Sekolah Hebat Itu Tak Harus Mewah dan Mahal

Oleh Astatik Bestari

MEPNews.id – Perjalanan saya memberangkatkan para pendidik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) BESTARI Jombang untuk belajar di sekolah lain di antaranya dalam rangka memenuhi program kerja tahun 2017-2018 lembaga bidang peningkatan mutu pendidik meninggalkan catatan penting yang banyak sekali untuk ditulis dengan harapan sebagai dokumen laporan lembaga PKBM BESTARI juga bisa diketahui para penyelenggara pendidikan untuk diadopsi demi perubahan pelayanan pendidikan yang lebih baik. Sasaran lembaga yang kami kunjungi adalah Sekolah Dolan di Malang pada 19 Januari 2018 lalu. Fokus belajar yang kami inginkan di sekolah ini adalah bidang pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C dengan segala model pelayanannya, metode pembelajaran , sarana prasarana yang dibutuhkan, perangkat mengajar dan segala hal yang berkaitan fokus belajar tersebut. Adapun kami berkunjung magang di The Naff School di Sidoarjo pada 22 Januari 2018tersebutfokus belajar pada peningkatan mutu pendidik PAUD .

IMG-20180124-WA0015

Masing-masing sekolah memiliki kekhasan yang berbeda karena Sekolah Dolan adalah sekolah yang memiliki bidang garapan pendidikan nonformal dan informal dengan kekhasan pelayanan pendidikan yang fleksibel sebagaimana yang diutarakan Pak Lukman Hakim pimpinan sekolah ini bahwa mengutamakan hak -hak anak itu penting dipenuhi sementara The Naff School dengan bidang garapan dominan pada pendidikan formal ( TK dan SD juga Kelompok Bermain) yang sudah dikenal dengan sekolah yang berplatform SOP ( Standar Operasional Prosedur) dengan mengedepankan sekolah berkarakter ini sebagaimana yang diungkapkan pimpinan sekolah ini, Pak Nafik Palil .

Kedua sekolah ini telah dikunjungi berbagai lembaga pendidikan dan pemangku kepentingan bidang pendidikan di seluruh Indonesia juga mancanegara. Jika kita datang langsung ke kedua sekolah ini, nampak dari luar sekolahnya tidak sebesar sekolah- sekolah pada umumnya. Halaman sekolah tak begitu luas, bahkan hanya cukup untuk parkir mobil sementara space lainnya sudah digunakan untuk ruang- ruang yang dihidupkan oleh kegiatan peserta didik. Saya amati, ruang belajarnya-lah sebagai tempat untuk bermain pula karena nampak indah, bersih dan tertata rapi dan unik.

IMG-20180124-WA0017

Di Sekolah Dolan, saya melihat banyak gazebo-gazebo tempat belajar yang cukup untuk sekitar 10 orang dengan berbahan kayu dan ada pula gazebo yang berlantai pecahaan keramik, sederhana namun tetap indah. Tutur Pak Lukman, begitu saya memanggil beliau bahwa kayu -kayu yang digunakan untuk gazebo dan rumah pohonnya bukanlah kayu dengan kwalitas mahal. Hampir pada tiap ruangan belajar saya lihat selalu ada buku -buku dengan rak buku yang sangat sederhana, koleksi bukunya selain ada yang kelihatan lux tak sedikit ada pula yang kumal dengan pojok-pojok lembarannya yang terlipat, kalau istilah saya “pojok buku yang keriting ” karena tidak rapi lagi keseringan dibuka untuk dibaca tentunya. Rak- rak yang berisi buku tersebut walaupun sederhana karena ditaruh di ruangan yang sedemikian rupa, selalu mengesankan bahwa membaca itu tidak harus di waktu dan di tempat khusus, kapanpun dan dimanapun bisa dilakukan. Furnitur pada tiap ruang belajar atau ruang kelas kalau di sekolah formal, sepertinya bekas dari furnitur yang dipakai di rumah, jadi tidak khusus beli untuk ditaruh di ruang tersebut. kursi- kursinya ada pula dari potongan kayu yang sengaja dibuat sedemikan rupa sehingga nampak artistik. Dinding, pintu, dan jendela pada ruang belajar serta ruang kerja pimpinan juga dari kayu- kayu , ada yang dicat warna ada pula kayu yang tidak dikuliti. Ruang belajar dengan bahan dasar murah namun karena pengaturannya bagus dan artistik menjadikan tamu yang datang betah dan berfoto-foto, apalagi tak ada ruang privasi kecuali satu kamar milik penyelenggaranya. Sekadar info, bahwa di Sekolah Dolan ini, rumah penyelenggaranya juga menjadi ruang-ruang belajar yang menarik. Tidak luas lahan yang dijadikan ruang-ruang belajar oleh Sekolah Dolan ini, bahkan mungkin lebih luas lahan milik PKBM BESTARI, namun sejak berdiri tahun 2007, sekolah ini telah meluluskan 1000 lebih murid pendidikan kesetaraan. Tatanan ruang belajar dengan berbagai tumbuhan bunga dan hewan piaraan pemberian wali murid di sekitarnya ini menjadikan sekolah ini terkadang dijadikan tempat refreshing orang yang tidak berkepentingan di dunia pendidikan.

Lain ceritanya dengan The Naff School, di sini, hampir saya tidak menemukan tumbuhan di sekitar kelas ( saya menyebut kelas, karena The Naff School adalah sekolah formal). Saya pahami, karena lokasi sekolah ini di tengah perumahan perkotaan sebagaimana perumahan lainnya, lahan hijau memang sulit ditemui. Meskipun demikian, ada saja keinginan saya untuk motret sana, motret sini karena unik dan bagusnya tiap ruang di sekolah ini. Saya sering mengetuk tiap dinding ruangan demi mengetahui terbuat dari apakah sekolah yang dikenal elit ini. Ternyata ada yang dinding batu bata, ada pula berdinding kayu lapis ( triplek). Karena dicat dan ditempeli banner -banner informasi, kesederhanaan bahan ini menjadi nampak mewah serta menjadikan ruangan ini hidup selain memang tak pernah sepi dari suara- suara peserta didik saat belajar dan istirahat. Perlu pembaca ketahui bahwa saat istirahatpun peserta didik cukup bermain di kelasnya dan ditemani gurunya, jadi tidak keluar kelas, karena saya lihat tidak ada ruang atau space yang diperuntukkan bermainan, kelaslah tempat bermainnya. Anda mungkin membayangkan seperti apa kelasnya hingga anak-anak seusia Kelompok bermain, TK, dan SD ini betah di situ untuk belajar dan bermain? Ya, karena ruangannya nampak nyaman: lantai yang berkarpet dan selalu bersih, ditemani guru saat istirahat , warna dinding dengan berbagai tempel informasi sesuai kebutuhan masing-masing kelas. Peserta didik makan dan jajan selain membawa bekal juga disediakan kantin di sekitar kelas tersebut. Kursi-kursi dan meja di ruangan lain, seperti kursi di aula terbuat dari papan kayu yang dibentuk kotak memanjang, bandingkan dengan sekolah- sekolah yang mendatangkan kursi untuk aula yang dibeli dari toko-toko dengan harga yang tak murah tentunya.Lemari- lemari tempat penyimpanan dokumen sekolah juga nampak bukan dari furnitur mahal, lha wong tanpa pintu. Sungguh kreatif dan ekonomis kan? Sementara itu, ada pula almari yang juga berfungsi meja, dicat warna merah dan orange, dibentuk kotak memajang sepanjang dinding yang ada di ruangan tersebut sehingga nampak pula sepeti dinding. Saya buka isinya, sesuai label yang berbahasa Inggris di depan pintu almari tesebut, ada kaos olah raga, amplop dan lain-lain.

Catatan saya ini sudah dipastikan melenceng dari misi studi banding dan magang di kedua sekolah tesebut. Tapi saya menganggap penting untuk saya tulis lalu saya bagikan kepada para pembaca agar diketahui bahwa untuk menjadikan sekolah kita hebat dan brmnafaat bagi masyakarat itu tidak harus dengan dana mahal untuk membiayai pengadaan gedung dan peralatan yang dibutuhkan lainnya. Mari bernyali dengan pengadaan kebutuhan alat sarana dan prasarana sederhana namun manfaafnya luar biasa. ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.