Bagaimana Gen Menyebabkan Masalah Mental?

MEPNews.idSkizofrenia, gangguan bipolar dan autisme tampaknya memiliki beberapa efek serupa pada otak. Maka, menganalisis aktivitas gen bisa membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami apa yang menyebabkan kondisi kesehatan mental tersebut.

Penyebab biologis yang mendasari penyakit semacam kanker atau Alzheimer, misalnya, telah diidentifikasi. Namun, gangguan kejiwaan dan beberapa kelainan perkembangan didefinisikan oleh gejala perilaku. Orang yang lahir dengan varian gen tertentu lebih cenderung kena skizofrenia, gangguan bipolar dan perilaku seperti autisme. Namun, kita tidak tahu apa yang mungkin dilakukan gen ini dan bagaimana dapat membahayakan orang.

“Otak adalah organ yang sangat kompleks. Jika ada sesuatu yang tidak beres, ada hal lain yang bisa masuk untuk memberi kompensasi. Jadi, sangat sulit untuk mengidentifikasi masalah mendasarnya,” kata Jehannine Austin dari University of British Columbia di Kanada, dikutip Jessica Hamzelou untuk NewScientist edisi 8 Februari 2018.

Sekarang, nampaknya cara beberapa sel otak bekerja bisa berubah dengan cara yang sama dalam kondisi ini. Daniel Geschwind di University of California, Los Angeles, dan timnya mempelajari jaringan otak yang disumbangkan orang-orang yang memiliki gangguan mental saat mereka meninggal. Para peneliti mulai mengetahui seberapa aktif gen berbeda di sel otak.

Kelompok ilmuwan ini mengkaji jaringan dari orang-orang yang memiliki lima diagnosis: kondisi seperti autisme, skizofrenia, gangguan bipolar, depresi dan alkoholisme. “Kami menemukan tumpang tindih peran yang substansial,” kata Geschwind. “Hasil penelitian kami menunjukkan, dengan menggunakan fitur molekuler kita mungkin bisa mendapatkan gambaran baik tentang gangguan ini, dan mengembangkan terapi.”

Tumpang tindih terbesar terlihat antara sampel yang diambil dari penderita autisme, skizofrenia dan gangguan bipolar, walaupun juga menunjukkan tingkat tumpang tindih lebih rendah dengan depresi. Ini mencerminkan apa yang dokter lihat dari generasi keluarga, kata Austin. “Kita cenderung melihat kelainan seperti depresi, kecemasan dan gangguan bipolar, di keluarga yang sama,” katanya.

Analisis Geschwind mengungkap mengapa beberapa kondisi ini tumpang tindih. Di otak, sel-sel berbentuk bintang yang disebut astrosit membantu neuron tumbuh. Pada orang dengan autisme, skizofrenia dan gangguan bipolar, gen yang terlibat dalam mengendalikan bagaimana fungsi astrosit ini tampak lebih aktif.

Tapi, setiap kondisi memiliki unsur unik. Sampel otak dari orang dengan depresi, misalnya, menunjukkan tanda-tanda tekanan dan pembengkakan. Ini menunjukkan peradangan otak berperan dalam gangguan mood, dan obat anti-inflamasi dapat membantu mengobati depresi.

Heather Whalley dari University of Edinburgh, Inggris, berharap studi seperti ini berlanjut untuk membantu mengidentifikasi subkategori depresi. “Depresi adalah kelainan heterogen. Kemungkinan ada subtipe berbeda dengan mekanisme berbeda,” kata Whalley. “Mungkin akan lebih mudah untuk mengidentifikasi perawatan.”

Tim pimpinan Geschwind tidak menemukan tumpang tindih antara alkoholisme dan kondisi lain yang mereka pelajari. Ini mungkin karena penelitian hanya mencakup sejumlah kecil orang dengan alkoholisme, kata Austin. Tapi itu mungkin mengisyaratkan kecanduan bekerja dengan cara yang berbeda, kata Kevin McGhee dari Bournemouth University, Inggris.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.