Cita-Cita Viona

magetan muhandayaniOleh: Muhandayani, Guru SD Muhammadiyah 1 Magetan

Mata bulat anak itu mengamati ayahnya yang sedang membaca buku Panduan Praktek Klinik di kursi meja tamu. Kadang dia tersenyum sendiri kala melihat ayahnya tanpa sadar mengusap-usap mata yang mungkin capek membaca, atau saat ayahnya dengan muka kaku dan raut serius membolak balik halaman mencari referensi. Kadang bibir mungil itu tertawa kecil geli kala ayanya mencari-cari bolpoin di meja dan kursi namun tidak ketemu karena ternyata diselipkan di kantong saku baju. Selalu ada hal-hal kecil yang dilakukan ayahnya yang menurutnya lucu dan bisa menjadi bahan lelucon.

Karena jenuh atau sudah puas memandangi tingkah ayahnya yang menurutnya tidak memperdulikan keberadaannya, anak itu pun berlahan menghampiri ayahnya. Si ayah tidak sadar sedari tadi diperhatikan serta kemudian dihampiri putrinya. Meski tahu kehadiran putri tercinta, tapi sang ayah masih konsentrasi dengan buku yang dibaca.

Anak kecil itu diam berapa saat, karena ada yang ingin ditanyakan dari mulut kecilnya. Tapi, ketika dengan sudut mata dia melihat ayahnya diam, maka dia pun diam sambil mempermainkan ujung-ujung jarinya.

Ayahnya sebenarnya tahu, dan hatinya tersenyum melihat putrinya yang sedikit kebingungan karena dia pura-pura tidak respon.

Suasana hening. Hanya ada suara gemersik jatuhnya air dari langit. Hujan.

Sore ini, sambil menunggu berangkat ke tempat praktek, sang ayah tersenyum kecil saat dengan sudut mata dilihat putrinya memainkan ujung jari-jarinya. “Kasihan juga..,” pikirnya sambil tersenyum.

Maka, dilontarkan pernyataan, “Hmm…. Mikir apa, Adik? Kayaknya ada yang mau disampaikan deh?”

Mata bulat itu bersinar semangat kala mendengar suara ayahnya. Tapi, ketika mendongakkan kepala dan melihat ekspresi ayahnya yang masih membaca buku, hatinya agak kecewa. Sambil sedikit menundukkan kepala, mulut kecilnya bertanya, “Ayah sibuk?”

Perlahan sang ayah menurunkan buku yang dibacanya sedari tadi, kemudian diletakkan di meja. Diputarlah badannya menghadap gadis kecil yang masih duduk di bangku SD kelas II itu. Terdengarlah suara lirih penuh saying, “Oooh, tentu tidak…, wahai putriku yang tercantik.”

Kembali mata bulat itu berbinar. Dengan manja, gadis kecil itu menyandarkan kepala di perut ayahnya.

Sang ayah membalas dengan mengusap sayang rambut putrinya, sambil berguman, “Pasti ada yang mau ditanyakan, yaaa….?”

Karena tuntutan profesi sebagai dokter, sang ayah merasa maka waktu yang diberikan untuk anaknya sangat kurang. Kadang dia tahu putrinya protes karena ia jarang menemani saat belajar atau bermain. Tapi, bagaimana pun juga, ia berusaha sebaik mungkin mendengarkan nurani anaknya.

Dengan sedikit parau, si anak berkata dengan polos, “Ayah, …..aku tidak mau jadi dokter.”

Si ayah agak terkejut mendengar ucapan putrinya. Tapi, hatinya tersenyum. Putrinya cukup cerdas sehingga ia merasa wajar jika berpendapat seperti itu. Ia tahu putrinya melihat bagaimana setiap hari dia bekerja; berangkat pagi ke kantor pulang sore, setelah sholat mahgrib ia ke tempat praktik dokter sampai malam. Seperti begitu hampir tiap hari.

“Kok gak mau jadi dokter? Kenapa?” tanya ayahnya sambil tertawa kecil.

Anak itu sekarang tidak lagi bersadar pada ayahnya. Ia duduk di samping ayahnya. Matanya bersinar-sinar semangat. “Karena dokter itu tidak pintar seperti ustadzah….!”

Mendengar itu, ayahnya tertawa tertahan. “Kenapa tidak pintar? Ayah kan bisa mengobati sakit orang,” ia pura-pura membela diri dari pertanyaan putrinya.

Sambil sedikit bersungut-sungut karena tidak puas dengan jawaban ayahnya, si kecil beralasan, “Tapi ayah tidak bisa mengajar tentang hadits, matematika, olah raga, bahasa Inggris seperti ustadzah di sekolah!”

Ayah terkejut menyadari sejauh itu putrinya berpikir. Maka, ia memberi alasan lain; “Tapi dokter juga diberi amanah. Amanah untuk menjaga kesehatan pasien, serta menjaga rahasia dan kehormatan mereka yang sakit.”

Dengan sabar dijelaskan sebisa mungkin profesinya kepada anaknya. Ia merasa putrinya belum paham karena usia, tapi dia yakin putrinya cukup cerdas.

“Pokoknya, ustadzah yang paliiiiiing pintar!” kata si kecil tanpa menghiraukan penjelasan ayahnya. “Ustadzah hafal  Surah Al-Maun, Surah Ad-Duha, Surah An Naba banyak surah yang lainnya. Ustadzah bisa tahu nama umi dan abi dari Nabi Muhammad SAW, juga nama-nama sahabat Nabi. Bahkan Ustadzah bisa menggambar pohon, bisa membuat kotak pensil dari kertas bekas, Yah….!!”

“Oh, begitu yaa?” ayahnya menggoda sambil tertawa.

“Ayah ini bagaimana? Ya iyaaaa lah..!” kata gadis kecil itu, sambil berkacak pinggang serta badannya sedikit dibungkukkan sehingga hidung mungilnya bersentuhan dengan hidung ayahnya. “Ustadzah bisa menghitung perkalian, bisa bercerita tentang kancil yang cerdik, buaya yang nakal, monyet suka mencuri pisang petan. Pokoknya ustadzah orang paling pintar.”

Sang ayah sedikit tercenung memandangi putrinya yang kini duduk di kursi terdiam sambil memejamkan mata karena puas mengeluarkan isi hati. Dipandanginya putri yang baru kelas II SD itu dengan terharu. Perlahan dibelai rambut putrinya yang tidak pakai kerudung karena di dalam rumahnya sendiri. Diciumnya kening putri dengan sayang.

Anak itu perlahan membuka mata dan tersenyum kecil pada ayahnya.

“Jadi, Viona, kalau sudah besar ingin jadi apa?” bisik ayahnya dengan lembut.

“Jadi guru, Yah…” dipeluk ayahnya dengan erat. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.