Ijazah Anak Saya Paket B, Saya Bangga

Oleh Astatik Bestari

MEPNews.id – Saya adalah guru di sekolah formal dan juga penyelenggara pendidikan non formal PKBM BESTARI. Memiliki anak dengan minat yang tidak biasa dalam gaya belajar adalah tantangan tersendiri bagi saya, tapi syukurlah, melalui pendidikan nonformal saya menemukan solusinya. Ada ungkapan satir yang biasa terlontar begini

“Punya sekolah, kok anaknya di sekolahkan di luar, apakah tidak percaya dengan kemampuan sendiri? ” Sisi lain satir ini ada benarnya, tapi boleh jadi dengan menyekolahkan anak di sekolah lain, bukan sekolahnya sendiri dengan maksud mendidik agar anak bisa mandiri ataupun alasan lain yang tidak bermaksud meragukan kemampuan sekolah yang ia kelola. Saya sebagai pengelola sekolah nonformal PKBM BESTARI berpikir positif dengan pendapat- pendapat tersebut. Saya jalani peran orang tua dengan usaha maksimal berbekal ilmu pengetahuan yang saya miliki saat saya membantu anak kami memilih sekolah ( tempat belajar) yang ia minati.

IMG-20180208-WA0024Tidak mudah membuat dan menjalankan keputusan saat saya membiarkan anak sulung kami tidak memilih sekolah formal ( kebetulan keluarga kami juga penyelenggara sekolah formal). Ia asyik dengan dunianya yang suka bersepeda dengan teman-temannya. Nampak dari penglihatan masyarakat bahwa anak kami tidak sekolah, karena memang ia tidak di sekolah formal. Tapi mereka tidak mengetahui kalau ia kami didik di sekolah nonformal kami, PKBM BESTARI. Saya kontrol perkembangan belajarnya dari assesment yang saya tetapkan.

Bagi saya, anak kami tidak boleh terpaksa menjalani proses belajar yang ia inginkan, tugas kami memang mengarahkan, tapi bukan berarti kami memaksakan proses yang ia tidak minati. Dua tahun ia bersama kami secara intens dalam proses belajarnya. Belajar mengandalkan tayangan TV ( laptop si Unyil, Asal Usul, dan berbagai tayangan TV informatif berkonten pengetahuan )dan pembelajaran kontekstual di masyarakat adalah sumber belajarnya.

Saya amati, ia adalah anak yang suka membimbing anak-anak kecil. Sampai kini, kalau ia pulang dari pondok, selalu saja anak-anak kecil yang diajak ke rumah atau mereka yang mencari anak saya ke rumah. Ia juga memiliki kepekaan sosial tinggi, terbukti berkali kali saya diminta membeli dagangan penjual yang tidak laku dagagannya, ia selalu mengingatkan saya untuk gemar berbagi, saat sudah menjadi santri, ia hampir tak pernah menolak perintah orang tua dalam kondisi capek sekalipun untuk membantu meringankan tugas rumah tangga.

Di kelas 9 Paket B ( setara SMP ) saya tawarkan kepadanya agar serius belajar pada menghafal AlQur’annya, saya tahu ia punya passion di bidang ini. Ia menyetujui dan saya berangkatkan segera ke Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Usmaniyah Bareng Jombang, tetangga kecamatan dari domisili PKBM BESTARI. Kini ia tetap tercatat sebagai santri tahfidzul Qur’an dan peserta didik Paket C kelas 10 PKBM BESTARI. Perlu pembaca ketahui, sejak masuk ke PPTQ Al Usmaniyah, kami langsung mengajukan kerjasama bahwa pembelajaran yang ada di PPTQ Al Usmaniyah ini terintegrasi dengan pembelajaran pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C PKBM BESTARI.

Setahun setelah belajar di PPTQ Al Usmaniyah ini, banyak capaian yang diraih anak kami ini. Bukan rangking kelas, bukan pemenang lomba, bukan pemilik predikat santri atau siswa teladan tapi, ia memiliki keberanian menjadi imam sholat jamaah di PPTQ Al Usmaniyah. Baru- baru ini, akhir Januari 2018 suami saya bercerita bahwa beliau diajak ngomong serius oleh saudara sepupunya perihal anak sulung kami ini. Begini ceritanya kepada saya

” Umi, tadi Cak Yusuf menyuruh saya mendukung Omy ( nama panggilan sulung saya) dengan doa, ia sekarang sudah mau ngimami sholat dengan bacaan Qur’an (tartilan). Coba pean SMS pengasuhnya, seperti apa perkembangan belajarnya kini”. Kami memang waktu itu setengah percaya dengan kabar tersebut, mengingat anak kami memiliki sifat pemalu untuk tampil di depan publik. Kurang lebih tiga hari setelah kabar sepupunya suami saya ini, saya menengoknya di pondok, sakaligus ingin tahu cerita rincinya atas capaiannya. Pengasuh pesantren membenarkan kabar dari sepupunya suami saya, bahkan beliau ( sepupu suami saya) sempat menangis menyaksikan capaian anak kami ini.

Kini dalam rasa syukur saya yang melimpah ini, ada tanya terbesit di hati ” adakah mereka teman-teman anak saya, yang melejit prestasi akademiknya ( juara kelas, ahli matematika, pandai bahasa asing dan lain sebagianya) di sekolah formal ( bukan Paket A, Paket B dan bukan pula Paket C) bernyali baik sehingga mau dan mampu mengimami sholat jamaah dalam komunitasnya?”

Omy, anakku ini tanpa ia sadari sudah menyelamatkan nama baik kami selaku orang tuanya, karena kami orang tuanya telah mengalami tekanan berupa opini liar bahwa kami seolah membiarkan anak kami tidak sekolah. Atas apa yang ia capai kini, semua berkat bimbingan dan didikan pengasuh PPTQ Al Usmaniyah Bapak Agus Sholahuddin bersama istri beliau, mendidik dan membimbing selama 24jam dengan menghargai segala potensi, minat dan bakat yang melekat pada anak saya.

Nyali kami kuat untuk menghadapi opini liar yang menggelinding sebagai kritik atas didikan ‘ nyeleneh’ kami kepada anak sulung kami ini juga berkat dukungan moral sepupu suami yang juga pengasuh pesantren anak di daerah kami. Kepada beliau semuanya, kami hanya bisa mendoakan semoga apa yang telah beliau berikan kepada anak kami dibalas oleh Allah SWT dengan sebaik-baik pembalasan. Aamiin.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.