Kehilangan Panji

magetn tunggalOleh: Tunggal Satriadi Ariwasono, guru SD Islamiyah Magetan

MEPNews.id – Dengan tanpa perasaan bersalah, ditendangnya dua tempat sampah warna hijau dan kuning hingga terguling-guling. Sampah plastik bekas es lilin, bungkus kacang goreng, dan aneka kertas bekas sobekan buku, berhamburan memenuhi tangga yang tingginya kira-kira tujuh meter. Lalu, terdengar jeritan anak-anak kelas 1 di bawah tangga menyaksikan ulah si Panji.

Ya, hari itu Panji berulah lagi. Entah sudah berapa kali ia bikin onar di sekolah. Beberapa hari sebelumnya, ia membuat takut anak-anak ketika jam istirahat ia membawa anak kucing yang baru dilahirkan induknya. Jeritan anak-anak membuat beberapa guru keluar dari Ruang Guru untuk melihat apa yang terjadi.

Anak-anak berteriak melapor: “Pak Dedi… Panji membawa anak kucing, Pak. Itu, Pak… Itu, Pak.”

Dengan langkah lebar, Pak Dedi mendekati Panji yang dengan ekspresi wajah sangat datar masih memegang anak kucing yang mengeong-ngeong karena dipisahkan dari induknya.

“Panji..! Apa yang kamu lakukan?”suara guru olah raga itu cukup keras didengar.

Panji diam saja.

“Dari mana kamu memperoleh anak kucing itu?” tanya Pak Dedi agak geli memandang anak kucing yang bulunya masih basah itu.

Panji tak bergeming.

“Kembalikan!” perintah Pak Dedi, sambil memegang tangan Panji yang bebas.

Semua anak mengikuti langkah Panji yang dengan perlahan menuju pohon tallok di halaman sekolah. Di bawah rindangnya pohon, ternyata ada dua ekor anak kucing lagi yang sedang menyusu ke induknya.

Ya, begitulah. Jika sedang berulah, Panji selalu membuat gempar seluruh warga sekolah.

Sejak kelas 1, Panji sering melakukan hal yang membuat guru harus waspada. Suatu hari, ia pernah duduk di pinggir pagar tembok lantai dua masjid ketika teman-teman lainnya sedang sholat dhuha. Kakinya bergelantungan menjuntai ke bawah, sementara tangannya tidak berpegangan sama sekali. Bisa dibayangkan bila dia terjatuh dari ketinggian 10 meter.

Di lain waktu, ia berantem dengan temannya sambil membawa batu ukuran kepalan tangan orang dewasa. Batu itu bisa kapan saja terlempar ke wajah temannya.

Semua teman takut membuat masalah dengan Panji. Maka, bila Panji tidak masuk sekolah, teman-teman sekelasnya bersorak gembira. Heeeehhh.!!???!!

Pagi ini, suasana kelas 4 Anshor sangat hening. Semua khusuk menundukkan kepala sambil mencoret-coret menemukan jawaban soal matematika yang ditulis guru di papan tulis. Sampai suara ketukan empat kali berirama di pintu terdengar.

“Assalamu’alaikum, Bu Naning,” suara berat Pak Wai memberi salam.

“Waalaikumsalam, Pak Wai,” jawab Bu Naning dengan suara lembutnya, sambil melangkah menuju pintu yang memang sengaja tidak ditutup karena udara agak gerah.

Pak Wai tetap berdiri di depan pintu. Bu Naning menyusul. Lalu, terdengar perbincangan lirih di antara mereka. Sesekali, Pak Wai melirik ke dalam kelas tepat ke arah tempat duduknya Panji.

Tak berapa lama, Bu Naning mendekati Panji dan berkata, “Panji, hari ini kamu boleh pulang lebih awal. Masukkan buku dan pensimu!”

“Lho, Bu? Saya belum selesai.mengerjakan soal,” jawab Panji heran.

“Tidak apa-apa…..,”jawab Bu Naning sambil membantu Panji memasukkan peralatan sekolahnya ke dalam tas warna hitam bergambar Shinkansen kereta api tercepat di Jepang.

Setelah semuanya masuk tas, Bu Naning mengantar Panji keluar kelas.

Ternyata, ini hari terakhir warga sekolah melihat Panji. Esok dan esoknya lagi, sosok Panji tak terlihat di lingkungan sekolah. Tak terdengar lagi ulah luar biasanya yang sering menggegerkan.

Dari bagian Tata Usaha sekolah diperoleh informasi bahwa Panji pindah sekolah karena dirawat kakek dan neneknya. Entah apa yang terjadi dengan Panji. Yang pasti dia telah menjadi bagian sejarah dari sekolah. Meski sering berperilaku aneh, sejarahnya tidak akan mudah dilupakan. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.