Bahagia Menjadi Guru PAUD

MEPNews.id —Bersyukur itulah yang bisa kulakukan setiap saat, menyadari keterbatasan manusia yang tidak sempurna. Profesi guru PAUD yang sangat menarik menjadi pilihan hidup sejak mengakhiri masa pengangguran. Mengikuti pelatihan dari PNFI, dikirim ke berbagai daerah untuk peningkatan mutu dan kompetensi, menjadi pengurus himpunan, keliling ke desa untuk memberi motivasi sesama guru PAUD, bahkan mencari peluang usaha untuk membangkitkan minat pelayanan anak didik.Semua kulakukan dengan kesadaran dan keinginan kuat untuk bisa mengambil peran.Kebutuhan untuk memberi manfaat dan kebutuhan sebagai manusia yang perlu modal ketika menghadap illahi nanti. Tidak banyak yang bisa kulakukan hanya memanfaatkan peluang yang ada, mendirikan PAUD di beberapa tempat dan meminta dukungan dari saudara dan teman yang peduli, semua sudah dibekali oleh Diknas kabupaten, bekal juknis juga bekal alat pembelajaran yang memadai. Keterkaitan pendidik PAUD dan pemerintah sangat erat, komunikasi terbuka saling memberi saran dan kritik kontinyu dilakukan oleh DIKNAS kabupaten.

Jika ada kesulitan dalam pengembangan lembaga PAUD di suatu daerah terpencil, pemerintah menggandeng komunitas LSM yang konsen dibidang pendidikan untuk menjalin jejaring, sehingga tetap bisa bersanding menjalankan program.
Searah perjalanan waktu, guru PAUD semakin banyak, seiring minimnya peluang usaha yang mampu menampung tenaga produktif yang ada di daerah. Banyak dari guru PAUD yang usianya belasan memilih profesi ini karena terpaksa. Namun tidak sedikit juga karena tertarik dengan dunia anak. Imbalan yang tak seberapa tidak menjadi problem yang signifikan, karena mereka banyak yang masih lajang. Mungkin menjadi masalah jika guru-guru itu sudah berumah tangga. Apalagi dukungan suami sangat kurang. Bahagia dan bangga menjadi guru PAUD karena hampir setiap hari kita bisa sholat dan berdoa bersama, bisa bertemu anak-anak dan wali murid, bisa belajar usaha dan berkreasi bersama, belajar mengenal lingkungan dan mencoba memberdayakan.

Bahagia menjadi guru PAUD karena setiap hari bisa beramal dengan ilmu, bisa berbagi cerita dengan anak-anak yang polos, dan yang lebih membahagiakan kala mereka sudah beranjak dewasa punya prestasi dan membanggakan ortunya, jadi tersipu diingatkan ortunya kita pernah menorehkan investasi pribadi anaknya. Nah sungguh kenikmatan yang luar biasa jika ini saya syukuri, karena sebetulnya diri ini ada karena berkontribusi pada jiwa anak-anak kita. Calon pemimpin masa depan bangsa. (Khusna guru PAUD Attaqwa dan TPA rumah cerdas Pelangi Bojonegoro)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.