Membangun Kultur Sekolah dengan Keteladanan

magetan PuryonoOleh: Drs Puryono MM, Kepala SD Sukowinangun 3 Magetan

MEPNews.id – Kisah-kisah memilukan belakangan ini di dunia pendidikan kita membuat semua orang berpikir; apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? Sistem pendidikannya mungkin tidak salah, tapi tetap saja ada yang perlu dibenahi.

Tak hendak berkutat di sistem yang ada, tulisan ini memberikan sumbangan bagaimana membangun kultur sekolah yang di dalamnya keteladanan diajarkan secara langsung. Tentu saja yang bisa menjadi sosok teladan ini adalah guru sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah.

Guru, digugu dan ditiru, tidak berubah maknanya. Guru adalah orang tua di sekolah. Semua ucapan dan perilakunya selalu dilihat dan diamati siswa, ditiru dan dilaksanakan perintahnya. Proses mendidik dan.mengajar dipercayakan orang tua kepada guru.

Untuk mengemban kepercayaan ini, guru harus membekali dirinya. Dia harus mendidik sambil terus belajar. Dia harus mengasah hati nuraninya supaya tak melenceng dari tujuan mendidik. Dia harus terus belajar supaya tak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai sosok yang harus menjadi teladan, tak salah jika empat karakter yang tak perlu diragukan ini perlu diterapkan untuk perilaku keteladanan guru;

1. Shidiq atau benar. Benar dalam ucapan dan perilakunya. Dua-duanya harus sesuai. Bukan hanya dalam lisannya, setiap perbuatan yang dilakukan juga harus benar.

Ada pernyataan yang menggelitik, bahwa orang harus bermuka dua saat sedang memegang kewenangan; “Yang disampaikan harus yang benar saja. Jika melakukan yang tidak benar, itu persoalan lain.”
Misal, guru harus menyampaikan bahwa murid harus disiplin masuk sekolah, on time, nggak boleh terlambat. Kalau terlambat diberi sanksi. Tapi, alangkah menggelikannya ketika guru itu sendiri terlambat masuk sekolah dan tak menampakkan rasa bersalah atau malu saat dilihat muridnya.

Ini tentu saja tidak benar. Murid di usia pendidikan dasar mempunyai kemampuan untuk melakukan imitasi terhadap suatu sosok; apalagi sosok itu sangat disegani atau disukai.

2. Amanah atau dapat dipercaya. Setiap tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan dengan benar.

3. Fathonah atau cerdas. Guru tentu jangan sampai terlihat kurang bisa menguasai ilmu yang akan disampaikan kepada muridnya. Oleh karena itu, guru harus belajar dan selalu belajar. Perkembangan ilmu pengetahuan itu demikian cepat.

4. Tabligh atau menyampaikan. Alangkah lucunya jika seorang guru tak bisa atau tak mau dan mampu menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada murid. Guru harus banyak belajar dan selalu menambah gudang keilmuannya, sehingga murid juga bertambah ilmu baru. Kelihaian menyampaikan harus juga dipelajari supaya pesan yang disampaikan mengena, menarik dan tidak monoton.

Empat karakter di atas harus ditampakkan dan ajarkan guru kepada murid-muridnya dalam perilaku sehari-hari di sekolah secara spontan. Bukan hanya guru agama atau guru PKn, tetapi semua guru harus merealisasikan empat karakter itu.

Hubungan antara murid dan guru haruslah meaning making; dibuat bermakna. Murid harus melihat perilaku gurunya sesuai dengan moral yang diajarkan di kelas.

Facebook Comments

POST A COMMENT.