Wah, Jerawatan bisa Terkena Risiko Depresi

MEPNews.id – Dalam analisis terhadap salah satu database rekam medis elektronik terbesar di dunia, para peneliti menemukan pasien berjerawat memiliki peningkatan risiko terkena depresi berat secara signifikan. Namun kondisi itu berlaku hanya dalam 5 tahun pertama setelah didiagnosis berjerawat.

Dalam rilis berita yang dimuat EurekAlert! edisi 7 Februari 2018, analisis British Journal of Dermatology dilakukan terhadap data dari The Health Improvement Network (THIN) tahun 1986 hingga 2012. Ini adalah database perawatan primer yang besar di Inggris.

Para peneliti dari Kanada menemukan risiko depresi mayor tertinggi dalam 1 tahun pertama diagnosis jerawat. Risikonya 63% lebih tinggi dibandingkan dengan individu tanpa jerawat. Untungnya, risiko itu menurun setelahnya, dan secara signifikan menghilang lima tahun kemudian.

Hasil ini menunjukkan, penting bagi dokter untuk memantau gejala mood pada pasien jerawat. Dokter disarankan memulai perawatan segera untuk depresi atau mencarikan layanan konsultasi dengan psikiater bila diperlukan.

“Studi ini menyoroti hubungan penting antara penyakit kulit dan kondisi mental. Risiko depresi tertinggi terjadi pada periode setelah pertama kali pasien datang ke dokter untuk masalah jerawat. Ini menunjukkan seberapa besar dampak kondisi kulit terhadap keseluruhan kesehatan mental,” kata penulis utama Dr. Isabelle Vallerand, dari University of Calgary, Kanada.

“Bagi penderita jerawat, masalah ini lebih dari sekedar gangguan kulit. Ini bisa menimbulkan masalah kesehatan mental yang signifikan dan harus ditangani dengan serius.”

Hubungan antara jerawat dan depresi, terutama pada remaja, telah lama tercatat. Beberapa kondisi depresi dikaitkan dengan obat jerawat tertentu antara lain isotretinoin. Namun, penelitian yang dibuat di British Medical Journal pada 2010 menemukan obat itu sendiri mungkin tidak penting. Tapi, jerawatnya yang lebih penting sehingga menimbulkan risiko depresi dan usaha bunuh diri.

“Itu mungkin karena penampilan sangat terkait dengan harga diri. Kulit adalah apa yang kita tampilkan ke dunia ini. Sayangnya kita bertujuan menyempurnakan kulit yang cling seolah cocok untuk sampul majalah,” kata Dr. Diane Walder, asisten profesor dermatologi klinis di University of Miami, dikutip CNN.

Remaja bisa merasa harga dirinya anjlog karena berjerawat. Mereka cemas orang lain mengolok-olok. Kecemasan tentang persepsi orang lain ini dapat menyebabkan depresi, kata Bobbie McDonald, psikolog di Costa Mesa, California.

Fakta Tentang Jerawat

– Faktor genetika dan hormon mendorong peluang terjadinya jerawat

– Penyebab jerawat: peningkatan produksi minyak, pori-pori kulit tersumbat, pertumbuhan bakteri pada pori-pori itu, dan peradangan di kawasan yang tersumbat.

– Tidak terlalu terkait dengan junk food, susu, coklat

– Berjerawat tidak berarti memiliki wajah kotor

– Pengobatan yang cocok sifatnya sangat individual

– Pilihan meliputi: salep, cuci muka, perawatan topikal, antibiotik, obat berbasis isotretinoin, terapi laser dan prosedur kosmetik lainnya.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.