Murid Membunuh Guru, Guru Menganiaya Murid

Oleh : Prie GS

MEPNews.id Baru saja saya hendak menulis tentang kasus guru yang meninggal usai dianiaya murid, hari ini, sudah saya baca berita tentang seorang guru yang dikabarkan menganiaya murid. Jadi, persoalannya bukan guru atau murid, persoalanya adalah sikap ‘’aniaya’’. Mental aniaya adalah watak yang telah diperagakan manusia sepanjang sejarahnya. Hukum memang bergerak maju, tetapi mental aniaya itu seperti menetap, lengkap dengan kekejamannya.

Mari kita tengok kemajuan hukum lebih dulu, sebuah kabar gembira tentu. Indikator kemajuan hukum dalah ditandainya kemajuan peradaban. Adab itu ditandai oleh makin meningginya nilai kemanusaain. Kini, ruang merokok dan bukan perokok telah dibedakan. Ini kemajuan adab. Jangankan merokok tertawa ngakak salah ruang saja mulai dianggap tak beradab. Etika bertelpon, bersendawa sampai tata cara ngupil yang beradab telah menjadi persoalan penting di hari ini.

Jangankan kekerasan fisik, kesalahan etik saja telah menimbulkan persoalan serius. Jangankan kesalahan eti,k, kesalahan non-verbal saja, seperti memaki, menggunjing, mulai berhadapan dengan hukum, apalagi memfintah. Jangankan memitnah, salah memilih istilah saja, walau tak bermaksud jahat, bisa mengundang perkara. Kata autis, misalnya, tak boleh dipergunakan sembarangan karena bisa dianggap tak beremphati pada penderitanya. Maka berhati-hatilah juga menggunakan kata buta, pincang, budheg, goblog dan seterusnya. Hati-hati mengatakan: ‘’Kebodohan adalah musuh negara,’’ karena bisa membuat pihak yang merasa bodoh tersinggung. Begitu pula celetukan ‘’dasar kampungan’’ bisa membuat orang kampung tersinggung. Kini adalah era ketika konotasi dan denotasi mulai agak sulit dibedakan walau ini karena hasil kemajuan.

Baik, kita kembali pada naluri ‘’aniaya’’ yang seperti tetap berada di tempatnya itu. Jika kini, salah memilih kata saja sudah dianggap masalah, bagaimana mungkin seseorang bisa membunuh sesamanya dan pembunuh itu murid, yang dibunuh itu guru pula. Di era ketika salah bercanda saja bisa dituntut secara hukum, bagaimana masih ada seseorang menghajar orang yang lebih tua di sebuah tempat ibadah dan korbannya adalah seorang ulama pula. Bagaimana mungkin ketika seseorang kedapatan tak bijaksana memperlakukan hewan piaraannya saja sudah memanciing kemarahan publik, tetapi masih bisa ditemui seseorang dihantam linggis hingga meninggal dan korbannya adalah seorang alim pula.

Saya pikir, kejahatan di era baru ini, era ketika HAM telah demikian maju, era ketika sekadar ‘’perbuatan tak menyenangkan’’ saja telah begitu dianggap kekejaman, aneka kejahatan itu akan mereda atau malah selesai sama sekali. Sisa kejahatan yang saya bayangkan tinggalah kejahatan etik, kejahatan non verbal dan kejahatan wacana. Tetapi bayangan saya keliru. Kejahatan itu, ternyata tak peduli HAM dan nyaris tak peduli apapun: ia masih kejahatan yang sedia kala. Di ruang-ruang wacana HAM terus mengalami kemajuan, bahwa bukit dan sungai yang dirusak saja telah memancing pembelaan, tetapi tepat di sebelahnya ada pesawat sipil, bepenunmapng awam, ditembak dan diledakkan di langit dengan ratusan penumpang lenyap sebagai korban. Di negara paling peka kepada HAM, adalah juga negara yang hampir setiap kali kita dengar seseorang menenteng senapan seperti dalam bioskop lalu menembaki siapa saja seperti mainan.

Kejahatan ternyata masih tetap wataknya: selalu tidak peduli. Satu-satunya kepedulian bagi kejahatan adalah kejahatan itu sendiri. Maka satu-satunya yang bisa mengimbangi ketidak pedulian itu ialah bahwa kita harus makin peduli. Jika setiap satu kejahatan, hanya akan menambah jumlah kepedulian, hidup masih layak digembirai. ***

Penulis Budayawan

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.