dalam konsep pemerintahan moderen disebut dengan state building atau from people by people and on the people.

Kalau bisa membahagiakan mengapa harus menyusahkan, kalau bisa mencintai mengapa harus membenci. jika hari ini bisa kita lakukan, mengapa harus menunggu. Kalau hari ini bisa kita wujudkan, mengapa harus berjanji.

Copipagi, refleksi pilkada Bojonegoro13022018

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.