Winter Course UGM Serukan Gaya Hidup Sehat

MEPNews.idPenyakit degeneratif semakin dekat dengan masyarakat. Tidak hanya di kota-kota, namun juga merambah desa. Semua akibat gaya hidup atau perilaku tidak sehat. Padahal, penyakit ini mestinya bisa dicegah dengan mengubah gaya hidup; mulai dari membenahi pola makan, aktivitas fisik, hingga kebersihan lingkungan.

Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), misalnya, saat ini masih menjadi salah satu masalah utama di Indonesia. Sebanyak 42,3 persen kematian akibat penyakit ini disebabkan penyakit jantung koroner (PJK) dan 38,3 persen disertai stroke.

Dikutip situs resmi ugm.ac.id edisi 23 Januari 2018, Prof dr Budi Yuli Setianto SpPD(K), dalam Winter Course 2018: Pendidikan Interprofessional on Cardiology di Gedung Eksekutif, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, mengatakan tingginya prevalensi penyakit kardiovaskuler saat ini lebih disebabkan oleh gaya hidup.

Menurutnya, diperlukan pendekatan program ke tingkat masyarakat. Sudah ada Program Cerdik (Cek Kesehatan Secara Harian, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet Sehat dan Seimbang, Istirahat cukup dan Kelola Stres) dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Namun, program-program tersebut belum bisa diukur secara efektif untuk mengubah gaya hidup sehat masyarakat. Oleh sebab itu, semua komponen masyarakat diharapkan mensosialisasikan pendidikan hidup sehat.

“Di tingkat primer, mereka yang memiliki potensi kegemukan, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi mestinya bisa menghindari hal-hal yang bisa menyebabkan penyakit penyakit tersebut. Di tingkat sekunder, mereka yang sudah terkena diabetes, hipertensi, serangan jantung, diupayakan tidak terkena lagi. Di tingkat tersier, yang sudah terjadi, kalau jantungnya kena ya jangan sampai gagal jantung. Lebih baik sembuh dari penyakit,” katanya.

Kursus ini dilakukan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, diikuti 46 peserta dari dalam negeri dan 20 dari luar negeri. Mereka adalah calon profesional kesehatan Pendidikan Dokter, Keperawatan dan Gizi Kesehatan FKKMK UGM. Yang dari luar negeri antara lain dari BP Koirala Institute of Health Sciences-BPKIHS (Nepal), National University of Taiwan, Universiti Sains Malaysia, University of Chiang Mai (Thailand), Universitas Kedokteran Nanjing (Cina) dan Universiti Kedokteran Internasional (Malaysia).

Dr Gunadi PhD, SpBA, ketua Winter Course 2018, mengatakan tidak mudah untuk mengubah gaya hidup sehat di tengah masyarakat. Berbagai sosialisasi program ternyata tidak mengubah kebiasaan merokok di masyarakat. Karena itu, diperlukan cara-cara jitu agar masyarakat mau mengubah kebiasaan merokok.

Ia mencontohkan, sosialisasi akibat merokok menyebabkan impotensi yang dilakukan di Kabupaten Kulon Progo. “Cara-cara ini ternyata lebih ampuh. Masyarakat pun pada akhirnya tidak merokok karena takut impoten dan kena serangan jantung,” katanya.

Dr. Delvac Oceandy dari Manchester University menambahkan, yang juga penting dilakukan adalah deteksi dini risiko PJK.  “Penyakit jantung tidak hanya di kota-kota. Di desa-desa, tingkat risikonya 30 persen. Karenanya, melalui penelitian kami di Malang, evaluasi kader posyandu terlihat hasil bagus,” katanya. (Humas UGM / Agung)

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.