Bahasa Ibu dalam Kelas Bahasa Inggris: Urgensinya?

Oleh: M. Faruq Ubaidillah, S.Pd

MEPNews.id —-

“Nok nok. Siapa itu?. Bahasa Ibu”.
Dialog singkat di atas dipopulerkan oleh Nugrahenny T. Zacharias, dosen bahasa Inggris Universitas Kristen Satya Wacana Jawa Tengah. Ia menulis dalam sebuah artikel di tahun 2001, Come On in Mother Tongue: Evaluating The Role of The Mother Tongue in English Language Teaching in Indonesia, tentang betapa ‘asingnya’ bahasa ibu (native language) dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia. Ya, setidaknya ini sudah darurat.
Hingga saat ini, jika kita ingin jujur, posisi bahasa Ibu dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia (English Language Teaching in Indonesia) masih termarjinalkan. Setidaknya, fakta ini pernah diungkap oleh beberapa penelitian terhadap proses pembelajaran dan perspektif guru dan dosen bahasa Inggris (Zacharias, 2003; Floris 2013; Ubaidillah, 2015, 2017).

Hasil penelitian di atas juga secara tidak langsung menegaskan bahwa konsep monolingualisme (monolingualism) masih banyak dipraktikkan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Konsep ini menuntut guru atau dosen ketika mengajar mengunakan bahasa Inggris secara penuh—tidak memberi ruang—sama sekali untuk bahasa Ibu pembelajar.

Kondisi seperti ini perlu dievaluasi karena bahasa Inggris sendiri sebagai alat komunikasi internasional berkembang dan membutuhkan penyesuaian (appropriacy) dengan budaya dan identitas pembelajar di masing-masing negara (Crystal, 2003). Penyesuaian ini bisa dilakukan melalui kurikulum, kompetensi dan kesadaran guru dan murid, perangkat tes, dan konsep pembelajarannya di kelas. Khusus dalam kolom kali ini, penulis akan membahas isu yang terakhir, spesifiknya tentang posisi bahasa Ibu.

Penggunaan bahasa Ibu dirasa urgen dalam pembelajaran bahasa Inggris di negara-negara berkembang karena keterkaitannya dengan aspek pedagogi. Kesuksesan pemerolehan bahasa kedua (second language acqusition) adalah salah satu tujuan afirmasi bahasa Ibu dalam proses pembelajaran. Mengapa demikian?

Dalam teori pemerolehan bahasa kedua pembelajar diyakini akan lebih mudah belajar bahasa kedua (asing) jika menggunakan bahasa Ibu mereka. Langkah ini bukan tanpa alasan. Bahasa Ibu sebagai fondasi awal mereka dalam mengenal karakter linguistik bahasa kedua yang sedang dipelajari. Argumen ini didukung oleh Auerbach (1993) dan Nation (2001). Betapa tidak, pembelajar tentu harus melalui proses penerjemahan untuk dapat menangkan transisi bahasa asli mereka ke bahasa kedua yang dipelajari.
Atkinson (1987), beberapa tahun sebelumnya, mengafirmasi lebih jauh lagi, bahwa penggunaan bahasa ibu bermanfaat sebagai strategi belajar dalam proses pemerolehan bahasa kedua.

Dalam kegiatannya, seorang guru atau dosen dapat menerjemahkan kalimat dari bahasa kedua yang dipelajari ke bahasa ibu pembelajar. Hal ini dianggap lebih efektif dan aktif dalam pembelajaran. Logikanya, pembelajar akan lebih antusias mencari tahu pemahaman lebih tentang apa yang telah mereka pahami.

Alasan ketiga adalah dalam hal rasa cemas (anxiety feeling). Pembelajar yang sedang dalam proses pemerolehan bahasa kedua akan mengalami kecemasaan (anxiety) ini sehingga untuk mengatasinya perlu menggunakan bahasa ibu mereka. Pembelajar akan menemukan ‘makna’ dalam kegiatannya di kelas dengan pratik bahasa ibu yang telah mereka kuasai.
Terutama dalam kegiatan membaca, pengunaan bahasa ibu pembelajar dapat berfungsi sebagai “scaffolding” atau “faktor pembantu” dalam memahmi bacaan (Upton and Lee-Thompson, 2001). Guru atau dosen dapat menerjemahkan kosakata dan teks dalam bacaan sehingga pembelajar bisa memahami secara kognitif apa yang mereka baca, diskusikan.

Haruskah menggunakan bahasa ibu secara penuh?

Argumen-argumen di atas sama sekali tidak menegasi konsep monolingualisme yang saat ini banyak digunakan dalam kelas-kelas bahasa Inggris di Indonesia. Praktik-praktik pengunaan bahasa Inggris secara penuh tidak serta merta menghilangkan esensi dari berbahasa itu sendiri, namun perlu digaris bawahi bahwa bahasa Ibu perlu diberikan ruang secara proporsional dalam praktik pembelajaran itu sendiri.

Evaluasi ini berasal dari fakta bahwa bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah mengalami perubahan dinamis yang harus sellau disesuaikan dengan tempat dimana bahasa tersebut diajarkan (McKay, 2003).
Pengunaan bahasa ibu di negara-negara berkembang paling disoroti hingga saat ini. Beberapa argumen yang telah penulis sampaikan di atas merupakan alasan dalam aspek pedagogi yang berpengaruh dalam pembelajaran.

Pemahaman yang bijak dan proporsional, penulis rasa, akan lebih mampu menciptakan pembelajaran bahasa Inggris yang efektif untuk pembelajar dengan tetap melihat posisi bahasa ibu sebagai unsur yang juga penting di dalamnya. Jadi, tidak berlebihan jika penulis uraian bahwa bahasa ibu saat ini memang urgen untuk digunakan, bukan? ***
Penulis adalah aktivis pendidikan, sosial, dan agama.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.