Begini Cara Mengidentifikasi Pembohong

MEPNews.id – Bagaimana reserse, detektif, intel, dan petugas sejenis bisa mengetahui seseorang sedang berbohong?

Ada review terhadap 60 studi yang dilakukan Profesor R. Edward Geiselman dan rekan tentang pembohongan. Review ini dipublikasikan di The American Journal of Forensic Psychiatry edisi Januari 2011. Geiselman telah mengajarkan teknik wawancara tersangka pembohong untuk FBI, Marinir, Kepolisian dan Sheriff di Amerika Serikat, intelijen dan lain-lain.

Menurut hasil penelitian itu, orang yang sadar sedang menipu umumnya hanya ingin berkata sesedikit mungkin. Alih-alih mencoba mengarang cerita rumit, umumnya ia benar-benar tertutup. Dasarnya; kebohongan harus dijaga sesederhana mungkin. Maka, agar petugas bisa membongkar kebohongan, psikolog merekomendasikan tersangka didesak untuk berbicara.

Selain itu, seseorang yang berbohong cenderung memberikan penjelasan sendiri tanpa diminta atau ditanya.

Berikutnya, orang yang berbohong terkadang mengulangi pertanyaan sebelum menjawabnya –mungkin untuk mengulur-ulur waktu sambil berfikir. Ia akan memperhatikan reaksi si penanya untuk melihat apakah terbawa oleh ucapannya.

Ciri yang lain, orang yang berbohong sering mengubah kecepatan suara pembicaraan. “Orang-orang yang jujur tidak akan secara dramatis mengubah kecepatan ucapan mereka dalam satu kalimat,” kata Profesor Geiselman.

Kemudian, bahasa tubuh potensial si pembohong bisa bercerita lain. Misalnya; menekan bibir atas dan bawah bersamaan, memainkan rambut atau gerak tubuh cenderung mengarah depan (bukannya ke belakang, yang merupakan tanda kejujuran).

Selain itu, pembohong mencoba menghindari hal-hal yang spesifik saat didesak mengungkapkannya –sementara orang jujur cenderung lebih leluasa memberi keterangan spesifik.

Saat orang jujur sesekali berpaling untuk berkonsentrasi saat memberi jawaban, orang bohong justru berani menatap si penanya saat memberi jawaban. Tentu, gerak tubuh ini bagian dari upaya mempengaruhi orang lain.

Tentang belajar mengenali orang berbohong, Geiselman mengatakan, “Kita bisa belajar lebih baik dalam mendeteksi kebohongan. Masalahnya, departemen kepolisian Amerika Serikat biasanya tidak menyediakan waktu lebih dari satu hari pelatihan untuk para detektif. Padahal, penelitian yang ada menunjukkan orang tidak dapat memperbaiki kemampuan hanya dalam pelatihan sehari.”

Menerka-nerka seharusnya tidak diandalkan untuk mendeteksi kebohongan. Kata Profesor Geiselman, “Tanpa pelatihan, banyak orang merasa bisa mendeteksi tipuan. Padahal, persepsi mereka tidak terkait dengan kemampuan sejati mereka. Maka, sesi pelatihan yang terlalu cepat dan tidak memadai justru membuat orang menganalisis berlebihan. Padahal, analisis berlebihan itu bisa lebih buruk daripada sekadar reaksi menerka-nerka.” (*)

baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.