Taat Kebaikan dan Kebenaran Membawa Keberkahan

magetan jati palupiOleh: Jati Palupi, guru SDIT Al Uswah, Magetan

MEPNews.id – Nama lelaki itu Zainudin. Cukup singkat. Orang asli Banjar, kelahiran Barabai di Kalimantan Selatan. Mengenal beliau adalah anugrah. Beliau adalah guru kehidupan nyata bagi saya.

Tahun 2006 kami bertemu di Banjarmasin, tepatnya di Kompleks Perumahan Wijaya Lestari. Saat itu saya dan suami diminta membantu teman yang ingin merintis Pendidikan Islam Terpadu di Kompleks Wijaya Lestari milik perusahaan kayu lapis PT Wijaya Lestari.

Beliau sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Waktu pertama kali bertemu, beliau guru TPA di kompleks perumahan dan guru ngaji privat di beberapa rumah. Dengan penguasaan Al Qur’an yang bagus, beliau juga sering menjadi imam sholat di mushola milik Direktur PT Wijaya Lestari.

Beliau sangat rendah hati, meski sempat mengaku jadi rendah diri bila bertemu kami. Pertama, karena kami orang Jawa dengan tingkat pendidikan lebih tinggi. Kedua, karena kami tamu direktur PT Wijaya Lestari. Tapi, kami memahamkan beliau bahwa kita bersaudara.

Karena kala itu belum punya rumah di Banjarmasin, maka beliau diminta tinggal di salah satu ruang TPA. Kalau ada tamu, beliau pindah ke ruang lain yang masih kosong. Tapi tak pernah kami lihat beliau mengeluh. Beliau melayani kami dengan sangat baik.

Singkat cerita, sekolah yang kami rintis berkembang pesat. Dari awalnya hanya Kelompok Bermain, lalu berkembang menjadi TK, SD, SMP bahkan sekarang sudah memiliki Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an bekerjasama dengan Pemerintah Turki.

Bagaimana dengan Ustadz Zainudin? Beliau masih seperti dulu. Rendah hati. Tak merasa sebagai orang pertama, senior, pendahulu atas megahnya sekolah yang beliau ikut menjadi salah satu batu batanya. Beliau setia pada perjuangan.

Awalnya, beliau menjadi guru TPA yang mendapat tugas tambahan menjadi tukang bersih-bersih sekolah. Semua tugas itu beliau laksanakan dengan tuntas. Selain itu, beliau masih mengajar privat ditambah jualan susu kedelai untuk tambahan penghasilan.

Pada masa awal, beliau pernah diminta jadi guru playgroup karena desakan kebutuhan guru yang belum terpenuhi. Maka, jungkir balik Ustadz Zainudin berusaha melaksankan tugas itu. Beliau pernah dievaluasi kesana dan kemari karena keterbatasan skill dan pengetahuan. Tapi, lagi-lagi beliau taat.

Ketika kami ke Banjarmasin lagi, Ustadz Zainudin sudah tidak mengajar di playgroup. Tugas beliau justru menjadi sopir antar jemput anak-anak playgroup. Ba’da subuh, beliau berjualan sayur. Sebelum jam 7 pagi, beliau bersama guru lain sudah siap menyambut anak-anak di pintu gerbang. Setelahnya, beliau mengerjakan tugas yayasan. Selesai kegiatan di playgroup, beliau membawa anak-anak ke penitipan yang agak jauh tempatnya dari sekolah. Sore hari, beliau keliling berjualan susu kedelai. Semua dilakukan tanpa keluhan.

Bila yayasan ada tamu, beliau juga yang mendapat tugas melayani. Saat tamu seringkali menginap lebih dari sehari, beliau melayani tempatnya, makannya, atau apa saja yang dibutuhkan. Beliau juga selalu siap bila yayasan menugaskannya ke mana saja. Bila sedang pergi, ganti istrinya yang berjualan.

Banyak pekerjaan, berarti banyak penghasilan? Eit, jangan bayangkan begitu. Karena masih rintisan, beliau kala itu tidak mendapat gaji banyak. Semua serba terbatas. Karena itu, beliau harus mencari tambahan penghasilannya.

Kalau tidak dapat gaji besar, kenapa beliau bisa taat dan tetap tawaduk?

Pernah, beliau mengaku merasa mendapatkan penghargaan. Ya, penghargaan! Yang beliau maksud adalah bisa tinggal di lingkungan yang baik, bergaul dengan orang-orang yang baik dan selalu mendapat ilmu. Rasa mendapat penghargaan itu mampu menutupi segala susah-payah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kemudian, pada 2016, saya mendapat kabar kejutan. Saat itu saya dan suami menghadiri acara kelulusan TK, SD dan tahfidz Qur’an di Nurul Fikri (Nufi) Banjarmasin. Kami mendapat cerita dari guru yang menjemput kami bahwa Ustadz Zainudin baru saja membeli mobil baru.

Subhanalllah. Kejutan, sehingga terus terang saya penasaran. Ustadz Zainudin menjadi satu-satunya staf Nufi yang punya mobil. Amazing, bukan? Tapi, maaf, dapat uang dari mana?

Kami mendapatkan jawaban dari Yayasan bahwa Ustadz Zainudin diminta menyediakan kebutuhan sayur karyawan PT Wijaya Lestari setiap hari. Kepercayaan ini diberikan karena Ustadz Zainudin telah membuktikan diri selama ini amanah menjalankan tugas-tugasnya. Itu meningkatkan kehidupan Ustadz Zainudin sampai menjadi satu-satunya staf Nufi yang mampu membeli mobil.

Setelah kehidupannya membaik, pertanyaannya adalah apakah sikap Ustadz Zai berubah?

Jawabannya, tidak. Beliau tetap tawaduk. Tetap melayani kami seperti dulu. Padahal, dari pengalaman belajar, beliau sudah pernah dikirim Yayasan untuk belajar ke Lembang, Jakarta dan seminar-seminar di Banjarmasin dan Balikpapan.

Menelusuri kehidupan Ustadz Zainudin bagaikan belajar pada guru kehidupan nyata. Mampu memaknai peristiwa menjadi sesuatu yang berharga dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk terus bergerak dan tawaduk dalam kondisi apa saja. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.