Semut, Kutu, dan Kepompong

wahyuOleh: Wahyu Dwi Fintarto

MEPNews.id – Matahari belum terlalu lama beranjak dari cakrawala. Suasana mulai ramai dengan hiruk-pikuk. Sebagian besar makhluk telah memulai aktivitas rutin mereka.

Seekor semut dan seekor kutu melintasi jalan berdebu di pinggir sungai. Keduanya terlihat ceria. Sambil berjalan secara beriringan, dua makhluk kecil tersebut berbincang tentang kekuatan mereka. Keduanya lantas membanggakan kemampuan masing-masing.

“Tubuhku memang mungil. Tetapi, aku mampu merepotkan sekaligus membikin manusia kesakitan,” koar si kutu. “Aku sering menyusup ke rambut manusia. Lalu, aku gigit kuat-kuat kulit di bagian kepala mereka,” katanya.

“Aku juga suka mengisap darah manusia. Karena gigitanku, kulit mereka akhirnya menjadi bentol-bentol dan bahkan sampai terluka. Manusia benar-benar tak berdaya,” tambah si kutu menyombongkan dirinya. “Bukankah itu menjadi bukti bahwa aku termasuk makhluk yang kuat?”

Mendengar cerita tersebut, semut ikut angkat suara. Ia tidak mau kalah pamer kemampuan. “Itu masih belum seberapa. Aku sudah biasa menggigit manusia hingga tubuhnya bentol dan bengkak cukup lama. Jangankan manusia, gajah yang badannya gedhe juga tidak sanggup melawan aku. Kemarin lusa aku masuki telinganya, lalu aku gigit bagian dalamnya. Gajah itu langsung kelenger. Ia roboh dan pingsan cukup lama,” cerita semut dengan pongah.

Kesombongan si semut tidak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan ceritanya. “Tidak sebatas itu. Aku dan kawan-kawanku sesama semut juga sanggup mengangkat bulir-bulir beras, jagung, gula pasir, roti, dan benda-benda lain yang lebih besar untuk santapan kami sehari-hari. Kami harus menyimpan persediaan makanan yang banyak. Semua yang bisa dimakan ya harus aku angkat bersama kawan-kawanku,” terangnya.

“Kamu benar, semut. Kita adalah dua makhluk yang kuat meski bertubuh kecil. Sepertinya tidak ada serangga kecil yang sekuat kita. Mana ada yang bisa menandingi. Hahahahaha,” kata kutu. Mereka pun tergelak saat membanggakan kekuatan masing-masing.

Saat keduanya asyik bercerita dan membanggakan diri, dahan dan ranting dari sebatang pohon yang berada di dekat mereka bergoyang-goyang. Ranting itu bergerak naik turun karena tertiup angin. Pada salah satu daun di ranting tersebut, ada kepompong yang melekat sejak beberapa hari lalu. Kepompong itu seolah tidak berdaya di atas daun yang terus bergoyang diterpa angin. Pemandangan tersebut tidak luput dari perhatian semut dan kutu.

“Lihatlah kepompong itu. Kasihan, ia hanya diam sejak tadi. Padahal, ia nyaris terjatuh dari daun yang tidak henti diterpa angin. Meski nyawanya terancam, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh makhluk yang tidak berdaya. Betapa malangnya,” ucap si semut meremehkan.

“Betul sekali, semut. Kepompong itu benar-benar makhluk yang tidak berguna. Begitu angin yang lebih kencang datang, lalu daun jatuh ke sungai, tamatlah ia,” ejek si kutu. “Tidak seperti kita yang kuat dan digdaya.”

Tidak hanya terus membanggakan diri masing-masing, semut dan kutu juga tidak henti-hentinya mengejek kepompong. Keduanya lalu mendekati lokasi kepompong di pohon kecil yang berada persis di bibir sungai.

Tiba-tiba sebuah perahu motor kecil melaju kencang di dekat mereka. Byuuur…byuuur…byuuur. Air sungai pun muncrat. Muntahan air langsung menerjang tubuh semut dan kutu.

Tanpa mampu menghindar lagi, keduanya terseret hingga tercebur ke sungai. Semut dan kutu pun panik dan menjadi ketakutan. Apa daya mereka tidak bisa berenang. Tidak ingin tenggelam, keduanya berusaha meminta bantuan. “Tolong, tolong, tolong,” teriak mereka sekuat tenaga.

Di tengah kepanikan semut dan kutu, seekor kupu-kupu terbang mendekati mereka. Ternyata kupu-kupu tersebut metamorfosis dari kepompong yang menempel di daun. Setelah lama berdiam diri, kepompong akhirnya berubah bentuk. Menjadi kupu-kupu yang bisa terbang dan bersayap indah.

Khawatir dengan keselamatan semut dan kutu, kupu-kupu pun datang menolong. Tanpa banyak bicara dan berpikir, ia bergegas membantu mereka. “Ayo cepat, semut dan kutu. Pegangi erat kaki-kakiku agar kalian tidak sampai tenggelam,” seru kupu-kupu. Begitu semut dan kutu berpegangan, kupu-kupu langsung terbang. Ia membawa keduanya jauh dari sungai. Selamatlah mereka dari ancaman maut.

Semut dan kutu akhirnya tersadar dengan kesombongan mereka. Keduanya merasa malu karena selama ini terlalu tinggi hati dan membanggakan diri sendiri secara berlebihan. Mereka lebih malu lagi karena telah menghina dan meremehkan kepompong atau kupu-kupu. Siapa sangka, kepompong yang menjadi olok-olok justru telah menyelamatkan nyawa mereka.

Semut dan kutu pun meminta maaf kepada kupu-kupu. Ketiganya lantas menjadi sahabat baik. Tidak pernah lagi saling mengejek, menghina, dan meremehkan. Mereka menyadari bahwa setiap makhluk ciptaan Allah sejatinya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. (*)

  • Penulis adalah mantan wartawan senior Jawa Pos

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.