Hati-Hati

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —–Alumni pesantren kita Darul Istiqomah Bondowoso ini, saat masuk ke pesantren kita dulu langsung masuk klas 2 Tmi, pindahan dari salah satu pesantren alumni Gontor di Jember. Setelah tamat Tmi Darul Istiqomah, meneruskan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi suwasta di daerahnya Lumajang.

Saat kuliah dia diamanahi untuk merintis pendirian sekolah dasar kreatif oleh pengurus salah satu ormas Islam setempat. Semula banyak orang yg meragukan kemampuannya dalam merintis sekolah itu, namun seiring berjalannya waktu, dia bisa menyelesaikan kuliah strata satunya dengan baik, begitu juga sekolah dasar kreatif yg dirintisnya menjadi sekolah yg diminati oleh masyarakat, menjadi salah satu sekolah dasar favorit di kota kelahirannya.

Pada setiap awal tahun pelajaran baru setelah menjadi alumni Tmi Darul Istiqomah, dia mengirimkan beberapa calon santri dari kerabatnya ataupun keluarganya, orang sekitarnya, sekampung dengannya ke pesantren kita Darul Istiqomah.

Beberapa tahun sesudah menyelesaikan kuliahnya, seperti biasanya, tahun itu dia mengantarkan beberapa orang calon santri dan bertamu ke rumah saya. Dalam bincang bincang, dia mengatakan kepada saya bahwa sebenarnya dari kampungnya banyak yg ingin mondok di Darul Istiqomah, hanya mereka terkendala beaya dan jarak yg jauh, menurut anggapan mereka Darul Istiqomah itu jauh, maklum mereka itu dari desa di lereng gunung Semeru.

Mendengar itu, saya langsung berkata kepadanya, loh mengapa tidak kamu dirikan saja pesantren di situ, ayo bismillah dirikan pesantren di situ.

Dia pun mengatakan, terus terang ustadz, sebenarnya kakek saya dan bapak saya serta keluarga dan masyarakat saya mendorong saya untuk itu, bahkan sudah disiapkan tanah wakaf untuk itu, meski tidak lebar, tapi insyaallah perluasannya akan mudah.

La ya sudah, apa lagi seperti itu, sudah dirikan, soal pendidikan formalnya gampang, biasanya masyarakat menanyakan hal itu, bisa ikut dan menginduk ke sini.

Mulailah setelah itu dia mempersiapkan pendirian pesantren di desanya dengan meninggalkan sekolah dasar yg dirintisnya di kota dan tinggal di desanya yg cukup jauh dari kota, berada di lereng gunung Semeru sebelah timur. Dibantu oleh kerabat dan keluarga serta masyarakatnya membangun bangunan sederhana untuk klas, asrama, termasuk tempat tinggalnya dengan anak istrinya yg mengambil salah satu bilik gedung asrama dan klas itu.

Dan pada tahun berikutnya, pada tahun pelajaran baru, kira lima tahun yg lalu, mulailah menerima santri sebanyak kurang lebih 19 orang, dan kegiatan belajar mengajar serta proses pendidikan pengajaran berjalan, dengan dibantu guru pengabdian dari Darul Istiqomah dan beberapa alumni Darul Istiqomah. Setahun kemudian saya diundang untuk menghadiri acara peresmian pesantren yg didirikannya yg pada saat itu santrinya sudah bertambah kurang lebih lima puluhan orang, sekalgus meresmikannya, dengan disaksikan para undangan yg hadir saat itu, termasuk kepala desa, camat yg semestinya wakil bupati juga hadir, namun berhalangan hadir.

Alhamdulillah saat ini, di tahun ke lima, pesantren itu tetap eksis dan berjalan dengan baik dengan santri tidak kurang dari 140 orang.

Dalam suatu kesempatan menyampaikan testimoni pada acara yudisium khataman klas akhir TMI Darul Istiqomah, dia mengatakan bersyukur dan mempunyai banyak kesan saat nyantri, salah satunya saat berpamitan kepada saya setelah menyelesaikan pendidikannya, saya katanya mengatakan “hati hati” yg ternyata setelah keluar dari pondok, benar benar banyak mendapatkan godaan dan ranjau yg mengharuskannya berhati hati di dalam melangkah dan hidup.

Terus terang saya memang sering berpesan kepada santri santri saya saat akan keluar pondok, untuk berhati hati. Saya bermaksud dengan nasihat itu supaya mereka benar benar bertaqwa, karena taqwa itu seperti yg dikatakan oleh sahabat Umar bin Khattab ra saat ditanya seseorang apa arti taqwa. Beliau berkata pada orang itu, bagaimana pendapatmu, bila di depanmu ada jalan yg penuh onak dan duri, dan kamu harus berjalan di atasnya, bagaimana kamu berjalan. Tentu harus waspada dan hati hati. Begitulah taqwa itu.

Saya ingin mengatakan pada mereka bahwa dalam kehidupan ini banyak onak dan duri, banyak rintangan penggoda iman, yg kalau tidak hati dan waspada bisa tergelincir, bisa hilang iman atau paling tidak imannya akan tergerus.

Hidup ini sebenarnya idealisme dan perjuangan menjaga dan merawat keimanan. Innal hayata aqidatun wa jihad.

Daris, 24 J Ula 1439.

Facebook Comments

POST A COMMENT.