Media Pribadi

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Hampir-hampir masing-masing orang kini telah memiliki akun media sosial pribadi. Karena pribadi, maka pemiliknya selalu punya naluri kepenguasaan untuk menggunakan media pribadinya itu untuk apa saja. Unggah gambar, video, hingga corat-coret apa saja di akun media pribadinya itu secara bebas.  Siapa saja bisa bikin blog atau website secara gratis. Sehingga berita apa saja atau opini apa saja bisa ditulis tanpa harus menunggu wartawan, tanpa harus ribut dengan sensor editing dan pagar kekuasaan dari pimpinan redaksi.

Begitulah jika kita mempunyai media pribadi atau apa saja jika sudah telah menjadi pribadi. Ide kita bisa tersalurkan dengan mudah. Kemauan ekspresi kita bisa berjalan dengan lancar. Kalau masih milik orang, maka tentunya menjadi wajar jika yang menguasai adalah pemiliknya. Mengenai boleh dan tidak boleh meskipun kita usul dan berargumen kayak apapun, tetap keputusan final boleh dan tidak bolehnya ada ditangan penguasa yang menguasainya alias pemiliknya.

Maka sebenarnya musuh kita bukanlah penguasa atau orang lain yang berada diluar diri kita sendiri, melainkan musuh kita yang justru harus lebih sering kita perangi terus menerus adalah diri kita sendiri ini. Bukan orang lain, penguasa, atau apapun. Penguasa atau orang lain itu sekedar administrasi sosial belaka. Ia bukan substansi. Silahkan penguasa ngawur karena kalau ngawur pasti hancur. Meskipun kemudian ada guyonan: “Tapi kalau ngawurnya dibikin kelihatan nggak ngawur kan nggak ada yang berupaya menghancurkan Bos. Dikiranya aman-aman saja Bos, meskipun ada undang-undang IT, hahahaha….”

Musuh kita itu misalnya kemalasan. Selalu merasa benar. Mental mudah menyerah. Serta ketidaksabaran dalam berusaha mencari jalan keluar dalam setiap permasalahan yang dihadapi. Ada teori yang menyatakan hendaknya kita bersabar dalam menghadapi masalah dan jangan pernah tidak melibatkan kuasa Tuhan dalam setiap masalah. Logika ya dipakai, kepandaian ya dipakai, la haula wa la quwwata illa billah juga dipakai. Pasrah dan bergantung kepada Allah juga dipakai. Intinya kebersamaan.

Media pribadi itu perlu, tapi bersamaan dengan itu kontrol sosial atas media pribadi itu juga perlu. Ngaji sendiri membaca Al-Quran di rumah itu perlu, tadarrus ngaji bersama saling meneliti bacaan Al-Quran juga perlu. Mantap dan percaya diri dengan diri sendiri itu juga perlu, mendengar masukan dari orang lain atau bercermin dari prilaku orang lain juga perlu, terutama lagi menyadari bahwa diri ini pasti banyak kelirunya daripada benarnya. Konsentrasi bahwa saya yang salah itu lebih perlu daripada terlalu melihat bahwa saya aslinya yang paling benar.

So, menengok peringatan Hari Pers Nasional beberapa hari yang lalu sesungguhnya mengajarkan kepada kita semua bahwa karena kita semua sekarang ini telah memiliki akun-akun media pribadi, maka setiap diri hendaknya jadilah Editing dan Pimred yang jujur dan handal, bermanfaat positif, serta tidak turut menyebarkan berita hoax, fitnah, adu domba, rekayasa dan seterusnya itu, karena toh musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. (Banyuwangi, 11 Februari 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.