Cara Ilmiah Ini Bisa Ramalkan Perselingkuhan

MEPNews.id – Jika Anda penasaran dengan peluang perselingkuhan, penelitian baru ini mungkin dapat membantu. Dua studi longitudinal mengungkapkan beberapa faktor yang berkorelasi dengan ketidak-setiaan dan kesetiaan. Setidaknya, dalam jangka pendek.

Michelle Starr, dalam Science Alert edisi 13 Februari 2018, mengabarkan para periset dari Florida State University di Amerika Serikat lebih dari 3,5 tahun meneliti 233 pasangan baru menikah dalam dua studi. Mereka membandingkan kecenderungan perilaku tertentu dengan kesetiaan pasangan dari waktu ke waktu, dan apakah mereka kemudian masih bersama.

Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology, tim peneliti memusatkan penelitian pada dua proses psikologis yang dilakukan saat menilai calon pasangan romantis: ‘attentional disengagement‘ (pelepasan perhatian) dan ‘evaluative devaluation‘ (penurunan penilaian).

Attentional disengagement terjadi ketika ketika seseorang bisa mengalihkan perhatian dari sesuatu –yang dalam penelitian ini saat responden diperlihatkan gambar orang-orang menarik yang bisa saja dianggap sebagai pilihan romantis. Evaluative devaluation adalah secara mental ‘merendahkan’ standar calon pasangan romantis biarpun dia sangat memikat.

Kedua studi menilai attentional disengagement, dan studi kedua juga menilai evaluative devaluation. Dari situ, para peneliti memeriksa peluang ketidak-setiaan pasangan dan status hubungan mereka beberapa kali selama masa studi.

Tim yang dipimpin profesor psikologi Jim McNulty menunjukkan foto pria dan wanita yang sangat menarik pada masing-masing pasangan, serta foto-foto pria dan wanita yang biasa-biasa saja (walau tidak jelas bagaimana daya tarik itu diukur).

Hasilnya, pasangan yang biasa ‘melepaskan perhatian’ dari foto-foto menarik lebih sebentar daripada rata-rata hampir 50 persen lebih kecil kemungkinannya untuk tidak setia pada pasangan. Mereka yang melihat foto yang menarik lebih lama daripada rata-rata lebih cenderung tidak setia. Dengan ukuran kedua, orang-orang yang secara mental ‘menurunkan’ standar orang-orang yang menarik juga cenderung tidak setia pada pasangan.

Yang perlu dicatat, tidak satu pun dari perilaku ini disadari dengan sengaja. “Orang tidak selalu menyadari apa yang mereka lakukan atau mengapa mereka melakukannya,” kata McNulty. “Proses ini sebagian besar spontan dan tanpa rekayasa. Ini mungkin dibentuk oleh faktor biologis dan/atau pengalaman masa anak-anak.”

Meski bukan fokus penelitian, hasilnya juga mengidentifikasi faktor lain yang berkorelasi dengan kemungkinan perselingkuhan. Yang lebih muda, yang kurang puas dengan hubungan, dan yang punya kehidupan seksual memuaskan, ternyata juga cenderung tidak setia pada pasangan. Faktor terakhir ini mengejutkan. Namun, para peneliti berhipotesis, bisa jadi itu karena sikap lebih positif dan terbuka terhadap seks.

Daya tarik wanita juga berperan. Wanita yang kurang menarik lebih cenderung menipu diri sendiri –dan ditipu oleh suami. Sementara, daya tarik pria sepertinya tidak membuat perbedaan pada kemungkinan perselingkuhan.

Akhirnya, sejarah pengalaman seksual juga berperan. Pria dengan jumlah pasangan jangka pendek lebih banyak sebelum menikah lebih cenderung untuk tidak setia. Wanita dengan jumlah pasangan lebih sedikit sebelum menikah lebih cenderung tidak setia.

Meski demikian, tim peneliti hanya melihat sekumpulan kecil pengantin baru. Peluang keterandalan hasil penelitian ini belum sangat tinggi. Namun, setidaknya, hasil penelitian ini berpotensi membantu mencegah perselingkuhan sebelum terjadi.

“Temuan ini menunjukkan peran proses psikologis dasar dalam memprediksi perselingkuhan, menyoroti peran penting proses otomatis dalam fungsi hubungan, dan menyarankan cara baru untuk meningkatkan kesuksesan hubungan,” begitu simpulan mereka dalam kertas kerja.(*)

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.