Pedagogi dan Ergonomics untuk Pemimpin Pendidikan

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —- Di samping pedagogis, pengetahuan ergonomics terkait desain ruangan kelas dan sarana-prasarana PBM juga sangat vital. Kedua hal ini harus saling melengkapi. Mengajar itu juga mengelola (managing) kelas secara psikologis yang banyak dilandasi dengan nilai-nilai pedagogis. Adapun, suasana ruangan dan bangunan sekolah secara ergonomic sangat berpengaruh pada tingkatan stres manusia (di sekolah termasuk siswa dan gurunya). Desain kelas untuk proses beajar mengajar (PBM) bisa dirancang secara ergonomic dengan tepat.
Jangan remehkan konsep pedagogis untuk bekal guru-guru dan pengelola sekolah lanjutan, utamanya SMA. Matakuliah yang paling menarik ketika kuliah di IKIP Surabaya (Sekarang UNESA) adalah Matakuliah Pengelolaan Kelas (PK) atau Classroom Management dan Interaksi Belajar Mengajar (IBM). Dua matakuliah itulah, yang sangat penting. Pemimpin dan pengelola institusi pendidikan sangat membutuhkan konsep itu. Utamanya pengambil kebijakan di sekolah lanjutan. Sebab, belajar tentang PK dan IBM, kita bisa paham bahwa suasana pesikologis kelas itu sangat kompleks.
Matakuliah PK mengajarkan kita bagaimana mengelola kelas—insan manusia bukan benda mati—itu sangat dinamis. Siswa-siswi di SMA itu banyak faktor yang melatar-belakangi eksistensi mereka di dalam kelas. Mereka berasal dari bermacam-macam latar belakang keluarga, lingkungan, dan juga latar belakang budaya serta kebiasaan-kebiasaan di rumah mereka, termasuk pergaulan mereka.
Siswa SMA, secara psikoligis, bercampur-aduk dengan semua faktor di atas. Di samping itu, juvenile delinquency (kenakalan remaja) lebih banyak dilakukan insan-insan seumuran SMA. Mereka dalam masa kegoncangan jiwa dengan eksistensinya yang berbeda-beda. Emosinya cenderung kurang stabil jika faktor-faktor lingkungan sangat kuat.
Yang menarik di dalam Matakuliah PK itu, ada cara-cara yang bisa dilakukan dengan risiko terkecil. Jadi, jika ada kelompok siswa yang ramai, maka bisa dipanggil setelah kelas, hanya orang yang khusus bikin ramai. Dia diajak ke ruangan kepala sekolah dengan tempat duduk yang nyaman. Istilahnya, memanusiakan orang. Diajak ngobrol yang enak dengan arahan menuju kerjasama untuk mendukung kelas tenang.
Jika dia punya bakat pemain bola volley, alangkah baiknya dia dipilih sebagai ketua unit kekgiatan siswa (UKS), bola volley di sekolah itu. Namun, itu semua, bergantung pada seberapa lengkapnya sarana-prasarana wadah UKS sekolah. Inilah, salah satu kewajiban pemerintah dan pemilik sekolah atas wadah-wadah bakat dan minat. Kadang, bisa saja, di sekolah itu kurang waspada masalah ini. Ada siswa berbakat tetapi tidak dimanfaatkan atau tidak dimasukkan dalam wadah kegiatan. Hilangkan likes and dislikes dalam hal ini.
Dalam matakuliah IBM, agak sedikit beda. Yang kita pelajari di dalamnya lebih banyak Interaksi proses belajar mengajar (PBM). Misalnya saja bagaimana memuji (memberi penghargaan) ketika ada siswa yang bisa menjawab dengan baik. Ada taktik, siswa sumber kegaduhan bila perlu diberi soal-soal dibuatkan khusus yang sangat mudah dan dipastikan dia bisa menjawab benar. Maka, jika dijawab benar, kita bisa pujian (reward) misalnya acungan jempol di depan teman-temannya. Tindakan ini diharapkan dapat membuat anak tersebut percaya diri.
Namun, ada pula siswa yang sangat pandai. Bisa saja, dia bikin gaduh karena meremehkan. Berilah pertanyaan yang paling sulit yang mungkin dia tidak bisa menjawab. Ketika dia menjawab salah, maka mulailah menjelaskannya agar semua siswa bisa menjawab benar, termasuk siswa yang tidak bisa menjawab tadi. Dengan begitu, guru bisa memberi pengertian secara tidak langsung, bahwa belajar itu butuh perhatian.
Masih banyak lagi strategi dan taktik seperti itu di dalam matakuliah IBM. Misalnya, bagaimana membuat para siswa senantiasa ingat apa yang dijelaskan (reinforcement), Ice breaking, dan reward and punishment secara pedagogis. Itu semua ada dalam matakuliah IBM dan PK.
Pemerintah sebaiknya mengkaji ulang perekrutan guru-guru bukan latar belakang pendidikan keguruan. Pemerintah juga harus mengkaji ulang dileburnya istilah IKIP menjadi Universitas. Hilangnya nilai-nilai pedagogis bisa juga akibat kebijakan-kebijakan yang tidak mengarah ke visi dan misi keguruan.
Konsep pedagogis tidak boleh diabaikan. Bahkan, desain kelas secara pedagogis membutuhkan rancangan tersendiri. Sebab, banyak desain ruangan kelas dan sarana-prasarana secara ergonomic tidak dirancang sesuai dengan PBM, IBM, dan PK. Kalau kita berbicara ergonomics, maka desain ruangan kelas itu sangat tinggi korelasinya dengan timbulnya daya stress manusia, termasuk di kelas-kelas, baik siswa-siswi maupun pada guru-gurunya. Rancangan bangunan sekolah dan ruangannya akan lebih baik jika berdasarkan ergonomik pedagogis.
Zaman teknologi serba canggih, remaja itu banyak pengaruhnya dari berbagai lingkungan. Itu sebabnya, mengelola siswa usia remaja itu lebih berat akibat masa kegoncangan jiwa dalam periode puber. Ini semua membutuhkan pengetahuan konsep pedagogis dan dibarengi dengan fasilitas sekolah yang memadai untuk penyaluran minat dan bakat. Jika tidak saling mendukung, maka guru dan siswa bisa cepat stress. Belajar serius itu penting, namun rileks sejenak menyalurkan bakat dan minat juga sama pentingnya. Mereka juga butuh wadah dengan sarana-prasarana yang dikelola secara pedagogis pula. ***
Penulis adalah Managing Editor dan sekaligus penngelola Penerbitan Jurnal dan Buku di STIE Perbanas Surabaya. Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.