Ideologi Bukan Faktor Utama Anak Gabung Kelompok Teroris

MEPNews.id – Jangan salah! Jangan asal tuding ideologi ini atau itu yang menyebabkan anak atau remaja bertindak ekstrim hingga bergabung ke kelompok yang dicap teroris. Ada penelitian ilmiah baru yang menantang ide konvensional bahwa ‘ekstremisme keras’ atau ideologi dominan mendorong anak-anak masuk dalam apa yang dicap sebagai ‘barisan teroris’.

Bahkan, sebagai mana dimuat EurekAlert! edisi 12 Februari 2018, rilis hasil penelitian oleh United Nations University, kelompok pemikir di PBB, malah memberi peringatan keras. Upaya kontra-teror berdasarkan asumsi keliru tentang motivasi ideologis anak-anak dan remaja gabung kelompok ekstremis sepertinya tidak akan efektif dan bahkan bisa menjadi bumerang.

“Dalam banyak kasus, ideologi tidak tampak sebagai faktor dominasi yang mengantar anak-anak dan remaja masuk ke kelompok bersenjata, bahkan masuk ke kelompok yang diberi label ‘ekstremis kekerasan’,” kata Dr Siobhan O’Neil, editor utama ‘Cradled by Conflict: Child Involvement with Armed Groups in Contemporary Conflict’ yang berdasarkan penelitian lapangan asli mengenai tiga studi kasus konflik.

tentara anak2

Image: Courtesy of Instagram@dilekkilic3059

“Bukti dari konflik di Suriah, Irak, Mali, dan Nigeria menunjukkan, bahkan dalam kasus di mana ideologi memainkan peran besar dalam lintasan anak menuju kelompok bersenjata, biasanya itu hanya salah satu dari sejumlah faktor yang memotivasi atau memfasilitasi. Tapi bukan faktor utama.”

O’Neil, pimpinan proyek Lead for the Children dan Extreme Violence, mengemukakan bahwa ideologi seringkali saling terkait dengan faktor penting lainnya termasuk faktor komunitas dan identitas. “Kelompok bersenjata semacam Boko Haram telah mencampur-adukkan faktor ideologi mereka dengan faktor penolakan negara terhadap orang-orang yang mengalami penindasan dan kekerasan oleh negara.”

Laporan penelitian Cradled by Conflict menunjukkan faktor-faktor lain yang ada di area konflik. Antara lain; keamanan fisik dan keamanan pangan, jaringan keluarga dan teman sebaya, insentif finansial, pemaksaan, dan daya tarik kelompok bersenjata. Faktor-faktor semacam ini menyediakan komunitas, identitas, dan status yang siap pakai untuk kaum muda.

“Masyarakat internasional memelihara pemahaman yang ketinggalan jaman dan tidak realistis tentang bagaimana kelompok bersenjata merekrut anak-anak dan menjaga keterlibatan mereka. Masyarakat internasional memelihara pemahaman yang keliru tentang bagaimana anak-anak meninggalkan kelompok bersenjata dan prospek mereka untuk reintegrasi dalam konteks yang tidak stabil,” lanjut O’Neil.

“Temuan ini memiliki implikasi signifikan terhadap kebijakan dan program yang ditujukan untuk menangani perekrutan, penggunaan dan penghentian anak dari kelompok bersenjata. Kesalahan interpretasi terhadap masalah yang dihadapi dapat mengakibatkan tanggapan program dan respon yang kurang sesuai, dan justru menyebabkan anak merasa terstigmatisasi dan kesal.”

“Kami memiliki tanggung jawab untuk menyesuaikan dengan lebih baik atas intervensi kebijakan dan program untuk mencegah perekrutan dan penggunaan anak oleh kelompok bersenjata. Anak-anak adalah sumber terbesar kami. Komunitas internasional dapat berbuat lebih banyak untuk memanfaatkan motivasi positif mereka dan melibatkan mereka sebagai mitra di jalan menuju perdamaian.”

Cradled by Conflict adalah puncak dari proyek penelitian dua tahun yang dipimpin Universitas PBB bekerja sama dengan UNICEF, Departemen Operasi Pemeliharaan Perdamaian (DPKO), dan pemerintah Luksemburg dan Swiss. (*)

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.