Kader dalam Himpunan

Untukmu presedium Kahmi Bojonegoro

Oleh: Drs. khudhori Sp

MEPNews.id —- Di Jogjakarta tanggal 14 Rabiul Awwal 1436 H /5 Februari 1947 M ditetapkan sebagai hari lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan oleh Prof. Lafran Pane ( 9 -11-2017) baru saja diberi gelar sebagai pahlawan nasional oleh Pemerintah RI.

71 tahun lalu Pendirian HMI dilatar belakangi persoalan kondisi kebangsaan (keindonesiaan), keummatan (keislaman) dan kemahasiswaan ( Prof Agussalim Sitompul 1995).

Pada Dies Natalis I HMI 1948, Jenderal Besar Sudirman mengartikan HMI sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia” yang terkenal hingga saat ini.

Disaat itulah HMI ikut bertempur dalam agresi I dan II karena Belanda ingin kembali menguasai Indonesia sampai digelarnya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Pada periode awal pendirian HMI, tujuannya sesuai dengan konteks kondisi Indonesia pada masa saat itu yakni mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan Agama Islam. Yang dapat disimpulkan menjadi “Ke-Indonesiaan” dan “Ke-Islaman”.
Saat ini , HMI semoga tidak lepas dari komitmen awal pendiriannya termasuk keberadaan himpunan di Bojonegoro ini.

Nuansa perkaderan menjadi tuntutan organisasi HMI sejak didirikan semoga sampai sekarang dengan tahapan proses kepemimpinan mulai dari pengurus besar sampai komisariat diberbagai fakultas suatu perguruan tinggi.

Disamping tahapan pemberian peran memimpin juga diproses dengan berbagai jenjang pelatihan ( training) mulai dari maperca , basic training , intermadiate training , senior course dan seterusnya ditambah aktifitas kepanitiaan training training himpunan untuk menempa kadernya dan menjadikan ciri himpunan sebagai organisasi kader.

Himpunan pencetak kader kebangsaan dan keummatan bukan pencetak kader “tukang”.
Kader tukang yang dapat dipesan setiap saat sesuai dengan kebutuhan sesaat pula. Bisa jadi kader tukang dapat diperankan secara terselubung tidak perlu pelatihan khusus, karena kecakapan yang diraihnya cukup dengan mendampingi tukang senior sukses , menjadi tim sukses musiman atau menjadi kader comotan / carteran untuk beragitasi dalam gerakan-gerakan.

Kader tukang pada komunitas tertentu, seseorang yang baru saja direkrut sebagai anggota dengan posisi struktural seksi komunitas pada level tertentu bahkan tingkat paling tinggi pun dikatakan “kader” , padahal yang bersangkutan belum pernah mengikuti pola perkaderan apapun dalam komunitas tersebut.

Jangan heran jika menemukan seorang pimpinan atau kader komunitas tertentu , hari ini berjaket warna hitam dilain waktu sudah berubah menjadi putih bahkan bisa jadi berubah warna pelangi.Karena kamunitas tersebut baru dapat membuat “tukang” belum mampu menjadi “kader”.

Di HMI, perkaderan sudah tertata dengan baik. Secara konsepsi, rekrutmen kader, pembentukan kader, pengembangan kader hingga distribusi pengabdian dan arah kader HMI telah tersusun secara sistematis dalam satu pola perkaderan untuk mencapai tujuan HMI.

Tujuan HMI yang dalam Kongres IX HMI Tahun 1969 di Malang rumusannya berbunyi, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Pola perkaderan HMI tersebut telah melahirkan tokoh nasional dan internasional dalam kepemimpinan pelbagai profesi dan bidang. Dari guru ngaji hingga guru besar dan dari usaha kecil hingga konglomerasi.

Di Bojonegoro, Idealnya HMI sebagai komunitas akademisi dan kader yang bernafaskan Islam mampu mecetak kader keummatan yang memiliki komitmen keislaman yang patut diteladani.
Ketokohan kader himpunan tidak hanya diukur pada even-even musiman atau peran-peran politis bahkan sangat eronis jika dilabeli peran kader carteran tanpa komitmen ideologis kecuali keuntungan materi sesaat .

Akan tetapi kader himpunan seharusnya diukur dengan komitmen perwujudan tujuan himpunan yang “diwujudkan ” dalam kehidupan yang nyata ini.

Telah banyak kader himpunan kita yang tertokohkan dengan berbagai predikat namun justru karena predikat itulah luntur komitmen himpunannya mengingat pentingnya untuk melanggengkan kepentingan personal yang terselubung itu.

“Qur’an dan Hadits jalan keselamatan serta yakin usaha sampai ” cukup sekedar jadi nyanyian pada pembukaan training dan slogan-slogan yang cukup diplomatis diujung akhirnya jadi bahan diplomasi yang konsumtif terlempar dari sikap yang ideologis !.

Kawaaan KAHMI yang terhormat, sehari pasca peringati dies natalis 71 ini semoga terjaga komitmen “ideologis himpunan” terkonsolidir diantara kita meski peran politis dan peran lain bisa jadi berbeda diantara kita.

Bojonegoro . 6-2-2018.
Sekedar imaginer pagi sebagai orang yang pernah terlibat dalam aktifitas himpunan dikota berdirinya himpunan ini.
Semoga bermanfaat.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.