Menikmati Ciptaan Tuhan di Pantai Klayar

magetan Diana arisOleh: Diana Aris

MEPNews.idLiburan adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Liburan adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan hari-hari bersama orang-orang yang kita sayangi. Liburan juga waktu yang tepat untuk membuat fresh otak dan melupakan sejenak kesibukan bekerja.

Liburan akhir 2017, saya habiskan bersama teman-teman dari Tangerang. Saya di Magetan menerima sejumlah teman yang jauh-jauh dari Tangerang untuk menikmati keindahan alam sisi barat Jawa Timur. Maka, kami mengunjungi tanah kelahiran presiden ke-6 yakni Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Yaahhh, …di Pacitan.

Pacitan dikenal dengan kawasan 1001 goa dan pantai. Maka, tempat wisata tujuan kami di Kabupaten Pacitan adalah Pantai Klayar. Letaknya kira-kira 37 km dari pusat Kota Pacitan, tepatnya di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo.

klayar 2

Panas terik, tapi pemandangannya tetap cantik

Akses jalan menuju pantai Klayar sangat bagus karena sudah diaspal mulus. Bekas banjir bandang dan tanah longsor awal Desember 2017 sudah dibersihkan dan diperbaiki. Namun, harus tetap hati-hati karena jalannya berkelok-kelok melewati perbukitan dan pegunungan.

Setelah dua setengah jam, kami tiba di lokasi tujuan. Untuk masuk ke lokasi, kami harus bayar tiket sepuluh ribu rupiah. Murah, bukan? Kemudian kami memarkir mobil. Keluar dari mobil, mata langsung terpana keindahan Pantai Klayar… wowww… wonderful… fantastic....

Tak sabar, dari tempat parkir, kami berjalan kaki melewati turunan tajam. Sekitar lima menit, kami sudah sampai tepi pantai. Setibanya di sana, saya berteriak, “Allahu Akbar…. indah sekali, serasa di Bali.” Begitulah. Orang bilang, Pantai Klayar adalah Balinya Jawa Timur.

Layaknya pengunjung lain, kami bermain ombak dan berfoto-foto. Kami juga memakai kaca mata hitam untuk menangkal silaunya sinar mentari yang sangat terik. Namun, tak mengapa. Teriknya mentari tak berarti dibandingkan indahnya pantai.

Ombak di Pantai Klayar cukup besar. Harus hati-hati saat bermain agar terhindar dari seretan ombak bergulung-gulung. Polisi pantai juga selalu mengingatkan, terutama bagi yang memiliki anak kecil agar selalu dalam pengawasan orang tua.

klayar 3

Di salah satu celah batu itu ada air muncrat. Sayang, kameranya kurang kuat menangkap gambar semburan airnya.

Di sisi kiri, saya melihat bebatuan bertebing yang ditumbuhi rerumputan. Seperti pulau. Kami menuju lokasi itu, berharap bisa berfoto-foto di atas. Namun, ada tulisan, “Dilarang naik di atas bebatuan ini karena berbahaya.” Ah, tak mengapa. Itu tak membuat kami bersedih. Kami cukup puas dengan berfoto-foto di sekitar bebatuan tersebut.

Kemudian, kami beranjak menuju bukit. Namanya, Bukit Indah. Untuk bisa menikmati bukit itu, kami membayar tiket dua ribu rupiah. Murah meriah menurut kami.

Gagal mendaki tebing, saya mendapatkan gantinya di Bukit Indah. Ternyata, pemandangan di sini menakjubkan. Kami bisa menikmati seluruh pantai Klayar dan memandangi samudra luas tak berujung. Kami juga menikmati semburan ombak di antara bebatuan yang keluar seperti air mancur.

Kepada teman, saya berkata,”Guys, aku pengen menangis. Tapi malu, banyak orang.” Teman saya menjawab, “Saya juga, Bu Diana. Gak bisa ngomong apa-apa lagi. Pokoknya indah banget.”

Rasa syukur keluar dari mulut ini. “Terima kasih, ya Allah…. Terima kasih, ya Allah, sudah memberi kebahagiaan kepada kami dengan alam ciptaan-Mu yang indah jelita.”

Sungguh pengalaman dan perjalanan sangat berkesan. Kami tidak tahu apakah Allah masih akan memberi kesempatan kami untuk bisa menikmati keindahan alam ciptaan-Nya. Maka, dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, pertemukan kami kembali dalam momen-momen bahagia, dan bisa melindungi keindahan alam-Mu di belahan bumi yang lain. Aamiin!”

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.