Gempa Raksasa Tidak Seacak yang Diduga

MEPNews.id – Dengan semakin banyaknya kejadian, plus makin canggihnya peralatan untuk mengukur, para ilmuwan mulai bisa meraba peta gempa bumi. Ternyata, gempa raksasa terjadi tidak seacak yang dibayangkan sebelumnya. Ada pola-pola tertentu sehingga kejadian ke depan mungkin bisa diantisipasi.

Sebagaimana dikabarkan PTI dari London pada 31 Januari 2018, para ilmuwan menganalisis inti sedimen dari danau Chile di Amerika Selatan. Dalam laporan ilmiah di jurnal Earth and Planetary Science Letters, para peneliti dari Austria menyatakan gempa bumi raksasa terulang pada interval yang relatif teratur.

Tentang gempa lebih kecil, interval berulang semakin tidak beraturan ke tingkat di mana gempa terjadi secara acak pada waktunya. Gempa susulan yang lebih kecil biasanya terjadi mengiringi gempa lebih besar.

tsunami“Pada 1960, kawasan selatan-tengah Chile dilanda gempa terbesar yang pernah diketahui di Bumi. Magnitude-nya 9,5 SR,” kata Jasper Moernaut, asisten profesor di University of Innsbruck yang juga penulis utama laporan ini. “Tsunami begitu besar. Selain membanjiri garis pantai Chile, gelombangnya jauh melintasi Samudera Pasifik dan bahkan meminta korban sekitar 200 orang di Jepang.”

Secara umum, gempa raksasa diyakini melepaskan begitu besar energi sehingga dibutuhkan akumulasi tekanan beberapa abad untuk menghasilkan energi besar untuk gempa baru. “Maka, memahami kapan dan di mana gempa raksasa dapat terjadi di masa depan adalah tugas penting bagi komunitas geosains,” kata Moernaut.

Namun, data seismologi atau dokumen sejarah saja tidak cukup jauh untuk mengungkapkan pola kambuhnya gempa.

Maka, dengan menganalisis sedimen di dasar dua danau Chile, para peneliti mengetahui bahwa setiap gempa kuat menghasilkan tanah longsor di bawah air yang diawetkan di lapisan yang terakumulasi di dasar danau.

Dengan mengambil sampel lapisan-lapisan ini sampai kedalaman sedimen delapan meter, para peneliti menemukan sejarah gempa lengkap selama 5.000 tahun terakhir. Itu termasuk 35 gempa besar dengan magnitude lebih besar daripada 7,7 SR.

Tim menemukan, gempa raksasa (seperti yang terjadi pada 1960) terulang setiap 292 tahun dengan kemungkinan selisih sekitar 93 tahun. Dengan demikian, probabilitas kejadian gempa raksasa semacam itu sangat rendah dalam 50-100 tahun ke depan.

Namun, gempa lebih kecil (sekitar magnitudo 8 SR) bisa terulang setiap 139 tahun dengan kemungkinan selisih 69 tahun. Berarti, ada kemungkinan 29,5 persen kejadian semacam itu terjadi dalam 50 tahun ke depan.

Tak Kalah Menariknya, Baca:

Facebook Comments

POST A COMMENT.