Dunia Hanya Selembar Halaman Buku

17498753_682780241932493_3670805845887407530_n

Catatan : Eko Cahyono

FOTO: Pera pejuang literasi saat berkunjung ke SMKGlobal di Kampung Literasi Mentoro Sumobito Jombang (DK/Hari)

MEPNews.id — Semua orang suka membaca. Entah itu anak-anak, remaja hingga orang tua. Baik yang cuma lulusan SD, SMP, SMA hingga mahasiswa, bahkan yang tidak tamat SD pun sebenarnya mau membaca. Jangan dikira masyarakat desa tidak suka membaca seperti masyarakat kota. Sekali lagi aku katakan bahwa semua orang suka membaca. Karena aku sudah membuktikannya.

Alvin adalah ana yang bercita-cita ingin menjadi pemain sepa bola. Sampai usia 30 tahun dia tida pernah bisa masuk disebuah klup. Hanya lomba agustusan yang bisa menjadi ajang untuk ambisinya. Tabloid Bola adalah santapannya setiap ke TBM Anak Bangsa. Puluhan Tabloid Bola sudah khatam dibaca. Selanjutnya dia beralih ke Tabloid Supersoccer. Kadang yang dibaca hanya jadwal pertandingan Liga champion, Liga Inggris ataupun Liga Indonesia. Lebih mengenaskan lagi jika gambar para pemain bola digunting dan dibawa pulang. Apapun yang berhubungan dengan sepa bola selalu menarik minatnya.

Samsul suka bermain gitar. Dewa Budjana adalah gitaris faforitnya. Setiap ke TBM dia selalu menuju ke rak dengan klasifikasi katalog ‘Musik Mania’. Di katalog ini tempat buku-buku musik dan majalah Hot Cord. Bahkan dia sampai hafal setiap judul lagu beserta penciptanya. Buku Cara Bermain Gitar sampai lepas sampulnya karena sudah tak terhitung berapa kali dibawa pulang dan dibaca. Buku Tembang Kenangan sampai hafal diluar kepala, judul lagi ini dihalaman sekian, judul lagu anu di halaman sekian dan seterusnya. Semua buku musik, apalagi yang sampulnya bergambar gitar akan selalu dikuasai oleh Samsul. Dia jadi hafal semua nama-nama gitaris dari grup band. Bukan hanya yang berasal dari Indonesia, gitaris grub band dari mancanegara juga sudah dihafalnya. Semua info itu dia dapatkan dari buku dan majalah musik yang ada di TBM Anak Bangsa.

Ibu Sulik tipe perempuan sejati. Karena setiap hari dia hanya beraktifitas didalam rumah. Melayani suami dan mengurus anak. Taukah kau kawan apa yang menjadi bacaannya setiap selesai melakukan tugas rumah tangga. Tentu saja buku masakan. Ibu Sulik adalah fans berat Rudi Choirudin, Farah Quinn, Chef Bara dan tentu saja Chef Juna yang fenomenal. Semua buku masakan dibaca bahkan sampai dua tiga kali. Selesai masak, menyiapkan sarapan, mengurus anak, mencuci dan membersihkan rumah, Ibu Sulik akan langsung bergegas ke TBM untuk memuaskan hasratnya akan resep masakan. Cara membuat kue basah, memasah gudeg Jogja, membuat masakan padang, membuat es degan dan seribu satu resep masakan lainnya akan dibaca dan dihafalkan diluar kepala. Apalagi jika dalam buku tersebut disertai sebuah CD panduannya. Ibu Sulik akan lebih semangat dalam membaca, tentu saja dia sambil melihat CD yang bisa diputar di rumahnya.

Anak-anak adalah jenis makluk yang paling mudah dipancing untuk membaca. Segala bentuk bacaan pasti akan jadi rebutan jika gambarnya lucu, menarik dan warna warni. Majalah Bobo, Ananda, Donal Bebek dan sejenisnya selalu jadi rebutan. Kisah Si Kancil juga selalu jadi best seller untuk anak-anak. Level yang lebih tinggi yaitu kisah Lima Sekawan dan karya Enyd bliton. Bersyukur sekali saat ini ada buku-buku Kecil-Kecil Punya Karya. Ini menjadi idola baru bagi pembaca dari usia SD. Ada juga jenis anak-anak yang agak rewel. Golongan ini biasanya hanya mau membaca buku-buku cerita dari kisah dongeng atau legenda. Misalnya tentang Putri Salju, Cinderella, Frozen dan kisah-kisah Barbie. Tentu saja ini untuk anak-anak putri.

Arip sangat suka menonton film-film action dan peperangan. Pearl Harlbour, Terminator, SWAT dan tentu saja serial Rambo adalah film faforitnya. Jika ke TBM dia juga akan mencari bacaan tentang dunia militer, prajurit, pasukan, pistol, bom dan pesawat terbang. Jadilah Majalah Angkasa yang menjadi bacaan faforitnya. Majalah Angkasa terbitan tahun berapapun tidak akan membuat dia bosan. Dia paling suka membaca tentang tentara Nazi, Kmer Merah, Mao Zedong bahkan sampai kisah negara Kuba. Ketika TBM Anak Bangsa mendapat bantuan buku-buku tentang Perang Ambarawa, Pertemputan Surabaya dan juga Enam Jam Di Jogja, maka Arip seperti ayam yang menemukan sekarung jagung. Ketiga buku itu akan langsung dibawa pulang dan dikuasai sepenuhnya. Setelah membaca buku tersebut, dia akan berceramah didepan pengunjung TBM layaknya Dosen Sejarah yang mengetahui apapun tentang peperangan di Indonesia.

Sintya seorang gadis yang sedang dimabuk cinta. Dia baru menjalani proses hubungan istimewa dengan pemuda idamannya. Hatinya sedang berbunga-bunga. Hari harinya selalu terasa indah. Dunia seakan milik berdua, orang lain hanya penonton yang tidak penting baginya. Sintya adalah anggota TBM Anak Bangsa dan seminggu sekali tidak pernah absen untuk datang. Buku apalagi yang dibaca Sintya selain buku tentang cinta. Segala judul buku yang ada kata’Cinta’ akan langsung dibaca. Termasuk beberapa Novel remaja tentang cinta. Ayat Ayat Cinta bahkan dibaca dua kali. Cinta Penuh Air mata karya Andrei Aksana, Disini Cinta Pertama Kali Bersemi karya Mira W juga sudah selesai dilahabnya. Only Love, Cickhen Shoup For Love, Cinta Pada Pandangan Pertama, Puisi Cinta dan seabreg buku yang ada bau-bau cintanya sudah tercatat dalam kartu peminjamannya. Jangan tanya tentang cinta pada Sintya, karena dia akan nyerocos tanpa titik dan koma.

Mbak Tejo yang budayawan akan membaca majalah Joyoboyo dan buku-buku Gajah Mada. Bu Tatik yang guru SD akan membaca buku-buku panduan mengajar, Guru Inspiratif dan sejenisnya. Purwanto yang senang pergi ke dukun ta pernah melewatkan rubrik Ramalan Bintang dan Apa Kata Shio Anda dari sebuah Majalah Misteri yang beredar. Dan semua jenis manusia lainnya akan membaca sesuai dengan kegemaran, situasi hati dan juga sesuai dengan usianya. Ketika selesai membaca mereka akan berkomentar bahwa sebenarnya ‘Dunia Hanya Selebar Halaman Buku’.

Buku itu Abadi

Gebrakan TBM Anak Bangsa dalam menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan menulis yaitu dengan membuat Gerakan Ayo Menulis. Seminggu sekali kita adakan pelatihan menulis untuk pengujung dan anggota TBM. Setiap pertemuan dengan durasi 3 jam. Untuk lebih membuat peserta semain tertarik untuk menulis, kami selalu mendatangkan penulis-penulis yang sudah menerbitkan minimal 3 buku. Memang kebanyakan masih penulis dari Malang raya. Namun sampai setahun berjalan Komunitas Ayo Menulis sudah bisa mencetak penulis-penulis pemula yang cukup menjanjikan.

Setiap pertemuan selalu memberikan materi dan pelatihan yang berbeda. Minggu pertama misalnya, kami memberikan materi bagaimana cara menulis cerpen. Peserta kita bimbing dari awal sampai benar-benar bisa membuat sebuah cerpen. Sampai akhirnya Komunitas Ayo Menulis bisa mencetak satu kumpulan cerpen dari peserta pelatihan.

Minggu selanjutnya memberikan pelatihan menulis puisi. Dari pelatihan inipun peserta dibimbing untuk bisa menulis puisi. Tidak harus puisi yang indah dan puitis, apapun bentuk puisi kita kumpulkan dan kita cetak menjadi sebuah buku kumpulan puisi.

Untuk terus mengasah kemampuan menulis dan juga untuk bisa menciptakan ide-ide baru, Gerakan Ayo Menulis juga memberikan pelatihan menulis resensi. Tentu saja peserta harus membaca sebuah buku sambil memahami isi buku tersebut. Setelah itu peserta diwajibkan menulis sebuah resensi dari buku yang sudah dibaca. Akhirnya kami juga punya sebuah Kumpulan Resensi. Keuntungan dari kumpulan resensi yaitu bahwa setiap pembaca kumpulan resensi, dia akan tertarik untuk kemudian membaca buku yang diresensi. Adi misalnya, setelah membaca resensi The Da Vinci Code maka dia akan tertarik untuk membaca buku karya Dan Brown tersebut.

Menulis kisah-kisah perjalanan juga ada dalam agenda Gerakan Ayo Menulis. Selama ini hampir semua orang pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik yang hanya wilayah lokal maupun nasional. Setelah kisah perjalanan ini ditulis, ada sekitar 40 anggota yang mengumpulkan kisah perjalanannya. Lalu jadilah sebuah Kumpulan Kisah Perjalanan yang menarik. Banyak juga yang kemudian pergi wisata ke Pantai Ngudel karena dia membaca kisah perjalanan ke Pantai Ngudel yang ditulis si Rudi. Kemudian Antok yang pergi melakukan perjalanan ke Bali karena dia membaca kisahnya Jaenal yang pernah ke Bali.

Yang paling menarik adalah kumpulan “IBU”. Ini adalah kumpulan tulisan tentang seorang Ibu yang ditulis oleh 70 anggota TBM. Ketika itu pas Hari Ibu. Siapapun yang datang ke TBM dihari Ibu, langsung kami beri kertas dan bolpoin. Saat itu juga kita suruh menulis dengan tema Ibu. “Apa yang ada dipikiranmu ketika mendengar kata Ibu”. Dengan kalimat itu, maka mereka menulis tentang Ibu. Kumpulan ini sangat banyak disuka. Karena ditulis dengan spontan dan tanpa rekayasa. Yang menulis ada 50 orang dengan usia antara 8 tahun hingga 56 tahun.

Ketika hari Pahlawan, kami juga membuat tulisan tentang Pahlawan. Sama dengan kumpulan Ibu. Siapapun yang datang ke TBM ketika hari pahlawan, langsung kami berikan kertas dan bolpoint. “Menurutmu Pahlawan itu seperti Apa”. Dengan petunjuk sederhana ini, kemudian mereka menulis tentang Pahlawan dan lahirlah sebuah kumpulan dengan judul ‘Pahlawan’.

Akhirnya dari Gerakan Ayo Menulis, bisa lahir penulis-penulis baru yang dari awalnya mereka bukan siapa-siapa dan menjelma menjadi penulis pemula yang penuh semangat dan selalu berkarya. Bagi mereka yang ikut kegiatan Ayo menulis bahwa menulis itu bukan keahlian, namun kebiasaan. Dengan ikut kegiatan menulis seminggu sekali, dalam waktu tidak sampai enam bulan mereka sudah bisa mencari ide, merangkai kata, menyusun kalimat dan menjadikan sebuah cerita yang sederhana namun terasa istimewa.

Kadangkala tulisan memang ringan dan sederhana. Seperti kumpulan kata-kata mutiara. Kumpulan Motivasi, Kisah inspiratif dan sejenisnya. Bahkan kemudian remaja putri dan ibu-ibu membuat sebuah kumpulan “Resep masakan Sederhana” yang ditulis berdasarkan penemuan mereka sendiri, tentunya setelah resep masakan itu dipraktekan dan sudah terbukti rasanya.

Segala sesuatu jika diucapkan akan langsung didengar namun akan cepat dilupakan. Namun jika hal itu ditulis dan dijadikan sebuah buku, hal itu akan abadi selamanya. Karena usia sebuah buku itu ta terhingga, bahkan sampai penulisnya kembali ke sisiNya maka buku akan tetap abadi. Tentu saja manfaat nya juga akan terus dirasakan oleh siapapun yang membaca karya tersebut. ***

Penulis pejuang literasi asal Malang, Penggagas Perpustakaan Anak Bangsa

Dikutip dari buku : Jejak Literasi Relawan Nusantara, Diterbitkan Kemendikbud, FTBM dan TBM Rumah Belajar MEP 

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.