Muhasabah Saat Umur Bertambah

khusnaOleh: Khusnatul Mawaddah

MEPNews.id – Ada beberapa catatan saat konsolidasi bersama ustadz-ustazdah Yayasan Bina Anak Sholeh (BAS) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Wejangan Ustadz Rowi, selaku pengurus yayasan, mengingatkan bahwa setiap detik ada pengawas yang tidak butuh dibayar, tegas mencatat amalan baik dan buruk tanpa istirahat. Pengawas itu malaikat. Selain itu, seluruh anggota tubuh kelak akan memberi kesaksian; sudah dipakai apa saja selama berkesempatan hidup di dunia.

Ada perkara yang tidak bisa ditolak oleh makhluk Allah meskipun manusia tersebut super hebat, terkenal dan mempunyai kemewahan. Perkara itu adalah kematian. Maka, selagi diberi kesempatan bisa bermanfaat untuk ummat, jangan terlalu perhitungan dengan tenaga. Sudah tahu sebagai ustadz dan ustadzah bertugas mengajar, namun jangan lupa harus juga peduli dengan lingkungan sekitar.

Ada sampah berserakan, jangan pura-pura tidak tahu. Ada sarana belajar rusak, jangan pura-pura tidak peduli. Ini wujud peduli lingkungan sekitar. Jiwa yang kita miliki semua adalah fitri. Jika jiwa terus dirangsang untuk peduli, maka akan terangkat kemulyaan dan nilai tambah diri. Bukankah Allah menjanjikan; “Barang siapa yang berilmu pengetahuan maka akan diangkat derajatnya.”

Seorang ustadz dalam bahasa Arab berarti pendidik yang ahli dalam bidang tertentu. Sudah tentu ia menjadi contoh tauladan muridnya. Jika sekolah menerapkan SOP sholat tepat waktu dengan berjamaah, maka seluruh ustadz wajib ‘ain ikut sholat berjamaah. Begitu juga ketika menerapkan SOP puasa Senin dan Kamis, maka ustadz juga ikut berpuasa.

Mengikuti wejangan pimpinan yayasan BAS Tuban, saya jadi teringat pada diri-sendiri. Terkadang, begitu mudahnya saya meremehkan kewajiban hamba terhadap Tuhannya. Umur semakin bertambah dalam hitungan tahun, namun berkurang dalam hitungan kontrak dengan Al-Kholiq. Saya semakin menyadari pentingnya mendengar wejangan kebaikan dari siapa pun.

Karena tidak tahu kapan atau di mana akan dipanggil Allah, maka mengumpulkan sebanyak-banyaknya amalan akan menolong rasa sesal dan kerugian saat kelak ditimbang di akhir yaumul kiyamah. Untuk mengumpulkan amalan ini, perlu sarana yang bisa mendukung tujuan tersebut. Antara lain berteman dengan orang yang baik-baik, mencari rizki di jalan halal, belajar tak kenal lelah, berjiwa dermawan, tawadhu’, selalu introspeksi diri, dan lain-lain. Sebagai manusia berilmu pengetahuan, sudah semestinya menggunakan ilmunya untuk sebanyak-banyaknya berinovasi agar semakin bermanfaat dan tidak sia-sia.

Sebagai muhasabah, saya masih harus banyak mendekatkan diri kepada Yang Mahamemberi, selalu berharap diberi kelapangan hati, kejernihan berpikir, selalu berharap dijauhkan dari sifat malas, kikir dan dengki, agar menjadi cermin anak-anak sendiri juga para santri dan wali santri. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.