Guru Sampang dan Kekasih Kita

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Pak Budi, seorang guru Kesenian SMA di Sampang Madura meninggal dunia, yang menurut pemberitaan media online akibat penganiayaan oleh muridnya sendiri. Secara pribadi saya menunggu, seumpama ada, kekonyolan pemikir bebas yang membela sang murid. “Silahkan eksplorasi pemikiran bebasmu hingga tak terasa bahwa engkau benar-benar bodoh dibawah kebodohan yang paling bawah,” demikian saya membatin jika ada yang mencoba membela si murid.

Si murid harus dihukum secara serius. Ini tidak bisa ditawar. Kita tidak boleh kecolongan oleh kebebasan beropini bahwa wajar anak SMA berpotensi brutal, nakal dan keras. Kita tidak boleh mentolerir hal yang demikian, justru demi masa depan si murid itu sendiri. Kalau sampai dia bebas hukum, maka hancurlah kehidupan kemanusiaan kita dengan sangat parah separah-parahnya. Seakan kita sudah dan telah memasuki kegelapan yang tak mungkin bisa ditolong untuk dicahayai mengenai benar salah, baik buruk, berakhlak atau kurang ajar.

Mungkin kita bisa tenang-tenang saja dengan kejadian terbunuhnya guru Budi Sampang ini. Sebagaimana kita tenang melihat keburukan yang bagaimana pun, dari soal kejamnya narkoba hingga pembunuhan. Penyebabnya mungkin sederhana bahwa yang tertimpa musibah atau masalah bukanlah kekasih kita, dalam arti anak kita, keluarga kita, suami istri kita, atau teman dan handai taulan tercinta kita sendiri.

Kita akan serius dan berfikir keras mengenai betapa perlunya maksimalisasi pencegahan narkoba jika yang terkena narkoba adalah bagian dari orang terkasih kita sendiri, entah anak, suami atau istri, dan seterusnya. Kita baru serius mengenai murid perlu dihukum jika yang jadi korban hingga ke kematian adalah handai taulan kita sendiri. Jika guru Budi Sampang bukan bagian dari saudara kita, kita acuh tak acuh saja. Separah itukah perasaan kita atas tragedi ini?

Benarkah kekerasan itu pasti bermakna kekerasan? Tidak bisakah kita merasakan cubitan seorang guru itu sebagai bagian kasih sayang buat masa depan dan penyelamatan para murid itu sendiri? Tidak bisakah kita membedakan mana coretan kasih sayang di wajah ataukah coretan kebencian dan penuh dendam? Tidak bisakah kita menyadari bahwa hukuman itu perlu demi menata moralitas generasi masa depan?

Gaji guru honorer tak seberapa, tapi ia dituntut untuk mencetak generasi masa depan yang berprestasi, berakhlak, pintar, dan seterusnya. Sudah gitu seorang guru dengan gaji minim itu harus sangat berhati-hati menjaga moralitas dirinya sendiri. Jika guru, terutama perempuan, sampai menggunakan mode seperti artis yang dibayar puluhan juta itu, maka meluncurlah protes keras: “Guru kok rambutnya disemir merah, kukunya panjang dicat warna dan lekuk bodynya ketat?”

Saya juga tidak setuju jika ada guru yang bergaya artis. Tapi yang saya bidik ialah mereka para guru itu sudah lumayan dalam berpuasa mode sedemikian rupa dibandingkan hura-hura dan ngawurnya para artis, masihkah kita tidak terenyuh dan berempati jika ada guru hingga meninggal dunia akibat kurang ajarnya seorang siswa?

Kita harus menghormati guru. Jika kita turut menghancurkannya, maka kehancuran suatu bangsa besar, sudah dimulai dan telah dilakukan secara bertahap dan pelan-pelan.

Mungkin saja saya salah, tapi selamat jalan Pak Guru Budi. Surga telah menantimu. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan, yakni istri almarhum yang telah mengandung 4 bulan, diberi ketabahan oleh Allah menjalani kepahitan ini. (Banyuwangi, 4 Februari 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.