Wahai Guru dan Orang Tua; Kembalilah ke Jalan yang Benar

bojonegoro solehah kecilOleh: Sholehah Yuliati, guru PAUD Al-Hidayah, Pacul, Bojonegoro

MEPNews.id – Berita buruk terulang, entah sudah urutan ke berapa. Pendidikan di Indonesia terkoyak, akhlak tercabik, moral ternoda, akibat olah oknum. Oknum guru melecehkan murid, oknum guru menghajar murid. Berita paling up to date, oknum murid menganiaya guru yang berujung ke kematian.

Ketika guru menjadi pelaku, banyak yang menghakimi tanpa berpikir kronologis peristiwa. Mereka bilang; “Melanggar HAM. Hukum itu guru.” Tapi, jika pelakunya murid? Mereka yang sering berteriak HAM, HAM, HAM itu membisu. Bungkam tak membela. Untuk kasus terakhir di Sampang, alasannya si pelaku masih di bawah umur.

Tujuan pendidikan dalam UU no 20 tahun 2003 jelas dan gamblang; “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratif serta bertanggung jawab.”

Bila dibaca dengan seksama, dari sekian banyak tujuan yang ingin dicapai ada satu yang perlu diprioritaskan; “Berakhlak Mulia”.

Pertanyaannya; berhasilkah para guru berjuang membentuk peserta didik yang berakhlak mulia? Berhasilkah sekolah menghasilkan peserta didik yang santun, sopan, takdhim, terhadap guru, terhadap orang tua? Atau, justru  proses pendidikan di sekolah melahirkan anak yang keparat?

Siapa yang salah bila pendidikan masih melahirkan sejumlah kecil anak keparat? Apakah proses pendidikan di sekolah? Apakah proses pengasuhan orang tua di rumah? Apakah karena kurikulum yang gonta ganti? Apakah saat perumusan visi dan misi? Atau justru karena kerasnya dunia sekitar?

Wahai guru dan orang tua, mari berpikir dan muhasabah; sudah benarkah kita dalam mendidik generasi?

Coba kita renungkan kata GURU.

G = Gapailah kebahagian dengan perjuangan

U = Usahakan dengan cara ikhlas

R = Relakan ilmu untuk anak didik

U = Uraikan semua persoalan dengan pasrah kepada Allah SWT.

Pak Budi guru SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, bernasib malang, kembali ke rahmatullah dengan cara tidak wajar, yakni dianiaya muridnya sendiri. Kasus ini, menurut saya, harus banyak faktor yang harus dilihat.

Dari orang tua

Berapa kali orang tua menyebut nama anak-anak dalam doa malamnya? Tiga kali, dua kali, sekali, atau tidak pernah? Makanan apa yang diberikan kepada anak-anaknya? Halal? Haram? Atau, subhat? Menurut para kyai, dari sini bisa muncul generasi yang tidak berakhlak jika di darah mereka mengalir makanan minuman yang tidak jelas.

Dari guru

Keikhlasan guru patut dipertanyakan dalam mengalirkan ilmu kepada anak didik. Jangan-jangan, banyak guru yang hanya hadir dalam dalam bentuk fisik tanpa ruh. Yang penting datang pagi lalu ceklok, pulang ceklok, dan bayaran diterima tiap bulan. Berhasil atau tidak dalam mendidik, itu mah bukan urusan.

Padahal, karakter guru dan orang tua itu bisa menentukan apakah menghasilkan generasi berakhlak atau generasi keparat yang jauh dari akhlak.

Siapa yang bertanggung jawab untuk kasus Sampang bila sudah terlanjur terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.

Maka, tantangan guru dan orang tua ke depan adalah kembali ke jalan yang benar. Dampingi generasi dengan cinta dan kasih saying untuk melahirkan generasi berakhlak mulia.

Cukup Pak Budi yang mengalami. Semoga Pak Budi khusnul khotimah. Selanjutnya, semoga Allah memudahkan.

Facebook Comments

POST A COMMENT.