Dana Rp 400 T untuk Pendidikan, Hasilnya ?

RA ISO OPO-OPO

MEPNews.id —- Pukulan telak bagi dunia pendidikan ketika JK menyatakan anggaran Rp 400 trilyun, tidak ada perubahan yang berarti. SMK yang digadang-gadang akan melahirkan SDM andal di semua bidang kerja, malah mayoritas pengangguran.

Banyak alasan dan banyak pembelaan dari kubu pendidikan yang dulu selalu mengatakan fasilitas kurang, gaji guru rendah, dan sebagainya.

SMK yang diyakini akan merombak struktur SDM –bahkan porsinya akan diperbesar dengan mengurangi SMA—belum terbukti. Masih sama seperti dulu: melahirkan pengangguran. Bedanya, dulu banyak disebut sarjana pengangguran, sekarang SMK pengangguran.

Di sisi lain, Dept. Perindustrian malah bangga bisa mencetak tenaga kelas menengah andal di bidang industri. Mayoritas lulusannya mengisi ceruk-ceruk kebutuhan tenaga kerja, bahkan banyak yang dipesan sebelum selesai pelatihan.

Fakta itu menampar keras Dept. Pendidikan dan seluruh jajarannya. Jika yang satu berhasil, yang satu lainnya gagal, artinya bukan salah konsep (pendidikan vokasi); tapi siapa yang melaksanakan konsep.

Jika angka Rp 400 T itu yang dikedepankan, wajar bila kemudian muncul pertanyaan, ke mana larinya uang itu? Apalagi janji untuk membebaskan orangtua siswa dari kewajiban membayar uang SPP, juga tidak terbukti. Bahkan kemudian dibalik dengan mengatakan, pendidikan gratis tidak selalu berarti positif.

Pengalaman sebagai orangtua siswa, banyak anggaran lari untuk kepentingan yang tidak fokus pada tujuan pendidikan, yang jalan-jalan, yang pentas lah, yang ini yang itu, yang semuanya dianggap masih terkait dengan kurikulum.

Ketika saya mengkritisi anggaran itu mengajarkan anak hidup boros (mendapat tepuk tangan dalam hati orangtua siswa lainnya), eeee malah anak saya nilainya jeblok. Padahal sejak SD sampai SMP tidak pernah bergeser dari dua peringkat atas, dan masuk SMA kategori terbaik di Surabaya juga karena nilai jempolan itu. Bahkan sebelum menyelesaikan S1nya sudah dipesan sedikitnya 3 usaha jasa keuangan, dan menempati posisi jabatan di usaha perbankan besar. (Maaf sedikit nyombong; tapi sebenarnya hanya untuk membuktikan ketidak-bijakan oknum guru walikelas anak saya di SMA).

Kondisi semacam itu tampaknya juga masih terjadi di dunia pendidikan setelah digerojok 20% (mayoritas) anggaran. Si bungsu yang sekarang kelas VIII tidak ubahnya seperti saya SMP 40 tahun yang lalu. Padahal isi tasnya lebih berat dan lebih lama berada di sekolah.

Lha piye iso maju; piye iso kerjo nek ra ngerti opo-opo. Salahe sopo? Ojo-ojo malah dibalikno nyang wong tuo: lha bapake yok opo? Modar…….

Catatan : Syamsul Arifin.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.