Hormati Guru, Sayangi Teman dan Kartu Kuning Zaadith

Catatan Oase :

MEPNews.id —– Masa masa periode tahun 70 an sampai tahun 80 an, ketika anda semua, yang saat ini sudah jadi orang tua dari anak anak anak anda dan bahkan sudah jadi kakek nenek dari cucu cucu anda yang saat ini masih bersekolah dibangku sekolah dasar dan menengah, pernahkah anda lantunkan senandung penghormatan kepada orang tua, guru dan teman?

Diawal saya masih bersekolah di sekolah dasar lagu lagu yang disenadungkan oleh pelajar saat itu adalah senandung senandung yang membangun semangat dan penghormatan kepada sesama, masih ingatkah anda semua senandung ” Murid Budiman ” ?

Oh ibu dan ayah selamat pagi
Ku pergi belajar sampai kau nanti
Belajar nan penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu, sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman

Masih adakah lagu itu bersenandung di telinga anak anak kita, anak anak zaman now, anak anak zaman millenial sebagai pewaris sah bumi pertiwi yang bernama indonesia ini?

Ditengah serbuan senandung lagu alamat palsunya ayu ting ting, jaran goyangnya Via Vallend serta tari tarian korea dan musik musik lokal yang mengumbar erotisme? Anak anak kita lebih hafal jaran goyangnya Via Vallend dibanding senandung rayuan pulau kelapa dan padamu negeri, kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab?

Televisi kita sudah menjadi industri dan menjadikan rating sebagai komoditi, meski tak baik bagi generasi negeri ini…. Anak anak kita lebih mengenal goyang ngebornya inul, goyang itiknya Zaskia Gothik dan tarian tarian modern, remo menjadi barang antik, ludruk menjadi ambruk…. Ada kartu kuning didunia pertelevisian kita.

Belum lagi pendidikan kita mengajarkan persaingan bukan mengajarkan kegotong royongan dan sinergisitas yang menghargai keragaman, sehingga sesuatu disebut baik bila memenuhi standar angka angka kapitalis dan materialis, anak disebut pandai kalau matematikanya 10, meski kalau dijalan dia membiarkan seorang ibu menyeberang sendirian. Pendidikan kita menjadi kering dari sentuhan moral, kalau toh ada itu hanya artifisial…. Hanya diukur dari deretan angka angka kuantitatif ….ada kartu kuning di dunia pendidikan kita.

Kalau anak anak kita menjadi anak anak yang tak peduli, masih disalahkankah anak anak ini? Bukankah kita yang menghendaki anak anak seperti ini? Kalua anak anak itu memprotes terhadap perlakuan yang tak wajar kepadanya, bukankah itu adalah potret sesuatu yang jujur dan harus kita apresiasi ? Tapi bisahkah kita sebagai orang tua, guru, pemerintah menangkap makna kejujuran yang diwujudkan ? Kita menjadi sangat protektif dan defense, sehingga kita selalu memperlakukan mereka yang berbeda sebagai ” musuh ” yang harus dibahisi bersama sama, kita selalu berkata kita sudah lakukan, kita mengerjakan yang terbaik….. Ah kita seperti orang mengigau dalam tidur panjang….ada kartu kuning didalam cara kita memperlakukan orang.

Balada sampang dengan tragedi murid dan guru, serta kisah kartu kuning Zaadith ketua BEM UI adalah potret kejujuran yang memperingatkan bahwa ada yang bias pada kebijakan kebijakan negeri, kebijakan pendidikannya, kebijakan sosial, kebijakan hukum dan lain lain

Ananda H, Pak Guru Budi, Adinda Zaadith adalah korban dari kebijakan negeri, mereka protes terhadap perlakuan yang tak lagi mengerti, Ananda H dengan perlawanannya terhadap sistem pembelajaran, Pak Guru Budi dengan keberaniannya dan kejujurannya memperingatkan murid agar menjadi murid yang baik dan budiman, dan Zaadith dengan kartu kuningnya, mengingatkan ada sesuatu yang ia gelisahkan terhadap negeri ini …..mengapa kita harus menutup diri ?

Kalau kemudian Pak Jokowi yang dikartu kuningkan oleh Zaadith dan merespon dengan kata kata biarlah nanti para mahasiswa itu saya ajak ke Asmat agar mereka bisa memahami kenyataan yang sebenarnya, saya kira ini adalah sikap sinyal bahwa dunia pendidikan tinggi jangan hanya berkutat pada teori teori belaka, ajaklah mahasiswa memahami realita yang sehingga mereka bisa lebih cerdas memahami kenyataan, saya kira inilah saatnya kampus membuktikan, jangan hanya berdiri dimenara gading dan berjarak dengan fakta….. Kalau yang terjadi seperti ini maka ada kartu kuning di dunia pendidikan tinggi kita.

Sudah seharusnya semua harus berbenah, jangan hanya beretorika dan mengola kata kata, jujur terhadap realita dan berani berubah adalah kebutuhan bangsa.

” Dan jika Kami ( Allah ) hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang “ mutraf ” ( yang hidup mewah ) di negeri itu supaya mentaati Kami (Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. ( QS. Al-Israa’ : 16 )

Dalam hal kebijakan pendidikan,ada baiknya kita renungkan lagi senandung diatas, dijadikan ruh pembelajaran dan diwujudkan dalam membangun lingkungan sekolah….. Sekolah sebagai rumah bagi anak anak adalah sebuah keniscayaan.

” Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak berupaya merubahnya sendiri ” ( Q.S Ar Raad : 11 )

Assalammualaikum wr wb…. Selamat pagi, selamat befaktifitas, semoga menjadi hari yang berkah dan diriidhoi Allah sebagai kebaikan…. Aamien

Surabaya, 5 Pebruari 2018

M. Isa Ansori

Pengajar di STT Malang, Sekretaris Lembaga Perlindunga Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.