Berat Badan Turun, Kenapa Jadi Gampang Lapar?

MEPNews.id – Sudah olahraga keras,sudah kontrol makan, eh saat berat badan turun koq perut jadi lebih gampang lapar? Hilang deh upaya keras dan lama gara-gara tak tahan untuk makan lagi dan lagi!

Keluhan semacam itu kerap dilontarkan orang yang berusaha keras menurunkan berat badan. Maka, para peneliti, sebagaimana dikabarkan EurekAlert! edisi 8 Februari 2018, menjelaskan mengapa sulit bertahan setelah turun berat badan substansial.

Penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Physiology, Endrocrinology and Metabolism, mempelajari nafsu makan responden program penurunan berat badan komprehensif. “Ada 34 pasien obesitas morbid yang kami beri standar emas perawatan dua tahun,” kata Profesor Catia Martins dari Departemen Ilmu Klinik dan Molekuler, di Norwegian University of Science and Technology (NTNU).

Responden memang jadi lebih langsing, tapi sebagian besar mengaku lebih lapar daripada sebelum program. Tampaknya, kunci dari masalah ini adalah keseimbangan antara hormon lapar dan kenyang pada orang yang kehilangan banyak berat badan.

Awalnya berat responden rata-rata 125 kg. Pertama-tama, mereka tiga minggu dikirim ke pusat perawatan khusus obesitas. Mereka berolahraga teratur dan menjalani tes. Mereka juga mendapat pendidikan gizi dan konsultasi dengan psikolog. Format ini diulang setiap enam bulan. Dalam tiga minggu pertama, berat badan mereka turun lima kg. Setelah dua tahun, berat badan responden rata-rata menurun 11 kg. Namun, hanya dua dari sepuluh responden yang berhasil menjaga berat badan setelah program.

Menurut Martins, sebenarnya kebanyakan orang mampu menurunkan berat badan bahkan secara swadaya. Namun, penelitian menunjukkan hanya 20 persen yang berhasil mempertahankan bobot baru yang lebih rendah. Dari perspektif biologis murni, ada dua faktor yang berperan; evolusi manusia dan kemampuan tubuh untuk memastikan kelangsungan hidup.

Pertama, saat berat badan menurun, perut mengeluarkan sejumlah besar hormon ghrelin yang membuat rasa lapar. “Setiap orang memiliki hormon ini. Tapi, jika Anda kelebihan berat badan dan kemudian menurunkannya, maka kadar hormon meningkat drastis,” kata Martins.

Masalahnya, kadar ghrelin tidak bisa menyesuaikan diri. Dalam studi oleh Martins bersama Silvia R Coutinho, Jens F. Rehfeld, Jens J. Holst, dan Bård Kulseng tersebut, tingkat ghrelin responden penelitian tetap tinggi selama dua tahun. Maka, kemungkinan orang-orang yang kelebihan berat badan harus menghadapi rasa lapar berkelanjutan hingga akhir hayat.

“Kedua, tubuh menolak diet. Orang yang sudah sangat gemuk butuh lebih banyak energi hanya untuk bernapas, tidur, mencerna makanan atau berjalan. Bila tubuh kehilangan berat badan, lebih sedikit energi dibutuhkan untuk fungsi dasar ini,” kata Martins. “Orang yang beratnya 80 kilogram makan lebih banyak daripada yang beratnya sudah diturunkan dari 80 kilogram. Namun, mereka merasa lapar karena tubuh mencoba mendapatkan kembali berat badan itu.”

Menurut data penelitian, perasaan kenyang setelah makan meningkat namun rasa lapar justru semakin meningkat. Maka, harus diketahui mekanisme fisiologis mana yang melawan penurunan berat badan. Tentu saja, ada perbedaan secara individual. Misalnya, orang bisa kehilangan motivasi dan kesulitan mengikuti saran diet dan olah raga. Semua ini membuat sulit mempertahankan bobot baru yang lebih rendah.

“Obesitas adalah perjuangan setiap saat hingga akhir hayat. Kita harus berhenti memperlakukan obesitas sebagai penyakit jangka pendek. Jangan sekadar memberi beberapa dukungan dan bantuan, lantas membiarkan mereka berjuang sendiri,” kata Martins.

Dia percaya obesitas perlu ditangani sebagai penyakit kronis. Sebagai perbandingan, Martins mengatakan penderita diabetes tipe-2 menerima banyak pertolongan dan follow-up dari waktu ke waktu. Begitu juga seharusnya dengan obesitas. Jika tidak, orang sulit menurunkan berat badan sendiri.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.