Mengapa Bising Lalu Lintas Bikin Jantungan?

MEPNews.id – Bukan cuma polusi udara, polusi suara juga sekarang menjadi gangguan nyata bagi kesehatan tubuh. Kebisingan lalu lintas antara lain dari kereta api, pesawat terbang dan mobil terkait dengan perkembangan penyakit jantung.

Mengapa bisa demikian? Kantor berita Xinhua edisi 5 Februari 2018 mengabarkan, para periset dari Jerman menduga suara bising dapat mengganggu tubuh pada tingkat sel sedemikian rupa sehingga meningkatkan faktor risiko gangguan jantung.

Dalam ulasan yang diterbitkan Journal of American College of Cardiology, periset mengkaji sejumlah penelitian kebisingan terbaru yang menunjukkan mekanisme molekuler dapat menyebabkan gangguan fungsi vascular. Peneliti juga mengkaji bukti epidemiologis terkini tentang penyakit kardiovaskular yang disebabkan kebisingan. Juga, kajian tentang efek non-pendengaran dari kebisingan dan dampaknya pada sistem kardiovaskular.

Mereka menyimpulkan, kebisingan bisa menimbulkan respons stress. Ini ditandai dengan aktivasi sistem saraf simpatik dan peningkatan kadar hormon. Kondisi-kondisi ini memulai munculnya sekuele (gejala penyusul) dan pada akhirnya menyebabkan kerusakan vaskular.

Bukti yang didapatkan semakin memperkuat konsep bahwa kebisingan lalu lintas berkontribusi pada pengembangan faktor risiko gangguan jantung antara lain hipertensi dan diabetes. Itu karena kebisingan dikaitkan dengan stres oksidatif, disfungsi vaskular, ketidakseimbangan otonom dan kelainan metabolik.

Sisi baiknya, periset melihat beberapa strategi mitigasi yang bisa digunakan di seluruh dunia. Strategi itu antara lain manajemen dan peraturan lalu lintas, pengembangan ban tidak berisik yang mengurangi kebisingan, hingga jam malam pembatasan lalu lintas udara. Meski strategi-strategi itu dapat mengurangi kebisingan berbahaya, namun masih diperlukan strategi lain.

“Seiring meningkatnya persentase populasi yang terpapar tingkat kebisingan transportasi, pembangunan dan undang-undang baru untuk mengurangi kebisingan juga perlu diterapkan demi kesehatan masyarakat,” kata Thomas Munzel dari Universitas Johannes Gutenberg di Jerman, penulis utama penelitian itu. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.