Come Back to Niat

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Tak terasa hari demi hari berjalan, kini telah memasuki malam Jumat kembali. Malam tafakkur dan merenung. Melakukan rekapitulasi terhadap apa saja yang sudah dan telah kita lakukan sejak malam Jumat yang kemarin hingga malam Jumat yang sekarang. Semacam evaluasi dan mawas diri.

Kalau malam Jumat dikatakan saat yang tepat sebagai perenungan atau muhasabah, termasuk untuk–mohon maaf–hubungan suami istri, mohon jangan terlalu dibantah: bukankah hal yang demikian bisa dilakukan meski tidak di malam Jumat? Bahkan andai Nabi merenung atau tidak merenung, salahkah jika kita merenung di malam Rabu atau tak merenung di malam Jumat?

Sekarang ini memang kita dituntut untuk bisa pandai-pandai bergaul dengan berbagai jenis pemikiran dan pendapat orang. Jadinya kita sendiri ini yang mau tidak mau harus pandai dan penuh toleransi menempatkan diri dalam panggung drama kehidupan ini.

Kembali ke niat, kalau pakai bahasa kawan saya, adalah merupakan kata kunci yang menurut saya menjadi sangat begitu penting dan sangat paling begitu mendasar. Niatnya apa? Planningnya apa? Tujuannya apa? Ya itu sudah pijakan melangkah dalam kehidupan kita. Masing-masing orang tentu akan berbeda mengenai niat dan keinginan serta goal tujuan dalam bersusah payah menjalani drama kehidupan yang penuh misteri ini. Sebuah misteri bahwa kita tidak pernah tahu persis apa yang akan terjadi sedetik kedepan.

Apapun yang terjadi, kita alami, dan yang kita kerjakan ini, ada baiknya yang jangan sampai tidak kita lakukan, yakni senantiasa mendekat ke Tuhan. Kita benar-benar butuh kepadaNya. Butuh segalanya dengan perkenanNya. Jika tanpa Kasih SayangNya, sepertinya yang menimpa kita akan semakin kacau terus menerus.

Akan tetapi siapakah sekarang ini, di zaman now ini, yang mengakui peran penting Tuhan dalam kehidupan kita? Bukankah seakan-akan kita mampu bangun sendiri dan berjalan sendiri tanpa seluruh komprehensif bantuan Tuhan? Bukankah Tuhan juga terlalu sangat Maha Baik kepada kita dengan senantiasa mengirimkan nikmatNya yang tak mampu kita hitung secara nalar kepada kita. Karena tak mampu kita hitung itulah kita bagai tak pernah menyangka nikmat Tuhan itu ada dan hadir bertebaran bertubi-tubi tanpa mampu kita hitung setiap saat kepada kita.

Maka kembali merenungi niat kita dalam menjalani hidup ini adalah begitu penting. Dari niat ini kita menemukan yang paling inti dan substansi untuk kita raih, kita kejar, dan kerjakan dalam kehidupan. Merenungi sejenak saja apa niat kita dalam menjalani kehidupan ini, sungguh sangat sesuatu yang paling penting dan begitu begitu mendasar.

So, marilah kita mengingat kembali niat kita apa dalam menjalani rutinitas kehidupan ini. “Kejarlah niat itu. Kerjakanlah niat itu. Selebihnya berserahlah kepada Allah. Fa idza azamta, fatawakkal alallah. Kalau cita-cita sudah sedemikian dikejar dan dihujamkan dalam-dalam sebagai landasan kerasnya niat dan usaha, maka hasilnya kita pasrah terserah Allah,” kata Si Fulan saat berdiskusi dengan Haji Fulan ditemani kopi hitam yang menentramkan hati dan fikiran. (Banyuwangi, 18 Januari 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.