Catatan Oase: Sublimasi

MEPNews.id —- Sublimasi adalah istilah dalam kimia yang berhubungan dengan perubahan zat. Selain itu, istilah sublimasi juga dipakai untuk menyebut metode pemisahan campuran kimia.

Dalam hal perubahan zat, sublimasi bisa dimaknai sebagai perubahan wujud zat dari padat ke gas atau dari gas ke padat. Bila partikel penyusun suau zat padat diberikan kenaikan suhu sebesar tertentu, maka partikel tersebut akan menyublim menjadi gas. Sebaliknya, bila suhu gas tersebut diturunkan, maka gas akan segera berubah wujudnya menjadi padat kembali.

Istilah sublimasi dalam psikologi bisa dimaknai sebagai Kata yang menyatakan sifat agung, tinggi, atau halus, pada suatu karya seni. Dalam pengertian yang lain adalah perubahan perilaku dari yang dianggap primitif menjadi tindakan yang dapat diterima atau dihargai oleh masyarakat yang beradab.

kata ”sublim” mempunyai pengertian yang sangat dalam. Gagasan ini hampir tak pernah bisa melepaskan cekamannya atas dunia penciptaan. Berbeda dengan ”yang indah” yang pernah digugat lantaran dianggap semu dan mengelabui serta memalingkan orang dari pemandangan dunia yang timpang ”yang sublim” tampaknya tak pernah kehilangan daya pesonanya.

Imanual Kant ( 1764 ) menerbitkan sebuah gambaran tentang sesuatu ” yang indah dan yang sublim ”. Beliau mengkaji kedua gejala tersebut secara terperinci, meski kadang agak berlebihan, seperti ketika ia memilah watak bangsa-bangsa ke dalam dua kelompok besar: sebagian cenderung kepada ”yang indah”, sebagian lain condong kepada ”yang sublim”.

Menurutnya ” yang sublim ” rupanya tak kunjung sirna. Cenderung abadi. Dia mengambil contoh dengan ” gerak bebas penanda ” yang menggulirkan kemungkinan tafsir yang tiada habisnya, juga memaparkan bahwa ” yang sublim ” selalu ada di setiap momennya momen yang tak tertentu dan juga sekaligus menawarkan suatu keadaan yang tak terhingga itu.

Freud menyatakan bahwa sublimasi adalah sebagai proses yang tidak disadari, di mana libido atau naluri seks diubah ke dalam bentuk penyaluran yang lebih bisa diterima. Bahkan ia menyatakan kreasi artistik adalah salah satu manifestasi sublimasi.

Pendapat freud dapat kita lihat bagaimana perilaku seseorang yang sedang jatuh cinta, ia akan pandai berpuisi dan mengolah kata-kata bijak seperti pujangga yang baru dilahirkan.

Keadaan seperti ini tidak hanya menyangkut libido dalam arti sempit, namun dalam arti luas sublimasi dapat dipandang sebagai pengarahan impuls yang tidak bisa diterima ke dalam bentuk penyaluran yang bisa diterima.

Selain itu dapat di buktikan lagi saat kita menghindarkan diri dari sebuah tekanan atau mungkin situasi dilematis berpikir yang menyerang, kita harus memilih mana yang harus dilakukan? Atau kita mengalami tekanan psikologis berat antara menyatakan ” ya ” tetapi berada dalam tekanan kesanggupan dan menyatakan tidak namun berat untuk meninggalkan, karena hati kita masih di sana?

Sebagai manusia, tentu kita dihadapkan pada situasi memilih yang tidak mungkin selalu berada pada situasi yang tidak menyenangkan, keyakinan rasional kita menyatakan bahwa kita harus pergi meninggalkan situasi tersebut karena secara fakta tidak ada kemampuan menerimanya, namun keyakinan irasional yang lebih dikendalikan perasaan masih mencoba bertahan dengan daya kekuatannya. Kondisi ini disebut doubt atau mendua dalam alam pikirann yang dicoba dinetralkan dengan perilaku menyembunyikan diri, menyibukkan diri, atau mencari berbagai aktivitas sambil menunggu perkembangan selanjutnya. Perilaku individu ini mencoba untuk mengalihkan aktivitas dengan mengambil jalan sukses lain yang dapat diterima.

Sublimasi sejatinya menekankan pada perilaku yang jujur dan abadi, perilaku yang lebih bisa diterima dan tidak bertentangan dengan realitas yang dihadapi oleh diri. Sayangnya kebanyakan dari kita lebih menyukai yang indah, sehingga kecenderungan kita menjadi pragmatis, menyerang sesuatu yang berbeda dengan kita dengan sesuatu yang sebetulnya irrasional

” Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ” ( Q. S Al Baqaarah : 216 )

Surabaya, 26 Januari 2018
M. Isa Ansori

Pengajar di STT Malang dan Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.