Ludruk Suroboyo Royokan Balung?

Oleh : M Isa Ansori

MEPNews.id —- Ludruk di Surabaya kurang lebih ada 12 group ?, perlu kepedulian pemerintah maupun DPRD Sby. ( Tulisan New Nonot S ).

Menanggapi tulisan diatas ada baiknya kita melihat kembali kepada gagasan kesenian sebagai penjaga moralitas masyarakat.

Ludruk sebagai sebuah kesenian tentu mempunyai pakem – pakem yang sudah terstandar. Mengapa didalam ludruk ada koor, dan standar lainnya. Dalam kaitannya sebagai penjaga moralitas tersebut maka pakem pakem itu harus tetap dijalankan meski harus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Berdasarkan tulisan sahabat saya Gus Fine Art Nonot S, bahwa jumlah ludruk di Surabaya yang 12 . Nah pertanyaannya bagaimana peran ludruk yang 12 itu menjadi garda depan pembangunan karakter masyarakat Surabaya. Masih bisakah diharapkan? Masihkah menarik tontonan ludruk?

Pertanyaan pertanyaan diatas rasanya miris kalau melihat realitas sebenarnya, kesenian ludruk seolah mati tidak mau, hidup juga segan. Karena ludruk memang sudah tak mampu dikelola semenarik mungkin. Apalagi kalau dihadapkan pada kebutuhan generasi milenial saat ini.

Mengapa bisa terjadi?

Ada beberpa hal yang bisa menjadi penyebab ketidak menariknya ludruk saat ini, pertama tentang manajemen pertunjukan, pengelola pertunjukan tidak mampu ” move on ” dari situasi kemapanan yang ada, sehingga proses berkreasi menjadi mandul, kesenian ludruk menjadi statis, yang penting asal ada. Situasi inilah yang kemudian menyebabkan seolah kesenian ludruk berada dalam situasi ” Royokan Balung “.

Jumlah ludruk yang 12 itu akhirnya saling berebut balung, mereka akan berebut pengaruh untuk mendapatkan balung. Pada akhirnya akan ada yang merasa terkalahkan.

Kedua, bisa jadi fasilitas tempat berkesenian yang memang sudah tidak menarik lagi, sehingga masyarakat enggan datang, lihat fasilitas gedung ludruk di THR yang merana, sepi dan terkesan tak terurus.

BACA JUGA :

Pemerintah Perlu Turun Tangan !

Dalam situasi yang dilema bagi pelaku kesenian ludruk ini, tentu merupakan suatu keharusan, pemerintah melakukan ” campur tangan ” merubah balung menjadi daging, sehingga kesenian ludruk menikmati daging. Tidak boleh membiarkan daging hanya dinikmati oleh sekelompok orang atau bahkan penikmat daging hanya mereka yang mempunyai akses dengan kekuasaan, sementara seniman ludruk tetap merana, sehingga tak mampu melahirkan kreasi baru menjawab kebutuhan zaman.

Tugas pemerintah diharapkan bisa menjamin bahwa daging itu bisa dinikmati oleh pelaku kesenian ludruk. Caranya pemerintah mendorong berkembangnya proses kreatif para seniman ludruk serta memastikan sebaran daging bisa dinikmati oleh pelaku kesenian ludruk. Sehingga diharapkan proses kreatif itu akan melahirkan minat masyarakat untuk menikmati kesenian ludruk.

Anggaran pemerintah ” yang diibaratkan sebagai daging ” diharapkan bisa menjamin proses berkesenian. Pemerintah Kota Surabaya, melalui Erry Cahyadi, Kepala Dinas Cipta Karya sudah memberi tantangan kepada para seniman Surabaya, Jadikan Balai Pemuda sebagai ” Space ” laboratorium kebudayaan. Nah kalau dikaitkan dengan ludruk sebagai sebuah kesenian dan pertunjukan, maka Jawabannya kembali berpulang kepada para seniman ludruk, masih bisakah mereka ” Move On ” dari mental ” royokan balung ” ?

Berkaitan dengan fasilitas pertunjukan, ada baiknya para seniman juga merubah mind set berpikirnya dari gedung pertunjukan menjadi ruang pertunjukan, sehingga dimanapun mereka bisa berkesenian tanpa harus direpotkan dengan fasilitas gedung.

Semoga saja !

Surabaya, 17 Januari 2018

Penulis Pengajar di STT Malang dan Pegiat Cagar Budaya di Komunitas Bambu Runcing Surabaya ( KBRS )

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.