Kimia Plastik Cemari 86% Remaja Inggris

MEPNews.id – Ini kabar untuk cermin bagi kondisi di Indonesia. Diam-diam, zat kimia bahan plastik sudah merasuk ke sebagian besar remaja di Inggris. Itu karena mereka nyaris tidak bisa melepaskan diri dari produknya. Tak pelak, para ahli meminta kandungan Bisphenol A (BPA) diberi label dengan jelas untuk perlindungan konsumen.

bpaBPA adalah senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan beberapa jenis plastik. Senyawa ini dapat ditemukan di botol air, bagian dalam kaleng dan tutup botol, serta makanan olahan. Bahan kimia ini mengganggu sistem endokrin, yang mengendalikan bagaimana hormon dilepaskan ke dalam tubuh. BPA memiliki sifat mirip estrogen; bisa mengubah bagaimana tubuh mengedarkan hormon seks dan mengganggu perkembangannya. Kimia ini juga terkait penyakit kardiovaskular dan kelainan enzim hati. Risiko lebih tinggi menelan BPA muncul jika produk terkena suhu tinggi, atau digunakan kembali misalnya untuk botol plastik.

Menurut peneliti di University of Exeter, sebagaimana dikabarkan Kashmira Gander di International Business Times pada 7 Februari 2018, remaja mendapat paparan BPA tertinggi. Tes urin terhadap 94 responden usia 17 – 19 tahun menunjukkan, 86% remaja mengandung BPA.

Subyek penelitian mencoba mengurangi paparan BPA, dengan metode antara lain menghindari buah dan sayuran yang dikemas dalam wadah plastik, makanan kaleng, dan makanan dipanaskan dalam microwave selama seminggu. Namun, sebagaimana diungkap penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open, bahan kimia itu sudah begitu meluas dalam tubuh. Menghindari makanan dan kemasan yang mengandung BPA rupanya tidak banyak berdampak. Hanya yang menghindari dengan tingkat tertinggi lah yang menunjukkan pengurangan. Peserta juga mengaku tidak mungkin menjalani diet bebas BPA, karena kesulitan mengidentifikasi makanan yang mengandung senyawa kimia itu.

bpa freeMaka, penulis penelitian ini meminta pihak pedagang pengecer untuk memasang label yang lebih jelas pada kemasan sehingga memudahkan konsumen untuk membeli produk bebas BPA.

Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan National Institute for Occupational Safety and Health (Niosh) di Amerika Serikat pada 2017. Tes urine karyawan yang berhubungan langsung dengan BPA menunjukkan kandungan DPA 70 kali lebih banyak daripada rata-rata orang dewasa.

Namun, Otoritas Keamanan Pangan Eropa pada 2015 lebih dulu menyimpulkan, paparan terhadap BPA bukanlah masalah kesehatan. Jumlah yang dikonsumsi oleh rata-rata orang tidak menimbulkan risiko kesehatan signifikan. Sikap ini diamini Food and Drug Administration Amerika Serikat, yang menyatakan BPA aman pada tingkat rendah.

“Masih ada ketidakpastian mengenai apa yang mungkin terjadi pada paparan lebih rendah, karena sulit untuk melakukan penelitian,” kata Tamara Galloway, Profesor Ekotoksikologi di University of Exeter Inggris dikutip IBTimes Inggris. “Tabung uji atau penelitian trhadap hewan menunjukkan efek buruk terhadap kesehatan, kekebalan, reproduksi dan perilaku neurologis pada konsentrasi yang serupa dengan populasi umum.”

Menurutnya, “Studi biomonitoring pada populasi manusia telah mengukur konsentrasi BPA di tubuh dan kemudian melihat apakah ada korelasi dengan penyakit. Beberapa dari studi ini menunjukkan hubungan dengan efek kardiovaskular dan metabolik.”

Sementara ketidakpastian tetap ada, panduan resmi para ilmuwan adalah mengurangi paparan BPA dengan cara menghindari kemasan atau olahan, makanan kalengan, dan tidak memanaskan makanan dalam wadah yang mungkin mengandung BPA.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.