Ibuku Tidak Jahat, Ia Dijahati

Sebuah Renungan oleh : Heti Palestina Yunani

MEPNews.id —– Ibuku tidak jahat, ia ‘dijahati’
Ia mau mati bersama kami bertiga, tapi racunnya tak mempan
Aku yakin, aku, adikku dan kakakku disayang ibu
Tapi ia tak disayang ayah
Tiga tahun ibu tak bertemu pria dari pondok pesantren itu
Katanya ibu bukan perempuan pertama ayah, hanya ke dua hingga ia harus mengalah
Aku hanya heran hari itu ibu membawaku ke kamar mandi
Bukan bermain air tapi ia memaksaku minum pahit sekali
Aku mual, muntah, perutku panas, dadaku sesak
Aku mati bersama adikku dan kakakku
Celakanya, ibu tidak
Tak mudah jadi ibuku

Ibuku tidak jahat, ia ‘dijahati’
Kata ibu, dulu ibu pernah sendirian
Ia tak pernah tinggal dengan ibunya, nenek kami
Di panti asuhan ibu menunggu ia pulang dari seberang, tapi ia tak datang
Aku, adikku dan kakakku kini juga sendiri seperti ibu
Sebab ibu mengantar kami pergi jauh darinya
Untung kami sempat tinggal sebentar dengan ibu
Kami sering digendongnya, selalu dipeluknya
Sayang itu tak akan pernah lagi terjadi
Ibu jahat, tak mau tinggal dengan kami
Sekarang ibu pasti sunyi sepi
Oh, tak mudah jadi ibuku

Ibuku tidak jahat, ia ‘dijahati’
Kalau ibu sekarang seperti penjahat ibu harus kuat
Seperti kuatnya kami bertiga dijahati ibu
Kami akan di sekitar ibu menjaga ibu tidak dijahati
Jangan sampai ibu jahat lagi karena dijahati
Cuma ibu akan hidup serasa dijahati
Dengan rindu pada kami yang tak akan terbayar
Rasa itu ada selama kami tiada
Itulah penjara buat ibu
Bukan bui, tapi penyesalan seumur hidup ibu
Ah, tak mudah jadi ibuku

Ibuku tidak jahat, ia ‘dijahati’
Hanya Tuhan yang menghukum penjahat, bukan kami

*Puisi tentang Evy Suliastin Agustin (26) yang membunuh tiga anaknya -Sayid Mohammad Syaiful Alfaqih (6), Bara Viadinanda Umi Ayu Qurani (4) dan Umi Fauziah (4 bulan)-dalam upaya bunuh diri yang tak berhasil. Istri ke dua Fakihudin yang masih dalam peratawan RSUD Jombang itu kini tersangka.

Bukan membela Evy, dalam postpartum depression, saya duga kuat Evy mengidap gejala tingkat akhir atau ke tiga setelah postpartum baby blues, lalu depresi postpartum (postpartum depression) sendiri dan terpuncak psikosis postpartum. Tanda-tanda serta gejalanya berlangsung lebih lama dan serius hingga di atas 6 bulan. Gejala psikosis postpartum ini diantanya kebingungan dan disorientasi, pikiran obsesif terhadap bayi, halusinasi dan delusi, gangguan tidur, paranoia, dan mencoba menyakiti diri sendiri atau bayi. Yang terakhir, terbukti pada Evy. Memang psikosis postpartum menyebabkan pikiran atau perilaku membahayakan. Tapi masyarakat tak menyadari ini. Apalagi dibelenggu kemiskinan, gejala ini tak tertangkap oleh paramedis untuk ditangani lebih dini karena ibu miskin tak merasa ia sedang sakit hingga harus meminta pertolongan untuk menjalani perawatan setelah persalinannya (anak terakhir Evy masih 4 bulan). Semoga hanya tentang kemiskinan semata yang melingkari kerumitan hidup Evy.***

BACA JUGA :

Kegembiraan Berlebihan Sang Ibu

Andaikan Senyum Guru PAUD Memudar

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.