Ibu; Inspirator, Motivator dan Sumber Kesabaran

magetan jati palupiOleh: Jati Palupi, pengajar di SDIT Al Uswah, Magetan; ibu dari 5 anak

MEPNews.id – Ada hikmah besar dari Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, yang memiliki keyakinan kuat kepada Allah SWT dan tak pernah meninggalkan sunatullah untuk berikhtiar tawakal kepadaNya. Hikmah semacam ini pula saya rasakan dari almarhumah mertua saya Ibu Syarifah yang tegar dan ikhlas dalam menerima segala ketentuan Allah.

Ibu Syarifah dikaruniai 7 putra dan 2 putri (suami saya putra bungsu). Meski bersuamikan PNS di Kementrian Agama Kabupaten Ponorogo, beliau berjuang membantu menghidupi sembilan anak dengan berjualan jenang. Karena sesuatu hal atau karena keluguan, mereka harus kehilangan rumah di Ponorogo. Maka, Ibu Syarifah dengan seijin suami pulang ke Desa Jabung, Panekan, di Magetan. Sang suami bertahan di Ponorogo, karena kala itu tidak memungkinkan harus tiap hari pergi-pulang antara Ponorogo dan Magetan.

Dari sini, cerita saya mulai berdasarkan kesaksian putra dan putri beliau.

Kakak ipar ke-6 berkisah saat kehidupan dalam kondisi pas-pasan atau lebih tepatnya kekurangan. Ibu memutar otak bagaimana agar makanan cukup untuk seluruh keluarga. Adakalanya nasi dicampur gaplek atau ditukar nasi jagung.

Kakak ke-6 melihat di meja ada lauk yang sama seperti kemarin, dan bertanya, “Lauknya kok ini lagi to, Bu?”

Ibu menjawab dengan tersenyum (kata semua kakak, Ibu tidak pernah marah),“Memang adanya itu, Le. Masih mending ada lauk.”

Dengan cemberut, Kakak ke-6 menyahut, “Ora enak!!”

Ibu mendekati Kakak, dan mengucapkan kata-kata yang diingat sampai sekarang, “Nek pingin enak, mangane mengko sore wae…

Termotivasi ucapan Ibu, Kakak menahan makan sampai sore. Ketika sore tiba, dengan lauk yang sama, Kakak ternyata bisa makan dengan lahap.

Beberapa tahun kemudian, Kakak baru paham bahwa Ibu menyuruhnya puasa. Orang yang berbuka berpuasa, makanan dengan lauk apa pun jadi terasa enak. Akibat motivasi puasa ini, Kakak ke-6 menjadi lebih sabar. Kesabarannya berbuah ketika, setelah belasan tahun mengabdi di Polsek Plaosan, beliau diangkat menjadi PNS.

Kakak ipar ke-8 punya cerita sendiri. Kakak saya ini perempuan, dan mengakui sebagai yang paling bawel pada ibunya. Karena rasa bersalah, Kakak selalu berusaha membahagiakan Ibu.

Pernah, Kakak merasa jengkel pada Ibu. Ketika ada tamu, Ibu selalu menyuguhkan nasi. Ketika anaknya makan, Ibu selalu menyediakan nasi jagung. Maka, Kakak menyampaikan protesnya; “Ibu itu kalo sama orang lain pasti menyajikan nasi, tapi kalau sama anak sendiri malah ngasih nasi jagung.”

Sambil tersenyum Ibu menjawab, “Kan tamunya tidak setiap hari, Nduk.”

Kakak menjawab masih jengkel, “Mbok ya anaknya dulu. Jangan orang lain.”

Jawab ibu, “Lha kalau dikasihkan ke kamu sama kakak dan adikmu, yo ra cukup.”

Jawaban itu membuat kakak semakin marah, “Makanya to Bu, punya anak itu jangan banyak-banyak. Marai keluwen, ora iso mangan sego kaya liyane.”

Ibu memandang Kakak dan menjawab dengan sareh, “Lha kalau anaknya Ibu tidak banyak, kamu ya nggak ada.”

Mendengar jawaban itu, Kakak marahnya meledak, “Kalau susah begini, aku nggak usah lahir jadi anaknya Ibu. Mending lahir jadi anaknya presiden saja!”

Seketika Ibu mengelus dada. Dengan kemarahan yang ditahan, Ibu malah membalas dengan doa. “Ya, Ibu doakan kamu jadi anaknya presiden. Ben mulya uripmu, Nduk.”

Doa Ibu saat menahan amarah itu diijabah oleh Allah. Kakak ipar saya diperistri tetangga yang jadi tentara. Memulai karir dari bawah, tentara ini mendapat tugas menjadi Paspampres. Karena kejujurannya, ia dipertahankan menjadi pengawal presiden sangat lama, dan baru dipindah ke Mabes pada 2017.

Kakak perempuan saya ini selalu menangis kalau ingat apa yang dilontarkannya pada Ibu. Maka, Kakak selalu berusaha membahagiakan Ibu dengan segala cara.

Masih banyak cerita tentang ibu mertua saya. Beliau mengajarkan pada kami untuk saling menyayangi dengan cara sederhana. Misal, setiap saya berpamitan setelah berkunjung, beliau selalu menitipkan oleh-oleh untuk saudara yang rumahnya dekat dengan rumah saya. Oleh-olehnya sederhana, misalnya, hanya satu kantong kecil bawang merah.

Pernah, suami saya dimarahi kakaknya karena tidak mampir ke rumah beliau saat singgah di rumah tetangga. Maka, ketika suami saya mengadu, Ibu justru menasehatinya; “Posisimu itu sebagai adik. Kamu harus nguwongke kakak-kakakmu. Mampirlah ke rumah kakakmu walau sebentar.”

Kepada semua anaknya, Ibu berkata jujur hanya mampu menyekolahkan sampai SMA. Tapi Ibu mengiringi semua anaknya dengan doa yang tak pernah putus. Jam 02 malam, Beliau bangun untuk mendoakan satu-persatu anaknya. Alhamdulillah, semua anak sukses dalam studi dan karir.

Ibu juga tidak pernah berselisih dengan menantu-menantunya.

Di akhir hayat, kami menyaksikan keajaiban makam beliau. Di makam desa, ada beberapa tempat yang sudah ditandai Kakak karena dulu waktu digali ada batunya sehingga yang meninggal harus dicarikan lokasi lain. Saat Ibu tiada, ternyata yang digali adalah tanah yang telah diberi tanda oleh Kakak. Namun, ajaibnya, tidak satu batu pun ada di tempat itu saat digali. Justru tanahnya gembur dan mudah digali. Kakak saya tidak percaya dengan kejadian tersebut. Tapi itulah yang terjadi.

Sementara, kebahagiaan saya adalah diberi kesempatan menunggui dan menuntun Ibu di saat-saat terakhir, kemudian memandikan dan mensholatkan beliau.

Semoga cerita ini ada manfaatnya dan hikmahnya, dan menjadikan kita hamba Allah yang selalu yakin akan pertolonganNya. Sabar dan bersyukur.

Amiin.

Facebook Comments

POST A COMMENT.