Krisis Antibiotik, Peneliti Berguru ke Semut

MEPNews.id – Apa persamaan dan perbedaan antara manusia dengan semut?

Semut tinggal dalam koloni yang padat, manusia juga cenderung hidup memadati perkotaan. Bagi semut, koloni yang padat bermanfaat karena memungkinkan mereka mendominasi kondisi lingkungan apa pun yang mereka temukan. Namun, bagi manusia, tinggal di pemukiman padat di kota besar yang berjejalan dengan tetangga bisa berarti potensi ancaman tertular wabah penyakit.

Josh Davis, dalam IFL Science edisi 7 Februari 2018, menuliskan semut jutaan tahun telah menggunakan antibiotik untuk mengendalikan penyebaran infeksi bakteri yang berpotensi menghancurkan koloni dalam sarang. Sementara, manusia belum seabad memikirkan dan memanfaatkan antibiotik untuk menghambat penyebaran penyakit.

Kawanan semut, karena sifatnya yang kolonial, sempat diduga memanfaatkan dan menggunakan jenis antibiotik bagi diri mereka sendiri untuk melawan penularan penyakit. Namun, penelitian baru yang diterbitkan di Royal Society Open Science mempertanyakan hal itu.

Periset dari Amerika Serikat melakukan analisis komparatif terhadap 20 spesies semut berbeda. Mereka mengambil kapas penyeka dari permukaan semua semut berbeda dan kemudian mencampurnya dengan bubur bakteri untuk diuji mana yang akan tumbuh. Peneliti kemudian membandingkan semuanya dengan kelompok kontrol.

Jika bakteri tertentu tumbuh lebih sedikit di kapas yang diambil dari semut daripada yang diambil dari kelompok kontrol, itu berarti semutnya sudah dilapisi antibakteri yang menargetkan mikroorganisme tertentu. Hasilnya? Dua belas spesies semut yang diuji menunjukkan sifat antimikroba, namun delapan spesies tidak. Angka yang tidak ini cukup besar dan mengejutkan.

“Bisa menemukan spesies yang membawa agen antimikroba kuat adalah kabar baik bagi kita yang tertarik mencari antibiotik baru untuk dapat membantu manusia,” kata Adrian Smith, pakar dari North Carolina State University, salah satu penulis makalah. “Tapi, fakta bahwa begitu banyak spesies semut memiliki sedikit atau tidak memiliki pertahanan kimia terhadap patogen mikroba, juga penting.”

Selain menemukan beberapa semut yang tampaknya tidak menghasilkan antibiotik, atau setidaknya tidak menutupi tubuh mereka dengan antibiotok, para peneliti juga menemukan satu spesies yang membuat antibiotik terkuat yang sejauh ini diketahui. Semut spesies Solenopsis molesta memiliki antibiotik di permukaan tubuhnya yang bisa membunuh semua bakteri dalam laboratorium percobaan. Namun, sampai sekarang belum diketahui spesies itu membuat antibiotik.

Informasi ini penting, karena manusia bisa belajar pada semut tentang obat-obatan untuk melawan mikroorganisme patogen. Apa lagi saat dokter dan profesional medis sudah mulai khawatir manusia akan kehabisan antibiotik dalam waktu tidak terlalu lama.

Saat ini nyaris tidak ditemukan lagi antibiotik baru, padahal mikroorganisme patogen terus berevolusi melawan apa yang sudah dimiliki manusia. Krisis antibiotik baru ini memberi tekanan serius pada para ahli untuk berburu cara baru mangatasi serangan mikroorganisme. Maka, para periset kini beralih ke alam dalam perburuan.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.