Mengubah Karakter Keras Siswa Jadi Konstruktif

magetan supriyadiOleh: Supriyadi SPd, Kepala SDN Ringinagung 1 Magetan

MEPNews.id – Mendengar berita siswa memukul guru (di Kabupaten Sampang, 1 Pebruari 2018) hingga berujung maut, hati ini berontak dan memendam sejuta tanya. Mengapa, bagaimana, hal tersebut terjadi? Masih ada segudang pertanyaan lain yang sulit terungkapkan. Miris rasanya kita sebagai pendidik jika melahirkan siswa dengan karakter seperti itu.

Tantangan dunia pendidikan untuk menegakkan pendidikan karakter, sekali lagi, mendapat tamparan keras dari peristiwa Sampang tersebut. Seluruh elemen pendidikan di lembaga pendidikan formal sudah seharusnya membawa angin perubahan menuju bagaimana menjadikan pendidikan kita ramah anak dan berkarakter Indonesia.

Terasa sekali bagaimana kesenjangan pendidikan karakter siswa saat berada di lingkungan pendidikan formalnya dan saat sudah kembali ke tengah masyarakat dan komunitas pergaulannya yang beragam. Banyak hal yang didapatkan siswa di lingkungan pendidikan formalnya terasa berseberangan dengan pengalaman hidup pribadi di tengah pergaulan lingkungan masyarakat tersebut.

Ki Hajar Dewantara telah mewariskan Sistem Among dengan Trilogi Pendidikan yang terkenal ‘Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.’ Maka, kita sebagai pendidik harus menjadi pewaris yang lebih kreatif, inovatif, imajinatif, konstruktif, serta aktif dalam mengembangkan pendidikan karakter di lembaga pendidikan formal kita.

Lima tahun silam, SDN Ringinagung 1 di Magetan memulai langkah kecil untuk melakukan perubahan terhadap karakter siswa dan pendidik, sekaligus karakter dari para orang tua siswa. Keadaan siswa kala itu sangat agresif dengan bahasa kasar dan tak sopan serta gemar melakukan tindakan kekerasan dan pemerasan terhadap teman sebayanya. Kebiasaan orang tua yang pergi kerja pagi buta dan pulang kerja malam hari menambah ketidakhadiran sosok teladan di rumah. Tak pelak, para siswa lebih memilih berbaur dengan lingkungan yang lebih dewasa dan beragam. Ketaatan beribadah para siswa sangat memprihatinkan karena kurangnya motivasi dan keteladan nyata dari orang-orang terdekat.

Atas dasar fakta dan catatan analisa kami, maka dimulailah tindakan nyata yang diharapkan mampu menjadi stimulus terhadap terjadinya perubahan karakter para siswa. Kami mulai melakukan kegiatan keagamaan secara terprogram dan terkawal, kegiatan bakti sosial peduli kaum dhuafa, mengelola Idul Qurban menjadi lebih baik dengan mengajak semua orangtua serta guru dan siswa. Tindakan nyata keagamaan ini ternyata mendapat respon sangat membanggakan, hingga mampu memberikan pencerahan bagi semua warga di lembaga pendidikan formal kami.

Selain itu, kami mengaktifkan kegiatan kepramukaan sebagai kawah candradimuka pembinaan mental dan karakter dengan mengamalkan Dwi Satya dan Dwi Darma serta mengamalkan Tri Satya dan Dasa Darma melalui kegiatan rutin yang terprogram serta terkontrol dan terkawal. Setiap Sabtu Ceria, siswa digodok kegiatan out class dengan melakukan out bond memperbanyak permainan individual, berpasangan, kelompok kecil, hingga kelompok besar. Ini untuk membangun karakter diri yang kuat sekaligus meningkatkan kerjasama, kepedulian, gotong royong, kemandirian, kekompakan, rasa percaya diri, integritas hingga nasionalisme. Permainan pembentukan karakter (character building) dan kerja dalam kelompok (team work), lambat namun pasti, mulai membelokkan arah karakter siswa menuju ke yang lebih toleran, bersemangat, peduli, dan mencintai lingkungan.

Pemutaran film-film inspiratif secara terpilih dan terprogram mampu menjadi motivasi siswa untuk berubah menjadi lebih baik. Mengikutsertakan siswa dalam lomba-lomba sesering mungkin dengan melalui pembinaan dan pembekalan rutin yang berkualitas, mampu mendongkrak mental siswa menjadi lebih percaya diri dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita. Pembiasaan sarapan pagi bersama-sama dengan menu empat sehat yang dibawa siswa dari rumah, mampu meningkatkan kegemaran makan makanan sehat dan higienis.

Lemahnya siswa dalam hal membaca buku-buku sempat menjadi hambatan tersendiri dalam mendorong peningkatan prestasi belajar. Maka, kami memulainya dengan Gerakan Pagi Membaca secara bersama-sama di halaman sekolah, dengan memanfaatkan buku-buku perpustakaan. Melalui kegiatan Sabtu Ceria, setiap siswa di kelas berusaha menjadikan lingkungan menjadi lebih bersih, minim debu dan sampah. Lingkungan yang dulu penuh sampah berserakan kini menjadi bersih, indah, hijau dan lebih tertata.

Melalui kegiatan permainan yang sesuai dengan dunia para siswa maka yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak baik menjadi lebih baik, yang tidak disiplin menjadi lebih disiplin.

Kekhawatiran yang dulu sempat menghantui pikiran, lambat laun namun pasti mulai dapat teratasi dengan menerapkan program yang dirancang secara cermat, terukur, terkendali, terawasi, terevaluasi serta ditindaklanjuti dengan program pengiring yang lebih segar dan bermakna.

Harapan kami, kejadian buruk tidak menimpa para siswa, guru-guru, serta orang tua. Semoga lahir generasi-generasi yang berkarakter Indonesia yang Berbhinneka Tunggal Ika  dan berjiwa Pancasila.(*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.