Rokok Elektrik Bikin Paru Rentan Pneumonia

MEPNews.id – Ah, sudah lah. Tak usah merokok; baik rokok bakar batangan maupun rokok elektrik. Sama-sama bahayanya, meski dalam kadar berbeda. Kalau bahaya pada diri, silakan tanggung sendiri. Kalau membahayakan orang lain lewat mekanisme ‘merokok pasif’, bisa menjadi dosa sosial. Matikan saja rokok karena bisa menyehatkan paru sendiri dan tidak menganiaya paru orang lain.

Rich Haridy di New Atlas edisi 8 Februari 2018 mengabarkan, studi ilmiah terbaru menunjukkan efek uap dari rokok elektrik dalam jangka panjang dapat membuat paru-paru orang lebih rentan terhadap infeksi bakteri termasuk pneumonia.

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine di Inggris pada akhir Januari menerbitkan laporan penelitian terhadap efek kesehatan rokok-elektrik. Menurut laporan penelitian yang dimuat di European Respiratory Journal, rokok elektrik memberi pengguna zat beracun lebih rendah daripada rokok konvensional. Namun, rokok-elektrik bisa menjadi pintu gerbang bagi merokok konvensional di kalangan remaja dan dewasa muda.

Rokok elektrik memiliki efek bahaya karena mengandung molekul platelet-activating factor receptor (PAFR) yang melapisi saluran udara di sistem pernafasan manusia. PAFR ini membantu bakteri pneumokokus menempel pada sel saluran napas sehingga meningkatkan risiko infeksi.

“Bakteri pneumokokus bisa ada di saluran pernafasan tanpa menyebabkan penyakit,” jelas peneliti utama, Jonathan Grigg. “Namun, dalam beberapa kasus, mereka dapat menyerang sel-sel lapisan yang menyebabkan pneumonia atau septicemia. Asap rokok tradisional membantu bakteri ini menempel pada lapisan sel saluran napas, dan meningkatkan risiko infeksi.”

Untuk mengetahui efek rokok-elektrik terhadap kerja bakteri pneumonia, penelitian ini mencakup percobaan in vitro dengan sel manusia dan in vivo dengan subyek tikus dan manusia. Dalam tes sel in vitro dan studi manusia, para peneliti menemukan uap dari rokok elektrik meningkatkan tiga kali lipat PAFR pada sel saluran napas. Ketika bakteri pneumokokus kemudian didekatkan ke tikus yang PAFR-nya tinggi, sejumlah besar bakteri langsung menempel pada saluran pernafasannya.

“Hasil ini menunjukkan menghisap asap rokok-elektrik membuat saluran udara lebih rentan terhadap bakteri yang menempel di lapisan sel,” kata Grigg. “Jika ini terjadi saat pemakai terkena bakteri pneumokokus, peningkatan risiko infeksi bisa lebih tinggi.”

Namun, penelitian ini kecil karena melibatkan hanya 17 responden manusia. Maka, perlu penelitian lebih lanjut dan lebih banyak responden untuk memastikan pengaruh rokok-elektrik terhadap peluang terjadinya pneumonia.

Peter Openshaw, dari Imperial College London, menyimpulkan, “Ada kemungkinan mengisap asap rokok-elektrik meningkatkan kerentanan terhadap pneumonia, meski efeknya mungkin lebih rendah daripada dari merokok konvensional. Namun, kami memerlukan penelitian lebih lanjut.”

Baru-baru ini, Public Health England (PHE) mendorong penggunaan rokok-elektrik sebagai inisiatif kesehatan untuk membantu orang berhenti merokok. PHE bahkan merekomendasikan rumah sakit menjual rokok elektrik, mengizinkan merokok elektrik di kamar pribadi, dan memungkinkan diakses melalui resep bersubsidi sebagai cara penghentian merokok.

Namun, di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia menekankan tidak ada bukti kuat yang menunjukkan rokok-elektrik membantu orang berhenti merokok.

Rokok elektrik kemungkinan tidak lebih berbahaya seperti rokok biasa, namun tentu saja bukannya tidak berbahaya sama sekali. Karena relatif masih baru diperkenalkan, efek jangka panjang terhadap manusia tentu belum jelas diketahui dalam beberapa dekade yang akan datang.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.