Yang Takut, Yang Lebih Mungkin Digigit Anjing

MEPNews.id – “Kalau ada anjing menggonggong, kau jongkok saja dan pura-pura ambil batu untuk menimpuk,” kata orang tua-tua pada anak-anak kecil. “Kalau takut, kau malah dikejar dan bisa-bisa kau digigit.”

Benar juga nasihat orang tua-tua itu. Meski mereka belum pasti peneliti, sarjana atau profesor, pengalaman memberi kearifan pada mereka untuk menghadapi bahaya. Nasihat ini sekarang terbukti ilmiah lewat penelitan para ahli.

Sarah Knapton, di The Telegraph edisi 1 Februari 2018, mengabarkan peneliti dari Liverpool University di Inggris membuktikan kebenaran nasihat itu. Dalam hasil riset yang dipublikasikan di Journal of Epidemiology and Community Health, mereka menemukan orang-orang yang gampang cemas atau takut jauh lebih mungkin digigit anjing daripada orang tenang dan santai.

Ini studi ilmiah pertama yang menunjukkan kondisi seseorang dapat memicu serangan anjing. Untuk penelitian, 700 orang dinilai tingkat stabilitas emosional mereka dalam skala 1 – 7, dan kemudian ditanyai apakah pernah diserang atau digigit anjing. Hasilnya, setiap kenaikan poin pada skor 1 – 7 terkaitkan dengan penurunan 23 persen kemungkinan serangan anjing.

Dr Carri Westgarth, dari Departemen Epidemiologi dan Kesehatan Populasi di Liverpool University, mengatakan, “Semakin kurang stabil kondisi emosional, semakin meningkat frekuensi serangan anjing. Neurotisme terkait dengan perilaku masyarakat. Aspek kepribadian ini mungkin terkait dengan perilaku yang memancing serangan anjing. Skema pencegahan gigitan anjing mungkin perlu menargetkan perilaku tertentu di sekitar anjing dengan tipe kepribadian berbeda.”

Kasus-kasus digigit anjing bertebaran di mana-mana. Di Inggris Raya ada 8,5 juta anjing dan lebih dari 6.500 orang memerlukan perawatan di rumah sakit karena luka gigitan anjing setiap tahun. Angka terbaru menunjukkan, terjadi 14.500 serangan anjing terhadap tukang pos selama lima tahun terakhir. Rata-rata tujuh serangan per hari.

Survei menemukan, satu dari empat responden mengatakan pernah digigit anjing, kaum pria dua kali lebih mungkin digigit dibanding wanita. Orang yang memiliki beberapa anjing tiga kali lebih mungkin digigit daripada yang tidak memiliki anjing. Lebih dari separo responden mengaku digigit anjing yang tidak mereka kenal.

Catatan di rumah sakit menunjukkan, kasus gigitan anjing terjadi 740 per 100.000 penduduk. Namun, survei Liverpool mengindikasikan 1.873 gigitan per 100.000 panduduk, atau hampir tiga kali dari angka resmi. Ini menunjukkan gigitan anjing jauh lebih marak daripada yang diperkirakan. Bisa jadi, banyak korban merasa tidak perlu ke rumah sakit. Dari yang ke rumah sakit, 33% memerlukan perawatan ringan dan 0,6% memerlukan perawatan serius.

Kennel Club, organisasi pemelihara anjing di Inggris, mengatakan perilaku anjing sering dipicu cara manusia berperilaku saat di hadapan hewan.

Caroline Kisko, Sekretaris Kennel Club, mengatakan, “Bagaimana reaksi anjing sering ditentukan oleh bagaimana orang bereaksi terhadap anjing. Jadi, orang perlu mengenali cara terbaik untuk berinteraksi dengan anjing. Pemilik anjing juga harus menjaga hewan peliharaan tetap terkendali. Pemilik anjing juga harus sadar tidak setiap orang bisa merasa nyaman berada di sekitar anjing.”

Insiden gigitan anjing dapat terjadi karena berbagai alasan. Meski insiden ini relatif jarang, harus diingat bahwa setiap anjing bisa kapan saja liar menggigit sekaligus bisa kapan saja dilatih untuk baik di masyarakat manusia. “Oleh karena itu, semua anjing harus dilatih dengan benar dan disosialisasikan sejak dini untuk mengurangi risiko perilaku buruk,” kata Kisko. (*)

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.