Saat Nenek Membanjiri Anak dengan Mainan

esti thumbnailOleh: Esti Diah Purwitasari, guru Surabaya Grammar School dan penulis buku ‘Anakku Tak Lagi Pemalu.’

MEPNews.id – Suatu hari, ada ibu muda yang mengeluh pada saya soal mainan anaknya dan perilaku ibunya. Intinya, si anak sudah punya banyak mainan tapi si nenek masih mengirim banyak hadiah.

“Saya punya dua anak kecil, namun saya dan suami jarang beli mainan karena sudah kebanyakan. Kami berasal dari keluarga besar. Ketika ulang tahun anak, rumah kami dipenuhi mainan hadiah dari semua anggota keluarga,” kata ibu berusia 28 tahun itu.

Ia sebenarnya merasa sangat bersyukur memiliki keluarga dan teman yang menyayangi anak-anaknya. Ia juga menghargai saat mereka mengungkapkan perasaan sayang itu dengan memberi hadiah. “Namun, saya ingin pemberian hadiah mainan itu berhenti atau pada paling tidak melambat sejenak. Saya tidak ingin rumah jadi dipenuhi barang mainan. Saya juga tidak ingin nanti anak-anak memberi nilai pada hadiah secara material,” kata ia.

Nah, yang paling membuatnya riweuh, yang paling banyak menghadiahkan mainan itu justru ibunya sendiri alias neneknya anak-anak. Karena itu, ia belum berani berfikir membuang atau menyumbangkan kelebihan mainan karena masing-masing dihadiahkan nenek khusus untuk anak-anaknya.

Saya tak tahu bagaimana mengatasi dilema itu karena tidak tahu detail kondisi rumahnya, hubungannya dengan keluarga, atau hal-hal lain yang terkait. Saya hanya bisa dengar keluhannya dan sesekali memberi nasihat meski belum pasti itu menjadi jalan keluar yang tepat.

Ada beberapa poin yang saya sampaikan pada ibu yang dilanda dilema itu. Pertama, memang bijaksana untuk mengurangi jumlah mainan yang dimiliki anak-anak seiring dengan perkembangan mereka dan kondisi rumah. Namun, tidak mungkin –atau, setidaknya agak terkesan kasar– untuk memberi tahu orang tentang hadiah yang diberikan pada anak-anaknya.

Kedua, dan ini terkait hak mengelola rumah tangga sendiri, adalah sangat masuk akal untuk memastikan bahwa setiap hadiah kepada anak-anak harus melalui ia atau suaminya terlebih dahulu. “Pada saat itu, Anda bisa mengatakan pada si pemberi hadiah, misalnya; ‘Terima kasih hadiahnya, ya. Tapi, anak saya sudah punya mainan yang sejenis. Nggak apa-apa kan kalau nanti mainan ini saya sumbangkan?’ Sikap demikian ini agar mereka tahu kondisi Anda.”

Lalu, bagaimana dengan si nenek? Tentu saja dengan pendekatan yang lebih personal dan halus karena melibatkan hubungan parental. Harap disadari, saking besarnya cinta nenek pada cucu, kadang dilampiaskan secara berlebihan dengan menghadiahkan banyak mainan. Bahkan, kadang perhatian pada cucu ini terkesan berlebihan.

Saya nasihatkan, “Sebagai anak, tentu Anda jangan membantah kehendak ibu Anda. Namun, sebagai orangtua, Anda tentu lebih berhak menentukan apa yang terbaik untuk anak Anda. Maka, kuncinya adalah menyeimbangkan diri untuk dua peran itu sekaligus.”

Nah, saya sarankan dua pendekatan di atas tapi dengan perlakuan khusus karena ia berhadapan dengan ibunya sendiri. Pendekatannya itu lebih personal dan terkait unggah-ungguh. “Cari kesempatan untuk bicara dari hati-ke-hati namun dalam suasana gembira. Lalu, katakan pada Nenek untuk memberikan hadiah non-material saja. ‘Tak usah repot-repot bawa hadiah. Kedatangan Nenek saja sudah sangat menyenangkan cucu-cucu.’ Semoga Anda bisa mengendalikan hadiah mainan sambil tetap menghargai niat baik Nenek.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.