Restrukturisasi Pendidikan Agama di Sekolah

Oleh: M. Faruq Ubaidillah

MEPNews.id —- Membaca hasil survey SETARA Institute for Democracy and Peace (SIDP) yang dilakukan pada tahun 2015 lalu, membuat penulis skeptis terhadap pendidikan agama yang inklusif di sekolah umum. Survei SIDP ini mendapati fakta bahwa 8,5 persen siswa di sekolah negeri di Bandung dan Jakarta setuju dasar negara diganti dengan agama dan 9,8 persen dari mereka mendukung gerakan khilafah.
SIDP juga menemukan bahwa sekitar 31 persen materi agama yang diajarkan melalui buku teks Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak sesuai dengan nilai-nilai kebhinnekaan. Kendati sudah dua tahun dilakukan dan dalam konteks yang kecil, hasil penelitian di atas cukup merisaukan—untuk tidak mengatakan membahayakan.
Pasalnya, kondisi negeri yang pasang-surut oleh sikap intoleran sekelompok organisasi masyarakat saat ini bukan tidak mungkin akan menambah tingginya preferensi siswa sekolah umum dalam mendukung paham intoleran di Indonesia.
Dalam kasus demo berjilid-jilid di Jakarta beberapa waktu yang lalu, bukan tidak mungkin populisme Islam yang dibawa akan semakin mendapatkan simpati dari generasi sekolah menengah umum yang aktif dalam media sosial.
Memahami fakta di atas, pemerintah dalam hal ini Kemendikbud perlu melakukan restrukturisasi metode pengajaran agama di sekolah-sekolah umum. Langkah tersebut dapat diimplementasikan dengan menggunakan konsep pengajaran agama inter-religious yang disarankan Ahmad Munjib, dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sebagai dosen mata kuliah “World Religions” (Agama-Agama Dunia) pada Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies/CRCS) UGM, Ahmad Munjid telah banyak menuangkan ide tentang konsep inter-religious dalam pengajaran agama di sekolah umum.
Konsep inter-religious ini merupakan cara mempelajari agama lain menggunakan “pandangan”, “sikap”, “dialog” dan “kesediaan” menghargai agama yang sedang dipelajari tersebut. Dalam dunia pendidikan agama—selain inter-religious—juga dikenal konsep mono-religious dan multi-religious. Yang pertama adalah konsep pengajaran agama untuk “internalisasi” keyakinan dan memperkokoh identitas keimanan seseorang terhadap agama yang dianut. Yang kedua merupakan konsep pengajaran agama untuk tujuan pemahaman “deskriptif” terhadap agama lain.
Tentu ketiga konsep ini tidak saling kontra-produktif juga tumpang tindih. Namun, ketiganya memiliki manfaat masing-masing sesuai konteks penggunaannya. Konsep mono-religious, misalnya, lebih tepat dipraktikkan di pesantren dan seminari, sedangkan multi-religious digunakan untuk forum-forum diskusi deskriptif terhadap agama-agama lain.
Yang membedakan konsep inter-religious dengan keduanya adalah adanya “dialog” dalam mengenalkan agama-agama lain kepada siswa. Dengan kata lain, konsep inter-religious mengajak siswa untuk melihat praktik peribadatan orang berbeda agama dari kacamata agama orang tersebut kemudian secara bergantian menggunakan sudut pandang agamanya sendiri. Hal ini untuk mengklarifikasi, mendengar, berbicara, dan melihat langsung “keunikan” agama yang berbeda dan mencari kesamaannya secara umum.
Perlu dicatat bahwa konsep ini tidak untuk melahirkan “relatifisme” dalam agama, Melainkan agar siswa bisa menghargai cara orang lain beribadah dan membuang jauh-jauh prasangka-prasangka negatif yang dimiliki mereka. Selain itu, konsep ini dapat meminimalisir “klaim kebenaran” sendiri oleh komunitas agama tertentu.
Secara praktik, seorang siswa yang mempelajari agama lain perlu ikut melihat secara langsung dengan mendatangi tempat peribadatan orang yang berbeda agama dengannya dan melakukan dialog terkait praktik peribadatan tersebut. Sekali lagi, konsep ini digunakan agar rasa curiga terhadap agama lain dapat dieliminasi sejak dini.
Oleh karenanya, konsep inter-religious di atas patut untuk dipertimbangkan sebagai jalan keluar memecahkan fenomena radikalisme yang mulai masuk ke dalam sekolah umum di Indonesia. Pilihan yang mudah namun sulit dijalankan, bukan?
*Penulis adalah aktivis pendidikan, sosial dan agama, saat ini berdomisili di Denpasar, Bali. Email: mfubaidillah@gmail.com

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.