Bagaimana Bakteri Bisa Eek Emas Murni?

MEPNews.id – Lupakan ‘angsa bertelur emas’, karena tidak nyata. Yang lebih nyata adalah Cupriavidus metallidurans. Bakteri kecil tapi keras ini bisa memakan logam berat beracun dan mengeluarkan sebagai eek emas murni kecil-kecil.

bakteri emas

Bakteri emas Cupriavidus metallidurans

Bagaimana dan mengapa hal itu terjadi, belum bisa dipahami sepenuhnya. Maka, dikabarkan Michael Irving di New Atlas edisi 2 Februari 2018, periset dari Jerman dan Australia mengintip sisi internal mikroorganisme itu dan menemukan mekanisme mengubah logam racun jadi emas.

C. metallidurans memang istimewa. Ia bisa hidup di tanah penuh logam berat yang beracun bagi kebanyakan mikroorganisme lainnya. Tidak sekadar bertahan hidup, ia juga berkembang dan mampu melakukan biomineralisasi senyawa beracun.

“Selain logam berat beracun, kondisi di tanah itu lumayan,” kata Dietrich H. Nies, yang melaporkan hasil penelitiannya di jurnal Applied and Environmental Microbiology. “Ada cukup hidrogen untuk hemat energi, dan hampir tidak ada pemangsa atau pesaing. Namun, jika memilih hidup di sini, harus punya cara melindungi diri dari zat-zat beracun.”

Para peneliti dari Martin Luther University Halle-Wittenberg (MLU) dan Technical University of Munich (TUM) dari Jerman serta University of Adelaide dari Australia berhasil mengidentifikasi bagaimana mekanisme pertahanan diri itu.

C. metaliduran butuh tembaga untuk hidup, dan untuk mengekstrak elemen dari sekitarnya, untuk mengubahnya menjadi bentuk yang lebih mudah untuk ‘dicerna’. Tapi, ada beberapa masalah. Kadar tembaga yang tinggi bersifat racun, dan tembaga bukan satu-satunya logam berat di dalam tanah. Senyawa emas juga dicerna dalam tubuhnya melalui proses yang sama. Bentuk emas alami ini cukup beracun, dan bahkan lebih mematikan bila dicampur dengan senyawa tembaga.

Untuk mengatasi masalah pertama, C. metallidurans memiliki enzim yang disebut CupA yang memompa kelebihan tembaga atau emas. Ketika emas dan tembaga keduanya terangkat, bakteri menghentikan enzim ini dan mengaktifkan enzim berbeda, yakni CopA. Enzim baru ini mengubah emas dan tembaga kembali menjadi bentuk aslinya yang sulit dicerna, dan secara efektif memecahkan masalah kedua. Eeknya emas murni dan tembaga murni.

“Mekanisme ini untuk memastikan lebih sedikit senyawa tembaga dan emas masuk ke dalam interior sel,” kata Nies. “Bakteri itu menjadi lebih sedikit terracuni. Enzim yang memompa keluar tembaga dapat membuang kelebihan tembaga tanpa hambatan. Konsekuensi lain; senyawa emas yang sulit diserap juga bisa diubah di daerah terluar sel menjadi nugget emas yang tidak berbahaya dan ukurannya hanya beberapa nanometer.”

Melalui proses ini, C. metalliduran mungkin menjadi penyebab keberadaan beberapa ‘emas sekunder’ alami di Bumi.

Emas primer mengacu pada endapan kuno yang terbentuk secara geologis, sedangkan emas sekunder umurnya jauh lebih muda. Emas sekunder biasanya lebih dekat ke permukaan Bumi dan sering ditemukan dalam bentuk nugget. Ini sering hasil dari groundwater yang melarutkan emas primer dan mengangkutnya ke atas dekat permukaan bumi. Namun, bakteri tertentu mungkin juga ‘mengunyah’ serpihan kecil emas primer yang kemudian membawanya ke dekat permukaan. Di sana, C. metalliduran mengubahnya menjadi emas sekunder.

Para periset mengatakan, pemahaman lebih lanjut tentang siklus ini pada akhirnya memungkinkan pemecahan ramah lingkungan atas emas dari bijih yang kurang kaya. Pemecahan ramah lingkungan ini tanpa memerlukan bahan kimia beracun seperti merkuri. Penggantinya adalah bakteri.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.