Manajemen ‘Ali Kasim’ di Pertunjukan Ludruk Surabaya?

Catatan  ; M.Isa Ansori

MEPNews.id —- Masih ingatkah sahabat semua cerita rakyat Persia ” Ali Baba dan Ali Kasim “. Dikisahkan bahwa Ali Baba adalah sosok yang relegius dan baik hati serta hidup sederhana. Berbeda dengan Ali Kasim, saudaranya, dia hidup sangat berkecukupan dan mewah.

Meskipun hidup miskin, Alibaba selalu berbagi dengan tetangganya. Tak seperti Kasim, dia kaya namun sangatlah pelit.

Suatu saat Ali Baba memasuki hutan untuk mencari kayu. Disaat itu dia melihat segerombolan penyamun dengan membawa peti peti yang berisi harta karun hasil rampasan. Sambil mengucap Alakazam, bukalah pintunya,” ucap pimpinan penyamun, maka terbukalah pintu gua. Masuklah gerombolan penyamun itu dan menyimpan harta karunya kedalam gua. Setelah itu mereka keluar lagi dari gua dengan mengucapkan mantra yang sama.

Sepeninggal para penyamun, Ali Baba mendekati pintu gua sambil mengucap mantra yang diucapkan oleh para penyamun tersebut. Terbukalah pintu gua dan dilihatlah tumpukan emas dan harta karun. Ali Baba kemudian memgambil secukupnya. Setelah dia pulang dan membagi harta temuannya kepada tetangganya yang miskin.

Ali Kasim heran melihat Ali Baba membagikan emas kepada tetangganya. Nafsu serakahnya muncul. Datanglah ia kepada Ali Baba untuk memberitahukan tempat harta larun tersebut. Dengan sangat memaksa, Ali Kasim meminta Ali Baba menunjukkan tempatnya dan cara membukanya.

Dengan semangat keserakahannya, Ali Kasim membawa peralatan dan karung karung untuk membawa harta karun temuannya. Sesampainya didepan gua, dia mengucapkan mantra yang sama dan terbukalah. Dia ambillah emas emas itu dengan semangat serakahnya. Namun sayangnya, ia lupa mantra untuk keluarnya, maka dia tersekap didalam gua. Malang nasibnya, akhirnya dia ditangkap oleh penyamun itu.

Ali Kasim adalah lambang kecukupan dan keserakahan. Hidup Ali Kasim hanya digunakan bagaimana memanfaatkan kemampuan orang lain dan mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompok.

IMG-20180118-WA0001

Gonjang – ganjing pengelolaan pertunjukan ludruk sebagaimana diceritakan oleh Bu Ngatinah tak ubahnya sebagai perilaku Ali Kasim. Berdasarkan data yang tercatat di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya, tercatat ada sebanyak 35 kelompom ludruk. Namun sayangnya manajemen pertunjukan ludruk hanya berputar pada kelompok yang mempunyai akses dengan kelompok yang dekat dengan kekuasaan. Sehingga distribusi anggaran yang seharusnya digunakan untuk mendukung semua kelompok ludruk yang tidak terlaksana secara baik. Akibatnya ada kelompok yang termarjinalkan dan ada kelompok ludruk yang terfasilitaskan.
Manajemen pertunjukan ludruk di Surabaya terasa seperti membedakan sehingga kehidupan berkesenian ludruk terasa kering dari rasa keadilan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai rumah besar kesenian Surabaya seharusnya lebih terbuka dalam melakukan pembinaan dan distribusi pertunjukan. Tidak boleh ada lagi manajemen Ali Kasim dalam pengelolaan pertunjukan ludruk di Kota Surabaya.

Semoga ludruk Surabaya semakin baik dan berjaya !

Surabaya, 18 Januari 2018

Penulis,  Pengajar di STT Malang dan Pegiat Pelestarian Cagar Budaya, Komunitas Bambu Runcing Surabaya ( KBRS )

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.