Cinta yang Dituliskan Tak Akan Melukai Pembacanya

BROWNIES

Catatan : Joni Ariadinata, Redaktur HORISON

MEPNews.id —Hati-hati dengan cinta, karena cinta membuat “tahi kucing pun terasa coklat”. Juga sebaliknya, hati-hati dengan benci, karena rasa benci akan membuat brownies yang enak dan manis menjadi eek onta. Jelas-jelas tahi kucing kok dibilang coklat; jelas-jelas brownies kok dibilang eek onta. Itu semua soal cara pandang yang fana berdasarkan perasaan: rasa cinta dan rasa benci. Padahal semua orang tahu, kedua “rasa ajaib” itu teramat labil. Ia bisa berubah setiap saat. Hari ini cinta, besok pagi bisa menjadi benci. Saat ini benci, sedetik kemudian bisa menjadi cinta. Betapa tipis sesungguhnya batas antara keduanya.

Cinta itu buta, katanya. Maka benci juga tak kalah buta dibanding cinta. Leluhur orang Jawa sejak zaman dahulu sudah mengingatkan, “jangan jatuh cinta terlalu berlebihan karena itu akan berubah menjadi benci.” Saya yakin, fatwa itu juga berlaku sebaliknya, hati-hati dengan kebencian yang berlebihan, karena akan beresiko menjadi cinta. Maka seorang penyanyi dangdut tahun 90-an, dengan suara seksi dan bokong megal-megol mengatakan, “yang sedang-sedang saja, yang sedang-sedang saja…”

Tak ada masalah ketika benci harus menjadi cinta. Tak ada masalah ketika cinta berubah benci. Keduanya menjadi masalah, ketika dampak dari cinta dan benci itu diwujudkan dalam kata-kata, diabadikan dalam tulisan, dan dimunculkan di tempat umum lewat sebuah media, —-katakanlah, media itu bernama faceboook.

Tulisan cinta mungkin bisa jadi menjadi anugerah, —ia bisa menjadi puisi yang indah atau novel mengharukan yang dikenang sepanjang zaman. Tapi bagaimanakah dengan benci, yang seringkali hanya berwujud menjadi caci maki? Benci yang mengubah kata-kata menjadi fitnah keji dan sumpah serapah?

Lalu facebook mencatatnya, lalu media ini menyimpannya dalam file abadi, yang bisa dibaca kapan saja, —bahkan setelah penulisnya mati. Cinta yang dituliskan tak akan melukai pembacanya. Tapi benci berlebihan yang disemburkan dalam kalimat-kalimat keras dan busuk di muka umum (karena bisa dibaca ribuan orang), akan sangat melukai hati. Dan luka itu akan selalu terbuka, lantaran kata benci yang dituliskan (diabadikan dan dibaca banyak orang), sayatannya lebih dalam dari seribu pedang paling tajam di dunia. ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.