Komunikasi dalam Media Sosial

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id — Komunikasi di dalam media sosial (medsos) sering terjadi peristiwa salah paham (miscommunication) akibat pengguna akun medsos (users) cenderung berkomunikasi dengan level dirinya (divergent). Dalam kajian sosioliguistiks, istilah divergent adalah seorang komunikator (penyampai pesan) mendudukkan dirinya sendiri tanpa berbaur menyesuaikan dengan yang diajak komunikasi (communicants). Itu sebabnya, tidak jarang ada konflik atau paling tidak miskomunikasi.
Dalam sosiolinguitiks, ada istilah divergent dan convergent. Divergent adalah pada saat berkomunikasi, orang tersebut tidak memerhatikan pendengar atau anggota komunikasi (disourse community= baca komunitas wacana) secara umum. Akibatnya, bahasa yang dipakai cenderung bahasa bidang atau ciri posisinya. Jika dia berposisi lebih senior (high language= disingkat HL), maka pesannya cenderung kurang diterima di semua anggota komunitas wacananya. Bisa saja, orang terebut dikategorikan ja’im (jaga image).
Sebaliknya, istilah convergent, adalah jika orang tersebut dalam berkomunikasi, selalu mengikuti “irama” komunitas wacana. Dalam memilih kata, frasa, bentuk kalimat, ragam bahasa, serta nada (jika lisan), senantiasa mengikuti suasana pesikologis, budaya, sosial wacana komunitasnya (psychological atmosphere). Dengan bersikap seperti itu, dia bisa menyampaikan pesan apa saja bentuknya, isisnya, bahkan sampai pada sensitivitasnya, dengan mudah.
Ada yang menarik dalam kajian sosiolinguistiks, khusus dalam komunkasi khususnya di medsos dalam era masyarakat digital (digital society) zaman sekarang. Jika seorang anggota medsos yang heterogin (heterogeneus digital society) masih berpegang teguh pada prinsip keakuannya (superego), maka dia cenderung divergent dalam menyampaikan pesannya. Paling umum, dia bisa jadi sangat pasif. Kalau toh menyampaikan pesan, maka isi pesan cenderung singkat dan bahasanya tetap HL, berbahasa dengan posisi dirinya.
Covergent itu bisa dilakukan jika dalam domain komunikasi (communication domain) yang berbeda dengan media sosial yang heterogin.Misalnya seorang pimpinan (leader) ketika memberikan instruksi tugas. Seorang komandan memberikan perintah atau ceramah resmi di hadapan audiens, bawahannya yang homogin. Direktur menyampaikan pesan resmi kepada bawahannya. Domain-domain seperti itulah, divergent dapat dilakukan.
Penting pemahaman unsur-unsur communication domain, dalam sosiolinguitiks. Pertama, ada setting (misalnya medsos heterogin, kantor, jalan raya, terminal, seminar, diskusi, dan lain-lain), Kedua ada participants (misalnya, penjual-pembeli, dosen-mahasiswa, direktur-karyawan, tukang becak-penumpang, dan lain-lain), ketiga Topics (misalnya, pidato, ceramah, obrolan, transaksi jual beli, akad nikah, khutbah, dan lain-lain). Keempat, situation (misalnya, formal atau informal, kalau ini bergantung tiga unsur pertama itu).
Namun, jika domain itu sangat heterogin, maka sulit jika seseorang menggunakan sikap divergent. Akan lebih efektif dan gaul dengan menggunakan sikap convergent. Ini untuk mengurangi semua anggota yang mungkin posisinya lebih rendah yang terbiasa menggunakan “bahasa rendah’ (Low Langguage= disingkat LL). Bahkan, dalam proses belajar mengajar (PBM) di kelas, pesan yang disampaikan secara convergent itu wajib.
Misalnya saja, ketika seorang guru atau dosen mengajar mahasiswa S1, S2, dan S3 secara bergantian. Dosen ini harus bisa mengatur cara komunikasinya dengan pilihan kata (diction0 sesuai dengan komunitas wacana tersebut. Ketika dosen tersebut keluar kampus, dan berbakti sosial (pengabdian masyarakat) di desa-desa misalnya, maka dalam penyampaian pesannya kepada komunitas wacananya harus berubah total (convergent) dengan masyarakat yang dihadapi. Jika dia bersikeras berkomunikasi dengan gaya ketika mengajar mahasiswa S3, tentudia akan mengalami hambatan penyampaian pesan.
Kalau komunitasnya jelas, memang lebih mudah bagi komunikator yang terbiasa fleksibel (bisa divergent dan convergent). Namun, dalam medsos yang heterogin, itu agak susah. Itu sebabnya, tidak sedikit kita menemui anggota medsos (baca WA yang paling umum), itu kemudian meninggalkan grupnya (left). Bisa saja, isinya tidak cocok, atau bisa saja pesannya yang senantiasa disampaikan tidak ditanggapi sama sekali. Namun, tetap disadari bahwa komunikasi di dalam masyarakat digital yang heterogin itu lebih sulit dibandingkan dengan komunikasi nyata dengan jelas domainnya atau komunitas wacananya.
Jalan satu-satunya, jika kita dalam anggota grup medsos, adalah dengan cara klik info. Dari situ, kita tahu siapa saja anggota yanga ada. Kedua, kita pendengar saja sementara, kemudian kita baca semua posting (pesan) dari setiap anggota. Kemudian, kita amati seberapa tinggi kada heteroginitasnya. Semakin heterogin, maka semakin perlu sikap convergent agar bahasanya tidak terkesan Ja’im.
Patut kita akui bahwa komunikasi dalam medsos dengan mayarakat yang heterogin itu memang sulit. Namun, pemahaman tentang kajian sosiolinguitstiks ini mudah-mudahan dapat memberikan masukan. Yang penting, kita tidak menyampaikan pesan hoax, fitnah, dan sejenisnya. Selamat bermedia-sosial! ***
Penulis adalah Managing Editor dan sekaligus penngelola Penerbitan Jurnal dan Buku di STIE Perbanas Surabaya. Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER),  Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.